Lewati ke konten
Lewati ke artikel

Kumbang mei

Melolontha melolontha

Kumbang mei jantan memiliki tujuh lembar pipih menyerupai daun pada antenanya, sementara betina hanya memiliki enam—sebuah bentuk dimorfisme seksual yang jarang disadari orang yang hanya melihatnya berdengung di sekitar lampu pada malam musim semi.

Melolontha melolontha, yang dikenal sebagai kumbang mei, adalah kumbang skarab asli Eropa dari keluarga Scarabaeidae. Hewan ini tidak memiliki status konservasi khusus, namun keberadaannya sangat dikenal karena perannya sebagai hama pertanian sekaligus bagian dari budaya rakyat Eropa selama berabad-abad.

Yang membuat kumbang ini menarik untuk dipelajari adalah siklus hidupnya yang rumit, melibatkan komunikasi kimiawi antara jantan dan betina serta tahapan larva yang bisa berlangsung tiga sampai empat tahun di bawah tanah.

Identifikasi dan Penampilan

Ciri paling mudah dikenali dari kumbang mei dewasa adalah kombinasi kepala dan pronotum hitam berbulu pendek dengan elitra coklat kemerahan di atas perut hitam yang sebagian putih di sisi-sisinya. Warna pronotum hitam ini membedakannya dari kerabat dekatnya, Melolontha hippocastani, yang pronotumnya berwarna coklat.

Kumbang dewasa berukuran 25 hingga 30 milimeter. Antena mereka bersegmen, dan pada bagian ujungnya terdapat lamela pipih menyerupai daun: tujuh buah pada jantan, enam pada betina.

Larvanya berkembang melalui tiga tahap selama tiga sampai empat tahun (di beberapa wilayah Eropa Timur bahkan empat tahun). Pada tahap pertama (L1) panjangnya 10–20 milimeter, tumbuh menjadi 30–35 milimeter pada tahun kedua (L2), dan mencapai 40–46 milimeter pada tahap akhir (L3). Tubuh larva berwarna putih dengan ujung perut hitam yang melengkung membentuk huruf C, berkaki panjang berbulu, serta kepala coklat besar dengan rahang kuat untuk menggali dan mengerat.

Secara genetik, M. melolontha menunjukkan diferensiasi genetik yang lebih rendah dibandingkan M. hippocastani, menandakan sejarah evolusi yang berbeda antara kedua spesies ini.

Distribusi dan Habitat

Kumbang mei tersebar luas di seluruh Eropa, terutama di wilayah beriklim sedang dengan kondisi tanah yang mendukung perkembangan larvanya. Beberapa populasi juga pernah dilaporkan di sebagian Asia, termasuk Turki dan kawasan Kaukasus.

Habitat yang disukainya adalah tanah yang lembut dan ternaungi, sering ditemukan di lahan pertanian, sabana, padang rumput, hutan, serta daerah pinggiran kota. Faktor geografis dan iklim membatasi penyebarannya; spesies ini misalnya tidak ditemukan di wilayah pegunungan Tyrol karena tidak dapat bertahan pada ketinggian tinggi dan suhu dingin Pegunungan Alpen di musim dingin.

Kumbang ini juga tidak berpindah jauh—jarak terbangnya tidak lebih dari 2 hingga 3 kilometer dari tempat kemunculannya, sehingga ia tetap berada di sekitar ladang atau padang rumput tempat ia muncul.

Pola pengamatan bulanan menunjukkan lonjakan kemunculan yang tajam pada musim semi, sejalan dengan waktu kumbang dewasa keluar dari tanah dan mulai terbang mencari pasangan serta makanan.

Peta catatan keberadaan Melolontha melolontha
Lokasi tercatat · GBIF
29.033
JanFebMarAprMeiJunJulAguSepOktNovDes
Jumlah kejadian bulanan · GBIF

Perilaku dan Gaya Hidup

Pada senja musim semi, kumbang mei jantan berdengung dan berputar-putar di sekitar pepohonan dan lampu rumah, perilaku khas yang membuatnya mudah dikenali. Beberapa individu menyerang satu pohon saja, sementara yang lain terbang mengelilingi seluruh hutan mencari makanan.

Perilaku kawinnya unik: senyawa daun hijau yang dilepaskan tumbuhan (green leaf volatiles atau GLV) berfungsi sebagai kairomon seksual yang membantu jantan menemukan pasangan, memperkuat daya tarik toluquinone, feromon seks yang dilepaskan betina. Hanya jantan yang tertarik pada GLV tertentu seperti (Z)-3-hexen-1-ol, (E)-2-hexen-1-ol, dan 1-hexanol, karena jantan lebih sensitif terhadap konsentrasi GLV yang rendah akibat perbedaan anatomi antena. Saat berkumpul untuk kawin, jantan melayang di sekitar dedaunan sementara betina tetap di ranting sambil makan, dan jantan menggunakan GLV untuk menemukan daun yang sedang dimakan betina.

Larva menghabiskan sebagian besar hidupnya menggerogoti akar tanaman, hanya berhenti untuk menggali lebih dalam ke tanah saat hibernasi musim dingin. Mereka mengandalkan struktur sensorik pada antena yang disebut lamela untuk mendeteksi karbon dioksida dan senyawa volatil dari akar tanaman yang sedang bernapas. Di dalam ususnya, larva memiliki enzim yang dapat menetralkan racun tertentu dari tanaman seperti dandelion serta racun bakteri, memungkinkannya memanfaatkan berbagai sumber makanan di bawah tanah.

Pada kepadatan di atas 1.000 larva per meter persegi, kerusakan pada tanah dan akar tanaman menjadi jelas terlihat, menunjukkan bagaimana perilaku makan larva secara langsung berdampak pada pertanian.

Makanan dan Nutrisi

Kumbang mei dewasa memakan daun pohon gugur dan pohon buah, terutama oak, maple, kastanye manis, beech, plum, dan kenari, biasanya terbang sendirian mencari makan pada bulan April dan Mei. Kumbang dewasa baru dianggap merugikan bila populasinya sangat besar.

Kerusakan paling parah justru datang dari larvanya, yang jauh lebih merusak dibandingkan kumbang dewasa. Larva menggerogoti akar kecil tanaman ladang tanpa pilih-pilih, memakan akar biji-bijian, rumput, pohon, dan bit, serta dapat berpindah sejauh 30 sentimeter dalam sehari sambil mengonsumsi bagian besar akar tanaman budidaya.

Larva hanya memakan akar tanah yang segar dan baru tumbuh, bukan bahan organik yang sudah membusuk, sehingga aktivitas makannya langsung menyasar tanaman yang masih hidup dan produktif.

Reproduksi dan Siklus Hidup

Siklus reproduksi kumbang mei dipicu oleh kombinasi hormon dan faktor lingkungan seperti waktu hari dan musim, yang merangsang sistem endokrin pada betina. Betina kemudian melepaskan feromon kuat yang dideteksi jantan melalui antenanya yang besar.

Jantan keluar dari tanah saat suhu mendukung, biasanya April atau Mei, lalu berkumpul di sekitar tepi hutan saat senja hingga gelap, sementara betina tetap di tempat dan makan daun sampai mencapai kematangan seksual. Perkawinan berlangsung beberapa jam dan biasanya terjadi akhir Mei hingga awal Juni, dengan jantan mencari pasangan selama 10 sampai 20 hari.

Setelah kawin, betina kembali ke ladang untuk bertelur sedalam 15 hingga 25 sentimeter di dalam tanah, dalam kelompok berisi 10 sampai 38 telur, dan tetap di permukaan tanah selama 2 hingga 4 hari untuk melindungi telurnya. Hanya sekitar sepertiga betina yang bertahan dari perjalanan ini, namun yang berhasil dapat melakukan perjalanan kawin kedua bahkan ketiga untuk bertelur lagi.

Telur membutuhkan waktu 5 sampai 8 hari untuk menetas pada suhu 27°C, namun bisa memakan waktu 23 sampai 32 hari pada suhu 32°C. Jantan mencapai kematangan seksual rata-rata pada usia tiga tahun.

Populasi dan Peran Ekologis

Keberadaan dan perilaku kumbang mei di lingkungan berhutan sangat dipengaruhi oleh suhu tanah, kelembapan, dan jenis tumbuhan di sekitarnya. Suhu hangat dan kelembapan tinggi cenderung mendukung kemunculan kumbang dewasa, tetapi kondisi kering justru berbahaya bagi larva karena menyebabkan desikasi.

Kumbang mei menjadi bagian penting dalam jaring makanan tanah dan hutan. Tikus mondok Eropa adalah predator alami yang memakan larvanya, mendeteksinya melalui penciuman tajam dan kemampuan menggali. Kumbang dewasa dimangsa oleh kumbang tanah dan semut, sedangkan larva di bawah tanah dimangsa oleh kumbang pegas, serta oleh burung jalak, gagak, dan camar setelah ladang dibajak.

Larva kumbang mei juga menjadi inang bagi lalat parasit Dexia rustica, yang telurnya menetas di bawah tanah dan mencari larva kumbang yang berhibernasi. Pada kedalaman sekitar 30 hingga 35 sentimeter, lebih dari 10 persen larva dapat terparasiti oleh satu hingga enam D. rustica, yang akhirnya membunuh larva tersebut pada musim semi.

Konservasi dan Ancaman

Kumbang mei tidak memiliki status konservasi khusus, baik menurut IUCN Red List, Daftar Federal Amerika Serikat, maupun CITES. Hewan ini dianggap cukup umum dan tidak menghadapi ancaman kepunahan yang tercatat.

Signifikansi Budaya

Belum ada manfaat positif bagi manusia yang secara jelas dikaitkan dengan kumbang mei. Namun anak-anak sejak zaman kuno telah bermain dengannya: anak laki-laki Yunani kuno mengikat benang linen ke kakinya dan melepaskannya untuk menyaksikannya terbang berputar, sementara anak laki-laki Inggris era Victoria menusukkan peniti ke salah satu sayapnya untuk permainan serupa. Nikola Tesla bahkan mengingat bahwa salah satu "penemuan" pertamanya di masa kecil adalah "mesin" yang dibuat dengan mengikat empat kumbang mei.

Kumbang ini juga muncul dalam dongeng seperti "Thumbelina" karya Hans Christian Andersen dan "Princess Rosette" karya Madame d'Aulnoy, serta dalam lagu anak-anak Jerman berjudul Maikäfer flieg!, yang syairnya berasal dari masa Perang Tiga Puluh Tahun ketika wilayah Pomerania dijarah habis-habisan. Lagu ini juga populer kembali di Jerman pada awal Perang Dunia II, terutama selama Pertempuran Prancis.

Empat kapal Angkatan Laut Kerajaan Inggris pernah dinamai HMS Cockchafer, dan pada masa 1750-an hingga 1780-an, hiasan gaun wanita yang menyerupai antena kumbang berbentuk kipas dikenal dengan sebutan sourcils de hanneton atau "alis kumbang mei". Di Eropa, kumbang ini bahkan pernah diolah menjadi hidangan sup.

Fakta Menarik

  1. Nama genus Melolontha pertama kali digunakan oleh Étienne Louis Geoffroy pada tahun 1762, namun otoritas nama ilmiah ini akhirnya jatuh pada publikasi Johan Christian Fabricius tahun 1775 setelah buku Geoffroy ditolak oleh Komisi Internasional Nomenklatur Zoologi.
  2. Di beberapa budaya Afrika, serangga seperti kumbang telah diteliti perannya tidak hanya sebagai makanan tetapi juga dalam ritual, sihir, seni, nyanyian, musik, tarian, permainan anak-anak, mitologi, dan sastra.
  3. Penulis Erasmus Darwin, dalam bukunya Phytologie tahun 1800, menyebutkan larva Melolontha dalam konteks penggunaan serangga oleh manusia, sejalan dengan catatan Aldrovande pada 1644 tentang serangga yang dimakan di berbagai belahan dunia, seperti semut di India dan kepompong lebah di Cina.

Foto

Foto dari via iNaturalist, licensed under CC0 1.0., by Maciej Boenisch via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Tilgate Zoo via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Barry Stewart via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Natasha March via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Frank Ashwood via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Will Taylor via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., dan by agreiner99 via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., dengan kredit pada setiap foto.

Ekologi dan klasifikasi

Perilaku

  • Nokturnal
  • Hibernasi
  • Krepuskular

Diet

  • Herbivora

Klasifikasi

Filum
Arthropoda
Kelas
Insecta
Ordo
Coleoptera
Famili
Scarabaeidae
Genus
Melolontha
Spesies
Melolontha melolontha

Sumber

  1. GBIF Species names and classification
  2. iNaturalist Photos
  3. Wikidata Common names and conservation status
  4. Wikipedia Summary extract
  5. Animal Diversity Web Animal habitat, behavior and diet