Lewati ke konten
Lewati ke artikel

Lactarius sanguifluus

Belum ada nama umum tercatat

Jamur Lactarius sanguifluus mengeluarkan getah berwarna merah darah hingga ungu ketika tubuh buahnya terluka atau terpotong. Getah itu perlahan berubah kehijauan begitu terkena udara.

Spesies ini termasuk famili Russulaceae. Tudungnya berwarna jingga hingga merah kecokelatan dan menjadi berbentuk corong seiring bertambahnya usia. Bilahnya berwarna merah muda hingga keunguan.

Jamur ini menarik dibaca karena termasuk jamur liar yang paling dihargai oleh pemburu dan pecinta kuliner. Di sisi lain, ia mudah tertukar dengan kerabat yang tampak serupa.

Tubuh Buah dan Identifikasi

Ciri paling andal dari Lactarius sanguifluus adalah getahnya yang merah darah hingga ungu saat tubuh buahnya terluka. Getah ini membedakannya dari banyak jamur lain.

Tudungnya cembung dengan lekukan di tengah, berdiameter sekitar 4–7,5 cm. Permukaannya halus dan agak lengket, dan tepinya tetap melengkung ke bawah meski jamur sudah dewasa. Warnanya merah muda kecokelatan hingga jingga, kadang dengan bercak abu-abu atau hijau keabuan pucat, terutama pada bagian yang memar.

Bilahnya agak rapat, menempel pada tangkai atau sedikit turun di sepanjang tangkai. Warnanya merah anggur pucat dengan tepi merah muda kecokelatan pucat. Tangkainya berbentuk silinder, panjang sekitar 2–3,5 cm dan tebal 1–2 cm, dengan permukaan halus berwarna merah muda kecokelatan pucat dan kadang bintik cokelat tak beraturan.

Daging jamur ini bertekstur dari keras hingga rapuh. Di tangkai dagingnya lunak dan merah muda kecokelatan pucat, sedangkan di bawah kulit tudung berwarna merah bata. Rasanya dari tawar hingga agak pahit, dan aromanya hampir tidak ada.

Secara mikroskopis, spora berbentuk hampir bulat hingga elips dan memiliki ornamen permukaan yang membentuk jala hampir lengkap. Spesies yang mirip adalah Lactarius vinosus, yang dulu dianggap varietasnya. L. vinosus memiliki warna merah anggur tanpa nuansa jingga pada tudung, tangkai, dan bilah, tangkainya menyempit ke bawah dengan lebih jelas, serta noda getahnya lebih pekat pada jaringan tudung. Pada spora, jala L. vinosus tidak lengkap.

Jenis lain yang perlu diwaspadai adalah L. semisanguifluus. Getahnya berwarna jingga dan berubah merah anggur dalam 5–10 menit setelah terkena udara. Tubuh buahnya lebih kecil, tudungnya memiliki sedikit rona ungu, dan seiring usia muncul warna kehijauan.

Distribusi dan Habitat

Lactarius sanguifluus hidup di tanah dan bersimbiosis dengan akar pohon pinus, sebagai jamur ektomikoriza. Tubuh buahnya tumbuh di tanah berkapur di hutan pinus.

Di Himalaya barat India, tepatnya di Himachal Pradesh, jamur ini tumbuh luas di hutan konifer campuran, biasanya di bawah paku Onychium contiguum. Di Eropa bagian selatan, sebarannya luas. Di sana jamur ini berbuah antara September dan November, dan di wilayah paling selatan benua bisa hingga Desember.

Di Eropa, jamur ini juga ditemukan di Belgia, Estonia, Yunani, Siprus, Prancis, Jerman, Italia, Luksemburg, Belanda, Polandia, Rusia, Spanyol, Slowakia, Swedia, dan Swiss. Di Afrika, spesies ini ditemukan di Maroko. Di Asia, ia ada di Vietnam dan Tiongkok. Di Belanda, jamur ini pernah ditemukan di bukit pasir berkapur, di tepi hutan pinus yang hangat dan terlindung.

Pengamatan paling sering terjadi pada Oktober, disusul November dan September. Pola ini mengikuti musim berbuahnya di Eropa.

Jamur ini terdaftar dalam Buku Data Merah Ukraina. Di Spanyol, draf daftar merah menggolongkannya sebagai spesies terancam yang rentan, karena pengambilan liar yang tidak terkendali. Sebuah laporan surat kabar tahun 1998 menyebut 82,5 kg jamur ini disita dari sebuah van di Poligny.

Peta catatan keberadaan Lactarius sanguifluus
Lokasi tercatat · GBIF
1.079
JanFebMarAprMeiJunJulAguSepOktNovDes
Jumlah kejadian bulanan · GBIF

Kegunaan dan Sejarah Budaya

Di kalangan pemburu jamur dan pecinta kuliner, Lactarius sanguifluus termasuk jamur liar yang paling dihargai. Paulet, yang pertama kali mendeskripsikannya, menyebut jamur ini sangat berharga bagi mereka yang mengenalnya.

Di Spanyol, jamur ini dihargai sebagai hidangan istimewa dalam masakan Katalan, dengan nama níscalos dalam bahasa Spanyol dan rovelló dalam bahasa Katalan. Jamur ini dijual di pasar pedesaan di Prancis, Spanyol, Turki, dan Provinsi Yunnan di Tiongkok. Penduduk setempat juga mengumpulkannya di lembah hulu Sungai Serchio di Italia tengah.

Di Siprus, jamur ini disebut dengan nama yang berarti yang berdarah, dan dikumpulkan secara luas oleh warga setempat, meski dianggap lebih rendah dari susu jamur saffron (Lactarius deliciosus). Di India, jamur muda dikonsumsi bersama L. deliciosus, dan sebagian orang menilai rasanya lebih baik dari kerabatnya yang lebih terkenal.

Fakta Menarik

  1. Dalam cerita rakyat Eropa Timur, sekresi kemerahan jamur ini dianggap simbolis dan kadang dikaitkan dengan gagasan puitis tentang alam yang berdarah.
  2. Nama Siprus untuk jamur ini berarti yang berdarah, merujuk langsung pada warna getahnya.

Foto

Foto dari by Nico Hernandez via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., via iNaturalist, licensed under CC0 1.0., by Umut Nuri Erdoğan via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Yves Bas via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Manuela Fiorini via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Lucian Clanet via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by victor laborde via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Daniel Ghyselinck via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by vuikaan via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., dan by Vasco Henrique Oliveira Fonseca via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., dengan kredit pada setiap foto.

Ekologi dan klasifikasi

Klasifikasi

Filum
Basidiomycota
Kelas
Agaricomycetes
Ordo
Russulales
Famili
Russulaceae
Genus
Lactarius
Spesies
Lactarius sanguifluus

Sumber

  1. GBIF Species names and classification
  2. iNaturalist Photos
  3. Wikidata Common names and conservation status
  4. Wikipedia Summary extract