Lewati ke konten
Lewati ke artikel

Kupu-kupu putih kubis

Pieris rapae

Seekor kupu-kupu betina Pieris rapae bisa bertelur begitu banyak sehingga, menurut perkiraan, satu individu saja bisa menjadi nenek moyang jutaan keturunan dalam beberapa generasi.

Pieris rapae adalah kupu-kupu kecil hingga sedang dari famili Pieridae, dikenal luas dengan nama kupu-kupu putih kubis. Spesies ini berstatus tidak terancam dan termasuk salah satu kupu-kupu paling tersebar luas di dunia, hidup berdampingan dengan manusia di lahan pertanian maupun ruang terbuka lainnya. Keberhasilannya beradaptasi dengan lingkungan budidaya manusia menjadikannya salah satu contoh paling jelas tentang bagaimana serangga bisa menyebar mengikuti pertanian global.

Identifikasi dan Penampilan

Ciri paling mudah dikenali dari Pieris rapae adalah warna putih krem pada sisi atas sayap dengan ujung sayap depan berwarna hitam, membuatnya tampak seperti versi kecil dari kupu-kupu putih besar (Pieris brassicae). Perbedaan utama keduanya terletak pada ukuran dan corak: P. brassicae berukuran lebih besar dan memiliki pita hitam tebal di ujung sayap depan, sedangkan P. rapae lebih kecil dengan corak hitam yang lebih sederhana.

Lebar sayap kupu-kupu dewasa berkisar sekitar 32–47 mm. Betina memiliki dua bintik hitam di bagian tengah sayap depan, sementara jantan biasanya hanya memiliki satu bintik atau tidak sama sekali. Sisi bawah sayap berwarna kekuningan dengan bintik-bintik hitam halus, berbeda dari sisi atas yang lebih polos.

Karena penampilannya yang sederhana dan tidak mencolok, kupu-kupu ini kadang disalahartikan sebagai ngengat oleh orang yang tidak terbiasa mengamatinya. Individu yang muncul pada musim semi umumnya berukuran lebih kecil dengan bintik hitam yang lebih samar dibandingkan individu yang muncul pada musim panas.

Kupu-kupu ini terbang dengan frekuensi kepakan sayap rata-rata 12,8 kepakan per detik, sebuah kecepatan yang mendukung gaya terbangnya yang lincah saat mencari tanaman inang.

Distribusi dan Habitat

Pieris rapae memiliki wilayah alami yang membentang di Eropa, Asia, dan Afrika Utara, namun kini juga ditemukan luas di Amerika Utara, Hawaii, Selandia Baru, dan Australia setelah menyebar melalui introduksi tidak sengaja. Spesies ini belum tercatat mencapai Amerika Selatan.

Habitatnya sangat beragam, mulai dari padang rumput, rawa, hutan, ladang, hingga ruang terbuka lainnya, tetapi selalu berkaitan erat dengan lahan pertanian atau area yang mengandung tanaman inangnya. Spesies ini jarang ditemukan di wilayah gurun atau semi-gurun kecuali di area yang diairi irigasi, dan tidak ditemukan di utara zona kehidupan Kanada.

Di Britania Raya, kupu-kupu ini memiliki dua periode terbang, yaitu April–Mei dan Juli–Agustus, sementara di Amerika Utara ia terbang secara berkelanjutan sejak awal musim semi hingga musim gugur. Catatan pengamatan menunjukkan jumlah penampakan yang jauh lebih tinggi pada bulan-bulan pertengahan tahun, yang sejalan dengan pola musim terbang aktifnya, meskipun data ini hanya menunjukkan keberadaan, bukan kepadatan populasi sesungguhnya.

Beberapa subspesies dikenali berdasarkan wilayah, misalnya P. r. rapae di Eropa dan P. r. crucivora pada populasi di Asia.

Peta catatan keberadaan Pieris rapae
Lokasi tercatat · GBIF
1.032.498
JanFebMarAprMeiJunJulAguSepOktNovDes
Jumlah kejadian bulanan · GBIF

Perilaku dan Gaya Hidup

Kupu-kupu ini aktif di siang hari dan bersifat soliter, terbang dari musim semi hingga September, dengan masa aktif yang lebih pendek di wilayah utara dan lebih panjang di wilayah selatan. Betina yang siap bertelur menjalani tiga tahap dalam memilih tanaman inang: mencari habitat terbuka yang sesuai, mendarat berdasarkan rangsangan visual, lalu melakukan evaluasi kontak dengan "gerakan menggedor" menggunakan kaki depannya untuk merasakan permukaan daun.

Betina cenderung menghindari hutan yang sejuk dan ternaungi meskipun tanaman inang tersedia di sana, dan tidak akan bertelur saat cuaca mendung atau hujan. Mereka terbang mengikuti jalur lurus tanpa dipengaruhi arah angin atau posisi matahari saat mencari tanaman inang, berbeda dengan saat mencari nektar di mana mereka berbelok tajam di sekitar gugusan bunga. Betina dapat menjelajah dalam jarak 500 meter hingga beberapa kilometer untuk menemukan tanaman Brassicaceae yang sesuai.

Warna menjadi penentu utama saat mendarat: betina yang siap bertelur lebih menyukai warna hijau dan biru-kehijauan, khususnya permukaan yang memantulkan cahaya maksimal pada panjang gelombang 550 nanometer. Di alam, mereka cenderung memilih tanaman yang lebih besar dan berwarna hijau lebih tua meski larva sebenarnya tumbuh lebih baik di tanaman yang lebih muda.

Komunikasi

Kupu-kupu ini mengandalkan penglihatan sebagai saluran komunikasi utama, didukung oleh mata majemuk yang mampu menangkap cahaya ultraviolet, yang berguna saat memilih tanaman inang berdasarkan warna. Selain itu, mereka juga menggunakan feromon sebagai sarana komunikasi kimiawi, kemungkinan berperan dalam interaksi antarsesama jenis.

Makanan dan Nutrisi

Kupu-kupu dewasa memakan nektar, sementara larvanya atau ulat kubis memakan dedaunan tanaman inang. Kupu-kupu dewasa lebih menyukai nektar dari tanaman yang mengandung minyak mustar, dan tercatat mengisap nektar dari bunga sawi, dandelion, brokoli, kubis, kubis Brussel, kembang kol, kale, lobak pedas, semanggi merah, aster, dan mint.

Larvanya memakan bagian berdaun dari tanaman-tanaman tersebut, bahkan kadang menghabiskan daun hingga hanya menyisakan batang. Mereka paling menyukai tanaman kubis, yang menjadi asal nama umumnya. Beberapa tanaman inang yang tercatat sering dimakan larva antara lain lobak (Raphanus sativus) dan beberapa jenis dari famili sawi-sawian seperti Erucastrum gallicum dan Sinapis alba.

Secara keseluruhan, pola makan spesies ini terbagi jelas antar fase hidup: fase dewasa bersifat nektarivor tanpa merusak tanaman, sedangkan fase larva bersifat folivor yang dapat sangat merugikan tanaman inangnya.

Reproduksi dan Siklus Hidup

Betina kawin hanya sekali sebagai dewasa muda, dalam sistem perkawinan yang bersifat poligini. Proses kawin dimulai saat jantan melihat betina dan terbang zig-zag di atas, bawah, dan depan betina hingga ia mendarat; jantan kemudian menangkap sayap depan betina yang tertutup dengan kakinya dan membentangkan sayapnya sendiri, membuat betina membungkuk. Betina yang tidak berminat bisa terbang vertikal atau membentangkan sayap sambil mengangkat perutnya sebagai tanda menolak.

Betina bertelur satu per satu di sisi bawah daun, dengan total antara 300–400 butir telur sepanjang hidupnya. Telur berwarna putih dan berubah menjadi lebih kekuningan saat menua. Satu tanaman saja bisa menampung hingga 57 telur dan 48 larva sekaligus.

Usia matang kelamin tercapai pada sekitar 21 hari baik untuk jantan maupun betina. Pembiakan berlangsung musiman dari awal musim semi hingga awal musim gugur, dan tidak ada keterlibatan induk dalam merawat telur atau larva setelah bertelur. Perilaku unik lain yang tercatat adalah jantan yang melakukan "mud-puddling", yaitu menyerap natrium dari lumpur, yang diketahui meningkatkan keberhasilan reproduksinya.

Populasi dan Peran Ekologis

Kupu-kupu dewasa dan larvanya memainkan peran ekologis yang sangat berbeda meski merupakan fase hidup dari spesies yang sama. Larva, sebagai ulat kubis, dapat merusak bahkan membunuh tanaman inang akibat pola makannya yang rakus, sementara kupu-kupu dewasa hanya mengisap nektar tanpa merusak dedaunan dan justru berperan penting sebagai penyerbuk tanaman budidaya seperti kubis.

Ulat Pieris rapae kerap menjadi inang bagi berbagai parasitoid, terutama tawon braconid seperti Cotesia rubecula dan Cotesia glomerata, serta lalat seperti Phryxe vulgaris dan Epicampocera succinata. Cotesia rubecula dan Cotesia glomerata bahkan sengaja diintroduksi ke Amerika Utara dari Asia sebagai agen pengendali biologis. Pupa spesies ini juga sering diparasiti oleh Pteromalus puparum.

Selain parasitoid, kupu-kupu dewasa maupun larvanya menjadi mangsa berbagai burung pemakan serangga, termasuk kelompok burung penyanyi kecil seperti burung branjangan dan kutilang.

Konservasi dan Ancaman

Pieris rapae tidak memiliki status konservasi khusus menurut IUCN Red List, Daftar Federal Amerika Serikat, CITES, maupun daftar negara bagian Michigan, yang menunjukkan bahwa spesies ini tidak dianggap terancam.

Sebagai spesies yang sangat mudah beradaptasi dan tersebar luas mengikuti lahan pertanian manusia, keberadaannya cenderung stabil bahkan di tengah gangguan habitat, berbeda dengan banyak kupu-kupu lain yang lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan.

Signifikansi Budaya

Di Jepang, masyarakat pada masa lampau umumnya memandang Pieris rapae beserta kupu-kupu umum lain seperti kupu-kupu swallowtail Asia sebagai sosok yang membosankan namun tetap indah, karena kemunculan kupu-kupu dewasanya yang berlangsung berulang dari musim semi hingga musim gugur. Meski kupu-kupu kerap muncul dalam berbagai mitologi dunia, spesies ini tidak disebutkan dalam mitologi Jepang.

Nama genus Pieris sendiri memiliki akar dalam mitologi Yunani, sebagai salah satu nama yang diberikan kepada seorang perempuan yang menjadi ibu dari Megapenthes melalui hubungannya dengan Menelaus, raja Sparta pada zaman Mykenai.

Dalam hubungannya dengan manusia, kupu-kupu ini dikenal memberi dampak positif sebagai penyerbuk tanaman budidaya.

Fakta Menarik

  1. Kupu-kupu ini merupakan satu-satunya kupu-kupu yang diintroduksi dari Dunia Lama ke beberapa wilayah Amerika Utara, dan kini menjadi salah satu kupu-kupu paling tersebar luas di sana, bahkan hidup di habitat terganggu mulai dari permukaan laut hingga ketinggian sekitar 2.400 meter.
  2. Spesies ini mampu menembus habitat yang sebelumnya dianggap tidak cocok baginya, termasuk hutan riparian dan hutan konifer pegunungan pada musim panas.
  3. Para peneliti masih belum memastikan bagaimana atau kapan tepatnya spesies ini mencapai sejumlah wilayah tertentu di Amerika Utara.

Foto

Foto dari via iNaturalist, licensed under CC0 1.0., by Barbara Banfield via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Matt Pelikan via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by wormgirlnyc via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Roy Lowry via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by John Hepburn via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Barry Stewart via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Elizabeth Green via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Ondřej Křivan via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Emma Barrera via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Matt D'Agrosa via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Julia Henning via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Helen Bovill via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., dan by jrcagle via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., dengan kredit pada setiap foto.

Ekologi dan klasifikasi

Perilaku

  • Soliter
  • Diurnal
  • Migrasi

Diet

  • Herbivora

Klasifikasi

Filum
Arthropoda
Kelas
Insecta
Ordo
Lepidoptera
Famili
Pieridae
Genus
Pieris
Spesies
Pieris rapae

Sumber

  1. GBIF Species names and classification
  2. iNaturalist Photos
  3. Wikidata Common names and conservation status
  4. Wikipedia Summary extract
  5. Encyclopedia of Life Habitat, diet and behavior traits
  6. Animal Diversity Web Animal habitat, behavior and diet
  7. GloBI What it eats, what eats it, parasites and pollinators
  8. trophiCH
  9. Wardeh et al. 2015 (EID2)
  10. DoPI
  11. Guzman et al. 2022
  12. Schwarz et al. 2021
  13. EuPPollNet