Di Eropa, jamur Cuphophyllus flavipes tumbuh terutama di padang rumput tua yang tidak diperbaiki secara pertanian. Ia termasuk jamur berlamela dalam famili Hygrophoraceae dan tersebar luas di Eropa, meski jumlahnya tidak banyak.
Karena habitatnya bergantung pada padang rumput yang belum diubah, jamur ini kini digolongkan rentan (VU) oleh IUCN. Spesies ini layak dipelajari karena menunjukkan betapa eratnya kelangsungan hidup jamur padang rumput dengan cara manusia mengelola lahan.
Tubuh Buah dan Identifikasi
Ciri yang paling andal untuk mengenali jamur ini adalah pangkal tangkainya yang berwarna kuning, berbeda dengan bagian atas tangkai yang putih keabu-abuan. Tubuh buahnya berbentuk jamur berlamela dengan tinggi hingga 60 mm.
Tudungnya berbentuk kerucut lebar hingga rata atau sedikit cekung saat membuka, dengan lebar hingga 40 mm. Permukaannya halus, sedikit licin saat lembap, dan berwarna abu-abu hingga cokelat keabu-abuan.
Lamelanya tebal, berlilin, dan turun menyusuri tangkai, berwarna pucat hingga abu-abu gelap. Tangkainya halus dan tidak memiliki cincin. Cetakan spora berwarna putih, dengan spora licin berbentuk elips sekitar 6 sampai 7,5 μm kali 5 sampai 6 μm.
Distribusi dan Habitat
Jamur ini tersebar di seluruh Eropa, tetapi jumlah kemunculannya relatif sedikit. Habitat utamanya adalah padang rumput pendek yang sudah tua dan tidak diolah secara pertanian, seperti pastura dan lapangan rumput.
Jamur ini paling sering muncul pada musim gugur, terutama pada September dan Oktober. Pada Februari dan Maret, hampir tidak ada kemunculan yang tercatat.
Penelitian terbaru menunjukkan jamur waxcap, termasuk spesies ini, bukan mikoriza dan bukan pengurai. Jamur ini mungkin berhubungan dengan lumut yang tumbuh di padang rumput yang sama.

Konservasi dan Ancaman
Menurut IUCN Red List of Threatened Species, Cuphophyllus flavipes berstatus rentan (VU). Status ini berarti spesies menghadapi risiko kepunahan yang tinggi di alam jika ancaman terhadapnya terus berlanjut.
Ancaman utamanya adalah perubahan praktik pertanian di padang rumput tua. Ketika lahan dipupuk, diolah, atau diubah penggunaannya, habitat yang dibutuhkan jamur ini ikut hilang.
Padang rumput tua yang tidak diolah secara intensif menjadi kunci kelangsungan spesies ini di Eropa.
Fakta Menarik
- Genus Cuphophyllus pertama kali dideskripsikan pada 1985 oleh mikolog Prancis Marcel Bon. Nama genus ini berarti berlamela melengkung.
- Sebelum dipindahkan ke genus Cuphophyllus, spesies ini termasuk genus Hygrocybe, yang berarti kepala berair, karena jamur dalam kelompok ini selalu sangat lembap.
Foto
Foto dari via iNaturalist, licensed under CC0 1.0., by ionafraser via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Mark Breaks via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by David Callender via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Ben Deed via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Dave via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Tomos Hughes via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Patrick Bayan via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., dan by betony13 via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., dengan kredit pada setiap foto.
Ekologi dan klasifikasi
Habitat
Klasifikasi
- Filum
- Basidiomycota
- Kelas
- Agaricomycetes
- Ordo
- Agaricales
- Famili
- Hygrophoraceae
- Genus
- Cuphophyllus
- Spesies
- Cuphophyllus flavipes
Sumber
- GBIF Species names and classification
- iNaturalist Photos
- Wikidata Common names and conservation status
- Wikipedia Summary extract



