Nama spesies altensteinii diberikan untuk menghormati Altenstein, seorang kanselir Jerman abad ke-19 yang juga dikenal sebagai pelindung ilmu pengetahuan — sebuah penghormatan yang tak terduga bagi tumbuhan purba asal ujung selatan Afrika ini.
Encephalartos altensteinii adalah sikas mirip palem dari famili Zamiaceae yang endemik di Afrika Selatan. Tumbuhan ini dikenal dengan berbagai nama lokal seperti breadtree, broodboom, Eastern Cape giant cycad, atau uJobane dalam bahasa Zulu. Status konservasinya menurut IUCN adalah Rentan (Vulnerable), akibat kombinasi kerusakan habitat, pemanfaatan untuk pengobatan tradisional, dan pengambilan liar oleh kolektor.
Di balik statusnya yang terancam, spesies ini menyimpan kisah panjang tentang ketahanan hidup dan hubungan erat dengan manusia, mulai dari pengobatan tradisional hingga perburuan kolektor tanaman hias.
Identifikasi dan Penampilan
Ciri paling mudah untuk mengenali Encephalartos altensteinii adalah tidak adanya duri di dasar daunnya, sebuah sifat yang membedakannya dari Encephalartos natalensis yang mirip.
Tumbuhan ini dapat tumbuh hingga tinggi 7 meter, dengan batang yang bisa bercabang atau tidak bercabang. Daunnya bisa tumbuh lurus atau melengkung ke belakang, dengan panjang mencapai 3 meter.
Anak-anak daunnya kaku dan cukup lebar, dengan salah satu atau kedua tepinya bergerigi. Tumbuhan ini biasanya menghasilkan dua hingga lima kerucut berwarna hijau kekuningan yang panjangnya bisa mencapai 50 sentimeter, dengan sisik-sisik pada kerucut betina yang dipenuhi tonjolan.
Bijinya berwarna merah menyala (scarlet) dan bisa mencapai panjang 4 sentimeter. Kerucutnya sendiri bersifat racun bagi manusia, sehingga perlu ditangani dengan hati-hati meski biji berwarna cerah tersebut tampak menarik.
Distribusi dan Habitat
Encephalartos altensteinii tersebar luas di provinsi Eastern Cape dan bagian barat daya KwaZulu-Natal di Afrika Selatan. Populasi terisolasi lainnya juga ditemukan di dataran lebih tinggi di pegunungan Amatola.
Spesies ini umumnya tumbuh di dekat pantai, mulai dari semak terbuka di lereng berbatu yang terjal hingga hutan hijau abadi yang lebat di lembah-lembah dan tepian sungai.
Data jumlah pengamatan bulanan dari GBIF hanya menunjukkan keberadaan tumbuhan ini, bukan kelimpahan atau populasi sebenarnya. Meski demikian, jumlah pengamatan tampak relatif merata sepanjang tahun, dengan sedikit peningkatan pada bulan November dan penurunan tajam pada bulan September.
Salah satu individu Encephalartos altensteinii yang tumbuh di Rumah Palem Royal Botanic Gardens, Kew, Inggris, dianggap sebagai tanaman dalam pot tertua di dunia karena telah berada di sana sejak tahun 1775. Individu lain di Rumah Kaca Lednice, Republik Ceko, diperkirakan berusia antara 300 hingga 600 tahun.

Kegunaan dan Hubungan dengan Manusia
Encephalartos altensteinii telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional di Afrika Selatan, sebuah praktik yang menjadi salah satu penyebab utama menurunnya populasi liar spesies ini.
Selain untuk pengobatan, tumbuhan ini juga sangat diminati oleh kolektor tanaman hias karena bentuknya yang khas dan usianya yang bisa sangat panjang. Permintaan dari kolektor mendorong pengambilan liar dari habitat aslinya, yang turut memperburuk status konservasinya.
Fakta Menarik
- Nama spesies altensteinii merupakan penghormatan bagi Altenstein, seorang kanselir Jerman abad ke-19 yang dikenal sebagai pelindung ilmu pengetahuan.
- Tumbuhan ini memiliki banyak sebutan lokal, termasuk breadtree, broodboom dalam bahasa Afrikaans, Eastern Cape giant cycad, dan uJobane dalam bahasa Zulu.
Status konservasi
- LC
- NT
- VU
- EN
- CR
Rentan
Ekologi
Habitat
- Pesisir
- Hutan
- Semak Belukar
- Gunung
Bentuk pertumbuhan
- Pohon



