Empat dari sepuluh orang dewasa sehat membawa Candida albicans di dalam saluran cerna atau mulut mereka tanpa pernah menyadarinya, namun ragi yang sama ini juga tercatat menyebabkan kematian pada hingga 40% pasien dengan infeksi sistemik. Kontras ini menjadikan Candida albicans salah satu mikroorganisme oportunistik paling dipelajari dalam dunia medis.
Candida albicans adalah ragi anggota filum Ascomycota, kelas Saccharomycetes, yang secara alami hidup sebagai organisme komensal di tubuh manusia dan juga dapat bertahan di luar tubuh inangnya. Spesies ini merupakan salah satu dari sedikit anggota genus Candida yang diketahui menyebabkan kandidiasis, infeksi yang muncul akibat pertumbuhan berlebih ragi ini, terutama pada individu dengan imunitas yang lemah.
Yang membuat spesies ini layak dipelajari lebih jauh adalah kemampuannya berubah bentuk secara drastis sesuai kondisi lingkungan, serta perannya sebagai penyebab utama infeksi terkait alat medis implan dan biofilm di rumah sakit di seluruh dunia.
Tubuh Buah dan Identifikasi
Ciri paling khas Candida albicans bukanlah bentuk tunggal, melainkan kemampuannya berganti wujud secara ekstrem, yang disebut polifenisme. Dalam bentuk ragi standar, selnya berbentuk oval dengan ukuran 10 hingga 12 mikron, tumbuh sebagai sel tunggal ketika dikultur di media laboratorium biasa.
Perubahan suhu, kadar karbon dioksida, nutrisi, atau pH yang sekecil apa pun dapat memicu pergeseran morfologi menjadi bentuk filamen, yakni hifa sejati maupun pseudohifa. Sel bentuk ragi lebih cocok untuk menyebar melalui aliran darah, sedangkan sel hifa bersifat invasif dan diduga berperan penting dalam menembus jaringan, mengkolonisasi organ, serta melarikan diri dari makrofag.
Selain transisi ragi-ke-hifa, Candida albicans juga mengenal sistem pergantian fenotipe lain, termasuk peralihan warna koloni dari putih ke opak yang bersifat epigenetik, serta sistem pergantian frekuensi tinggi yang dapat menghasilkan hingga tujuh morfologi koloni berbeda pada satu galur, seperti galur 3153A. Gen SIR2, yang juga dikenal pada ragi roti Saccharomyces cerevisiae, tampak penting dalam mengatur pergantian fenotipe ini. Dalam kondisi tidak menguntungkan seperti musim kering atau panas, spesies ini juga dapat membentuk spora bertahan yang disebut klamidospora pada pseudohifanya.
Distribusi dan Habitat
Data observasi yang tercatat memperlihatkan pola musiman sepanjang tahun, dengan jumlah pengamatan tertinggi terjadi pada Agustus, September, dan Oktober, masing-masing 249, 268, dan 309 catatan, sementara bulan Maret hingga Mei mencatat jumlah terendah, berkisar 64 hingga 91 catatan. Perlu diingat bahwa data ini hanya mencerminkan keberadaan yang tercatat, bukan kelimpahan, ukuran populasi, atau sebaran alami spesies secara lengkap.
Karena Candida albicans umumnya hidup sebagai anggota flora normal saluran cerna dan mulut manusia, sebagian besar keberadaannya kemungkinan tercatat dari sampel klinis maupun lingkungan yang berkaitan dengan aktivitas manusia, bukan dari survei ekologi di alam liar.

Siklus Hidup
Siklus hidup Candida albicans yang paling dipelajari terjadi melalui pembentukan biofilm, yang berlangsung dalam empat tahap. Tahap pertama adalah perlekatan awal, ketika sel berbentuk ragi menempel pada substrat. Pada tahap perantara, sel-sel berkembang menjadi koloni mikro dan membentuk tabung kuman yang berkembang menjadi hifa. Tahap pematangan ditandai dengan perluasan biomassa biofilm, penumpukan matriks ekstraseluler, dan meningkatnya resistensi terhadap obat. Pada tahap akhir, sel berbentuk ragi dilepaskan dari biofilm untuk mengkolonisasi lingkungan sekitarnya, dan sel yang terlepas ini memiliki sifat baru berupa virulensi dan toleransi obat yang lebih tinggi.
Proses pembentukan hifa dalam biofilm diatur oleh faktor transkripsi Zap1, yang juga dikenal sebagai Csr1 atau Sur1. Zap1 mengendalikan keseimbangan antara sel ragi dan sel hifa, serta mengatur transporter seng Zrt1 dan Zrt2 yang masing-masing memindahkan ion seng dengan afinitas tinggi dan rendah. Pengaturan kadar seng ini penting bagi kelangsungan hidup sel, karena kadar yang terlalu tinggi justru bersifat toksik bagi sel itu sendiri.
Ekologi dan Hubungan
Candida albicans menjalin hubungan yang kompleks dengan sistem imun inangnya, terutama melalui kemampuannya meloloskan diri dari makrofag. Ketika ditelan oleh makrofag, ragi ini melakukan transisi dari bentuk ragi menjadi hifa di dalam fagosom yang asam, menyebabkan membran fagosom meregang hingga akhirnya pecah dan melepaskan sel yang bersangkutan.
Perlekatan pada sel epitel inang dimungkinkan oleh protein permukaan bernama Hwp1 (Hyphal Wall Protein 1), yang terletak pada dinding hifa. Hwp1 berfungsi sebagai substrat bagi enzim transglutaminase milik inang, sehingga memungkinkan Candida albicans menempel secara stabil pada jaringan sebelum melanjutkan proses kolonisasi dan infeksi mukosa.
Selama pembentukan hifa, spesies ini juga melepaskan candidalysin, sebuah peptida toksik sitolitik sepanjang 31 asam amino yang berkontribusi pada virulensi infeksi mukosa. Pada infeksi vagina, gen PRA1 (pH-regulated antigen) meningkat aktivitasnya, dan ekspresinya berkaitan dengan naiknya konsentrasi sitokin proinflamasi di jaringan yang terinfeksi.
Kegunaan dan Sejarah Budaya
Dampak Candida albicans terhadap sistem kesehatan sangat besar secara finansial, karena kandidiasis dikategorikan sebagai infeksi terkait perawatan rumah sakit yang paling sering, berada di posisi ketiga hingga keempat secara global. Di Amerika Serikat saja, sekitar 60.000 kasus kandidiasis sistemik setiap tahun menimbulkan biaya antara 2 hingga 4 miliar dolar AS, sebagian besar disebabkan oleh masa rawat inap yang lebih lama, bisa mencapai tambahan 21 hari dibandingkan pasien yang tidak terinfeksi.
Dalam wacana populer, Candida albicans sering dikaitkan dengan mitos bahwa infeksi ragi ini hanya menyerang perempuan, sebuah anggapan yang keliru mengingat kandidiasis dapat menyerang siapa pun tanpa memandang jenis kelamin.
Fakta Menarik
- Candida albicans bertanggung jawab atas 80-90% kasus kandidiasis mukosa, termasuk sariawan mulut dan infeksi vagina.
- Meski sering dijuluki sebagai infeksi ragi khas perempuan, kandidiasis akibat spesies ini sebenarnya dapat menyerang siapa pun tanpa memandang jenis kelamin.
- Dokter umum biasanya baru mencurigai kandidiasis ketika infeksinya terlihat jelas, seperti pada sariawan mulut atau infeksi vagina, meski gejala yang ditimbulkan bisa jauh lebih luas.



