Gnetum gnemon begitu mirip tumbuhan berbunga bahwa banyak orang mengiranya angiosperma sejati. Strobilus betinanya menyerupai buah, daunnya lebar seperti daun tumbuhan berbunga, dan strobilus jantannya sering disalahartikan sebagai bunga—padahal semua ini hasil evolusi konvergen pada spesies gymnosperma sejati.
Spesies ini termasuk dalam ordo Gnetales dan famili Gnetaceae, dengan nama umum melinjo atau belinjo di Indonesia. Daerah asalnya membentang dari Mizoram dan Assam di India, melewati Semenanjung Malaya dan Kepulauan Nusantara, hingga Filipina dan pulau-pulau di Pasifik barat. Berdasarkan penilaian IUCN, statusnya adalah Risiko Rendah (Least Concern).
Di luar keunikan botaninya, melinjo dikenal luas karena perannya dalam dapur dan tradisi masyarakat Asia Tenggara, sebuah hubungan yang akan diuraikan lebih jauh pada bagian kegunaan.
Identifikasi dan Penampilan
Ciri paling mudah dikenali dari Gnetum gnemon adalah kombinasi daun lebar mengilap dengan strobilus betina yang tampak seperti buah bertangkai, padahal secara botani ini adalah biji, bukan buah sejati. Kombinasi inilah yang membuatnya kerap disangka tumbuhan berbunga.
Berbeda dari kebanyakan spesies Gnetum lain yang berupa liana (tumbuhan merambat), Gnetum gnemon tumbuh sebagai pohon kecil hingga menengah dengan tinggi 15–22 meter dan diameter batang hingga 40 cm. Beberapa varietasnya justru berbentuk semak, misalnya brunonianum, griffithii, dan tenerum. Daunnya berukuran 8–20 cm panjang dan 3–10 cm lebar, tersusun berlawanan, tepi rata, dan bersifat evergreen (selalu hijau)—muncul pertama kali berwarna perunggu sebelum matang menjadi hijau tua mengilap.
Tumbuhan ini tidak pernah menghasilkan bunga sejati. Sebagai gantinya, ia membentuk organ penghasil spora jantan dan betina pada tangkai panjang sepanjang 3–6 cm. Strobilus jantan berukuran kecil dan tersusun dalam tangkai panjang yang sering disalahartikan sebagai bunga, sementara buah melinjo yang kita kenal sebenarnya berkembang dari strobilus betina yang telah dibuahi.
Buah oval ini berukuran 1–3,5 cm, terdiri dari kulit luar (integumen) tipis berbulu halus yang membungkus endosperma besar seperti kacang sepanjang 2–4 cm. Biji berdaging ini beratnya sekitar 5,5 gram, dengan endosperma saja seberat 3,8 gram. Warnanya berubah dari kuning menjadi oranye, ungu, atau merah muda saat matang. Musim buah di Indonesia terjadi tiga kali setahun, yaitu Maret–April, Juni–Juli, dan September–Oktober, sementara di wilayah timur laut Filipina musim buahnya terutama berlangsung Juni hingga September.
Distribusi dan Habitat
Gnetum gnemon tersebar alami mulai dari Mizoram dan Assam di India, melintasi Semenanjung Malaya dan Kepulauan Nusantara, hingga Filipina dan pulau-pulau di Pasifik barat. Wilayah jelajahnya juga mencakup Xizang tenggara dan Yunnan barat (Yingjiang Xian) di Tiongkok, serta tercatat hadir di Myanmar, Thailand, dan Vietnam.
Spesies ini ditemukan di berbagai negara Asia Tenggara dan kepulauan Pasifik, mencerminkan penyebarannya yang luas di kawasan tropis dataran rendah hingga menengah wilayah tersebut.
Data jumlah pengamatan bulanan dari GBIF menunjukkan pola yang relatif merata sepanjang tahun, dengan puncak pengamatan pada bulan Oktober (375 catatan) dan jumlah paling rendah pada Desember (173 catatan). Perlu diingat bahwa data ini hanya mencerminkan keberadaan pengamatan, bukan kelimpahan populasi atau gambaran lengkap wilayah persebarannya, sehingga pola musiman ini sebaiknya dibaca sebagai indikasi kasar saja.

Kegunaan dan Hubungan dengan Manusia
Hampir seluruh bagian Gnetum gnemon dapat dimakan. Bijinya dikonsumsi dengan cara direbus, dipanggang, atau bahkan mentah di sebagian besar wilayah Asia Tenggara dan Melanesia. Daun mudanya, strobilus jantan (yang sering disebut keliru sebagai "bunga"), serta daging luar buahnya juga dimakan setelah dimasak, tersebar di Indonesia, Filipina, Thailand, Vanuatu, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Fiji—biasanya diolah menjadi sup atau tumisan dengan rasa sedikit asam.
Di Indonesia, melinjo memegang peran sentral dalam kuliner. Bijinya digunakan untuk sayur asem dan diolah menjadi keripik mentah yang kemudian digoreng menjadi kerupuk bernama emping. Emping memiliki rasa sedikit pahit dan sering disajikan sebagai camilan pendamping hidangan Indonesia lainnya.
Di wilayah Aceh, tanaman ini dibudidayakan secara luas dan dianggap sebagai sayuran bergengsi. Strobilus jantan, daun muda, dan strobilus betinanya menjadi bahan utama kuah pliek, gulai sayur tradisional yang disajikan pada acara-acara adat penting seperti khanduri dan keureudja. Di Kabupaten Pidie, kaum perempuan memetik buah matang berkulit merah untuk diolah menjadi keureupuk muling.
Fakta Menarik
- Nama genus Gnetum dicetuskan oleh Carl Linnaeus pada tahun 1767, diambil dari nama lokal Maluku "ganema" atau "gnemo" untuk pohon ini, sebagaimana didokumentasikan oleh naturalis Georg Eberhard Rumphius dalam karyanya Herbarium Amboinense yang terbit antara 1741–1750.
- Ada juga catatan lain yang menyebut nama Gnetum berasal dari kata Latin "gnetus" yang berarti "menyatu", sementara nama spesies gnemon dikaitkan dengan kata Melayu "gandung"—perbedaan asal-usul ini menunjukkan bahwa etimologi pastinya masih diperdebatkan.
- Selain dikenal karena bijinya yang dapat dimakan, Gnetum gnemon juga tercatat menghasilkan serat yang bermanfaat, menjadikannya tumbuhan dengan banyak kegunaan di luar konsumsi pangan.
Status konservasi
- LC
- NT
- VU
- EN
- CR
Risiko Rendah
Ekologi
Bentuk pertumbuhan
- Pohon



