Ketika kuncup putihnya pecah, Clathrus archeri menampilkan empat hingga delapan lengan merah muda cerah yang menyerupai jari-jari raksasa mekar dari tanah, lengkap dengan bau bangkai menyengat yang memancing lalat berdatangan. Perubahan bentuk yang dramatis ini terjadi begitu cepat, menjadikan jamur ini salah satu penampakan paling mengejutkan di lantai hutan atau taman kota.
Clathrus archeri adalah jamur dari famili Phallaceae, ordo Phallales, yang pertama kali dideskripsikan pada tahun 1859 dari spesimen asal Tasmania dan menerima nama binomial yang digunakan sekarang pada tahun 1980. Asal-usul alaminya masih diperdebatkan, dengan Australia, Selandia Baru, dan Afrika disebut sebagai kemungkinan wilayah asli, sementara jamur ini kini juga ditemukan menyebar luas di Eropa dan Amerika Utara.
Kombinasi siklus hidup dua tahap yang unik, penampilan menyerupai tentakel gurita, dan strategi penyebaran spora lewat serangga membuat spesies ini dikenal luas oleh masyarakat umum, meski keberadaannya kerap mengejutkan siapa pun yang menemukannya secara tak terduga.
Tubuh Buah dan Identifikasi
Ciri paling khas Clathrus archeri adalah pertumbuhannya dalam dua tahap yang benar-benar berbeda. Tahap pertama muncul sebagai struktur menyerupai telur berwarna putih, berbentuk bulat hingga oval, dengan tinggi sekitar 3–4 cm, dan ditopang oleh miselium menyerupai benang di bagian dasarnya.
Dari telur ini muncul empat hingga delapan lengan berwarna merah muda yang dapat memanjang hingga 10 cm. Permukaan atas setiap lengan dilapisi gleba penghasil spora berwarna hijau kecoklatan gelap yang berubah menjadi hitam saat mengering. Tubuh buah jamur ini sangat berumur pendek, hanya bertahan sekitar satu hingga dua hari sebelum layu.
Secara mikroskopis, spora C. archeri berbentuk elips, licin, dan berukuran 3,5–6 x 1,5–2 mikrometer. Bau busuk menyengat yang dihasilkan gleba merupakan hasil evolusi konvergen dengan sejumlah bunga sapromiofilus yang juga meniru bau bangkai untuk menarik serangga. Dalam kondisi laboratorium, jamur ini tumbuh paling optimal pada suhu 26°C di media agar kompos dengan pH 6,0, dengan talus tumbuh radial hingga 2,9 mm per hari selama empat minggu. Miselium yang awalnya putih berangsur berubah warna menjadi merah muda, sementara permukaan hifanya menghasilkan kristal kalsium oksalat yang diduga membentuk lapisan hidrofobik pelindung.
Spesies ini kadang tertukar dengan Aseroe rubra. Perbedaannya terletak pada ukuran tubuh buah C. archeri yang lebih besar dan gleba yang menutupi hampir seluruh permukaan lengan, sedangkan pada Aseroe rubra gleba hanya terbatas di bagian tengah. Lengan C. archeri juga umumnya tebal dan tidak menyatu, meski ujung-ujungnya kadang tampak menyatu sebelum mencapai kematangan penuh.
Distribusi dan Habitat
Wilayah asal Clathrus archeri masih diperdebatkan para peneliti. Pietras dkk. (2021) serta Johnson & Jürgens (2010) menyebut Afrika, Australia, dan Selandia Baru sebagai kemungkinan wilayah distribusi aslinya. Mikolog Selandia Baru, Jerry Cooper, menyatakan bahwa spesies ini kemungkinan diperkenalkan ke Selandia Baru dari Australia, dan pada tahun 1930-an jamur ini masih dianggap jarang ditemukan di kedua negara tersebut. Cooper bahkan berpendapat bahwa mungkin saja baik Australia maupun Selandia Baru bukan merupakan wilayah asli spesies ini.
Sejak awal abad ke-20, C. archeri telah menyebar ke benua lain. Penemuan pertama di Eropa tercatat pada tahun 1914 di Britania Raya dan Prancis, kemungkinan terbawa melalui impor wol dari Australia atau perbekalan selama Perang Dunia I. Dari Prancis, jamur ini menyebar ke Belgia, kemudian ke Austria, Jerman, Swiss, dan Italia, serta telah tercatat pula di Bosnia dan Herzegovina, Ceko, Kroasia, Polandia, Slovenia, Rumania, dan Ukraina. Jamur ini juga ditemukan di Amerika Selatan dan Madagaskar, dan penyebarannya yang meluas membuatnya berpotensi dikategorikan sebagai spesies invasif menurut definisi International Union for Conservation of Nature.
Sebagai saprotrof, C. archeri tumbuh dengan menguraikan bahan organik mati. Jamur ini dapat ditemukan pada berbagai jenis tanah, terutama pada mulsa dan serasah hutan, namun cenderung menghindari tanah berkapur. Di Australia dan Selandia Baru, jamur ini kerap tumbuh pada sisa kayu pohon Eucalyptus dan Nothofagus, sementara di kawasan urban seperti taman dan pekarangan, penyebarannya diduga terjadi melalui serpihan kayu dan mulsa yang diangkut manusia. Secara umum, spesies ini lebih menyukai tanah yang asam dan lembap.
Data pengamatan bulanan dari GBIF menunjukkan lonjakan jumlah pengamatan pada periode Agustus hingga November, dengan puncak tertinggi pada bulan Oktober (sekitar 4.134 pengamatan) sebelum menurun tajam pada Desember (538 pengamatan). Pola ini konsisten dengan musim berbuah di wilayah beriklim sedang pada musim gugur, meski data tersebut hanya mencatat keberadaan pengamatan dan bukan indikator kelimpahan populasi atau cakupan wilayah distribusi yang lengkap.

Ekologi dan Hubungan
Clathrus archeri berperan sebagai saprotrof yang menguraikan bahan organik mati, termasuk mulsa, serasah hutan, dan sisa kayu lapuk. Melalui proses ini, jamur berkontribusi pada daur ulang nutrisi di lantai hutan maupun taman kota tempat ia sering ditemukan.
Hubungan paling khas jamur ini terjalin dengan serangga. Bau busuk menyengat dari gleba menarik lalat dari famili Calliphoridae, Muscidae, dan Sarcophagidae, yang kemudian memakan gleba tersebut. Spora yang ikut tertelan akan berkecambah setelah dikeluarkan bersama kotoran serangga, sebuah strategi penyebaran yang menggantikan peran angin pada banyak jamur lain.
Tidak ada bukti bahwa spesies ini menjalin hubungan mikoriza dengan akar tumbuhan atau bersifat parasitik; perannya dalam ekosistem sepenuhnya sebagai pengurai bahan organik.
Kegunaan dan Sejarah Budaya
Tidak ditemukan bukti kuat bahwa Clathrus archeri pernah digunakan untuk tujuan ritual atau tradisi tertentu. Dalam banyak folklor, jamur berbau busuk seperti ini umumnya dihindari atau justru dipandang sebagai pertanda buruk dan simbol pembusukan, sebuah pandangan yang sejalan dengan penampilan menyeramkan dan aroma tak sedap dari spesies ini.
Fakta Menarik
- Nama genus Clathrus berasal dari bahasa Latin yang berarti kisi atau sangkar, merujuk pada susunan lengan menyerupai kisi pada banyak spesies dalam genus ini.
- Nama spesies archeri diberikan untuk menghormati William Archer (1820–1874), naturalis dan arsitek asal Tasmania yang mengumpulkan spesimen tipe jamur ini pada pertengahan abad ke-19.
- Di Britania Raya dan sebagian Eropa, jamur ini dikenal dengan sebutan yang berarti 'jari-jari iblis', menggambarkan kesan cakar iblis yang muncul dari dalam tanah.
- Penyebarannya yang meluas sebagai spesies pendatang membuat para peneliti di Kroasia menelusuri sejarah masa lalu, kini, dan masa depan jamur ini sebagai spesies asing di negara tersebut.
Ekologi
Habitat
- Hutan
- Kawasan Berhutan
- Perkotaan
- Tanah Terganggu



