Citah mampu berlari hingga 93–104 km/jam, menjadikannya mamalia darat tercepat di planet ini. Kecepatan ini didukung oleh otot paha belakang yang sangat kuat, tungkai panjang, dan tulang belakang yang lentur — sebuah paket adaptasi evolusi yang dirancang khusus untuk mengejar mangsa dalam kecepatan tinggi.
Acinonyx jubatus adalah satu-satunya anggota genus Acinonyx yang masih hidup, tergolong dalam famili Felidae dan ordo Carnivora. Spesies ini tersebar di sabana, padang rumput, serta wilayah gurun dan pegunungan gersang di Afrika, dengan populasi kecil yang masih bertahan di Iran. Status konservasinya menurut IUCN adalah Rentan (Vulnerable).
Tubuhnya yang ramping berbintik hitam dan garis air mata khas di wajah membuatnya mudah dikenali, tetapi di balik penampilan itu tersembunyi serangkaian adaptasi fisiologis ekstrem yang menjadikan citah salah satu pemburu paling khusus di dunia kucing besar.
Identifikasi dan Penampilan
Ciri paling mudah dikenali dari citah adalah sekitar 2.000 bintik hitam bulat atau oval berukuran 3–5 cm yang tersebar rata di seluruh tubuhnya, dipadukan dengan garis hitam menyerupai jejak air mata yang mengalir dari sudut mata hingga ke mulut. Kombinasi ini tidak dimiliki kucing besar lain.
Tinggi bahu citah berkisar 67–94 cm dengan panjang tubuh (tanpa ekor) antara 1,1 dan 1,5 meter. Berat dewasa bervariasi antara 21 dan 65 kg, dengan salah satu data mencatat rata-rata sekitar 38,4 kg; berat badan dipengaruhi usia, kesehatan, lokasi, jenis kelamin, dan subspesies. Betina berukuran lebih kecil daripada jantan.
Bentuk tubuhnya kurus dan menyerupai anjing, sangat kontras dengan tubuh berotot tebal anggota genus Panthera atau puma. Kepalanya kecil dan bulat dengan moncong pendek serta telinga kecil berwarna tawny dengan bercak hitam di bagian belakang. Di leher dan bahu terdapat surai pendek dan kasar setebal minimal 8 cm, lebih menonjol pada jantan; pada anak citah, surai ini berupa jubah rambut biru-keabuan yang panjang dan berfungsi sebagai kamuflase. Ekornya panjang, 60–80 cm, dengan dua pertiga bagian depan berbintik dan sepertiga akhir bercincin gelap serta berujung rumbai putih.
Macan tutul yang sekilas mirip memiliki pola tutul berbentuk mawar (rosette), bukan bintik padat, dan tidak memiliki garis air mata. Serval juga menyerupai citah, tetapi bintik-bintiknya menyatu membentuk garis-garis di bagian punggung.
Distribusi dan Habitat
Citah kini terutama ditemukan di sabana terbuka Afrika timur dan selatan, seperti Kalahari dan Serengeti. Di Afrika tengah, utara, dan barat, ia menghuni pegunungan dan lembah gersang, termasuk pegunungan tinggi di Sahara yang menerima curah hujan lebih banyak dibanding gurun sekitarnya sehingga mampu menyokong populasi antelop mangsanya. Populasi kecil juga bertahan di dataran berbukit gurun Iran pada ketinggian 2.000–3.000 meter, wilayah dengan curah hujan tahunan di bawah 100 mm dan vegetasi semak jarang setinggi kurang dari 1 meter.
Citah cenderung kurang selektif terhadap habitat dibanding kucing besar lain, tetapi menyukai kawasan dengan mangsa berlimpah, jarak pandang luas, dan risiko minimal bertemu predator besar lain. Kawasan terbuka dengan sedikit semak dianggap ideal karena memungkinkannya mengintai dan mengejar mangsa dari jarak jauh. Spesies ini jarang masuk hutan tropis, meski pernah tercatat pada ketinggian 4.000 meter. Kepadatan populasinya tergolong sangat rendah, hanya 0,3 hingga 3,0 individu dewasa per 100 km², sekitar 10–30% dari kepadatan singa atau macan tutul di kawasan yang sama.
Pada masa prasejarah, citah tersebar luas di seluruh Afrika serta Asia barat dan tengah. Kini ia telah lenyap dari sebagian besar wilayah jelajah historisnya; pada 2017, citah hanya menghuni sekitar 9% dari jelajah lamanya di Afrika, sebagian besar di lahan tak terlindungi. Di India, populasinya merosot sejak abad ke-19 dan tiga individu liar terakhir dibunuh pada 1947; penampakan terkonfirmasi terakhir adalah seekor citah yang tenggelam di sebuah sumur dekat Hyderabad pada 1957. Di Iran, populasi yang sempat stabil pada 1950-an kembali menyusut tajam setelah Revolusi Iran 1979 dan Perang Iran-Irak akibat menurunnya mangsa.
Data pengamatan bulanan menunjukkan jumlah catatan tertinggi pada Juli dan Agustus, namun angka ini hanya mencerminkan frekuensi pengamatan, bukan kepadatan populasi atau jelajah lengkap spesies.

Perilaku dan Gaya Hidup
Citah bersifat diurnal, paling aktif sejak subuh hingga tengah hari dengan aktivitas menurun sepanjang siang dan sedikit meningkat lagi saat senja. Pola ini membantu menghindari predator besar di kawasan yang sama, seperti di Delta Okavango. Namun suhu ekstrem dapat mengubah kebiasaan ini: di lahan pertanian Namibia dan Botswana serta di Sahara, tempat suhu siang bisa mencapai 43°C, citah menjadi lebih aktif pada malam hari, dan aktivitasnya juga meningkat pada malam terang bulan.
Betina hidup menyendiri atau bersama anak-anaknya di wilayah jelajah yang tidak dipertahankan; anak betina biasanya tetap dekat dengan induknya sepanjang hidup, sedangkan jantan muda meninggalkan wilayah induknya. Jantan yang bersifat teritorial sering membentuk koalisi seumur hidup, umumnya terdiri dari saudara sekandung, meski di Serengeti sekitar 30% anggota koalisi tidak memiliki hubungan darah. Koalisi menandai wilayahnya dengan menyemprotkan urine, mencakar tanah dengan kaki belakang, mencakar pohon, merebahkan rumput, atau meninggalkan feses di titik-titik menonjol.
Ukuran koalisi sangat menentukan keberhasilan dalam perebutan wilayah antar kelompok jantan, sehingga koalisi besar cenderung mempertahankan wilayahnya lebih lama. Jantan tanpa wilayah (disebut floater atau nomad) bergerak cepat, jarang menetap lebih dari beberapa hari di satu tempat, buang air lebih jarang, dan cenderung bergerak setelah gelap untuk menghindari jantan teritorial.
Predator besar seperti singa dan hyena tutul dapat membunuh citah atau merampas hasil buruannya; di Serengeti, citah kehilangan sekitar 4% hasil buruannya kepada hyena tutul. Citah kadang mencoba mempertahankan buruannya dengan vokalisasi mengancam dan serangan tiruan, dan induk citah tercatat mengusir macan tutul yang mengancam anaknya.
Komunikasi
Citah memiliki beragam suara untuk berkomunikasi. Chirp (atau 'stutter-bark') adalah panggilan pendek menyerupai kicau burung yang muncul saat citah bersemangat, misalnya di sekitar hasil buruan, atau digunakan induk untuk memanggil anaknya yang tersembunyi. Versi yang lebih keras, disebut yelp, dapat terdengar hingga 2 km dan dipakai induk serta anak untuk saling menemukan. Churr adalah panggilan bernada tinggi dan tersendat yang muncul dalam konteks serupa dengan chirp. Citah juga mendengkur keras sebagai tanda nyaman atau sapaan, serta mengeluarkan suara agonistik seperti mengembik, mendesis, menggeram, atau mengeong ketika tertekan atau berhadapan dengan predator yang merampas buruannya.
Penandaan aroma menjadi sarana komunikasi penting karena citah sebagian besar bersifat menyendiri. Jantan menyemprotkan urine pada batang pohon, tunggul, atau batu yang menonjol, lalu citah lain akan mengendus dan mengulang ritual ini. Betina menandai lebih jarang, tetapi penandaan urine meningkat tajam saat memasuki masa estrus, yang dapat menarik jantan dari jarak jauh.
Sentuhan dan sinyal visual juga digunakan: pertemuan sosial melibatkan saling mengendus mulut dan area genital, saling menjilati wajah, serta menggosokkan pipi. Garis air mata di wajah membantu memperjelas ekspresi pada jarak dekat, sementara cincin gelap-terang pada ekor induk diduga membantu menuntun anaknya untuk mengikuti.
Berburu dan Makanan
Berbeda dengan kucing besar lain yang mengendap dan menerkam dari jarak sangat dekat, citah justru melancarkan serangan dari jarak 70 hingga 100 meter dari mangsanya. Tingkat keberhasilan menurun tajam jika serangan dimulai dari lebih dari 200 meter, dan kejaran biasanya tidak berlangsung lebih dari 500 meter karena citah, meski mampu berlari 80–112 km/jam, tidak dapat mempertahankan kecepatan itu lebih dari beberapa ratus meter sebelum tubuhnya kepanasan.
Setelah menyusul mangsanya, citah menjatuhkannya dengan hentakan kaki depan, lalu mencekik lehernya dengan gigitan pada tenggorokan hingga mati lemas — teknik yang juga digunakan banyak kucing liar lain.
Mangsa utamanya adalah ungulata berukuran kecil hingga menengah, terutama gazel Thomson, ditambah impala dan ungulata muda dari spesies besar. Saat mangsa ideal sulit didapat, citah beralih ke hewan kecil seperti kelinci dan burung.
Sebagian besar upaya berburu citah berakhir gagal, mencerminkan betapa besar risiko energi yang dipertaruhkan dalam setiap kejaran kecepatan tinggi ini.
Reproduksi dan Membesarkan Anak
Citah bersifat poligini-poliandri (promiscuous): jantan hanya berinteraksi dengan betina saat kawin dan tidak memberikan perawatan pada anak, sementara betina hidup menyendiri dan dapat kawin dengan lebih dari satu jantan dalam satu masa estrus. Betina bersifat poliestrus dan merupakan ovulator terinduksi dengan siklus estrus rata-rata 12 hari, bervariasi dari 3 hari hingga sebulan. Kematangan seksual betina tercapai pada usia 13–16 bulan, tetapi kelahiran pertama biasanya baru terjadi pada usia dua hingga tiga tahun; jantan dapat kawin sebelum usia dua tahun di penangkaran, namun di alam liar sering tertunda hingga memiliki wilayah sendiri.
Perkawinan dimulai tanpa ritual pacaran yang rumit: jantan mendekati betina yang berbaring, langsung memegang tengkuknya, dan kopulasi berlangsung; pasangan kemudian kawin lagi tiga hingga lima kali sehari selama dua hingga tiga hari berikutnya sebelum berpisah.
Setelah masa kehamilan sekitar 90–95 hari, betina melahirkan di tempat tersembunyi seperti vegetasi lebat, dengan interval kelahiran 20–25 menit antar anak. Ukuran litter di alam liar rata-rata 2,1–2,6 ekor, meski tercatat hingga 6 ekor, sementara di penangkaran bisa mencapai 8 ekor. Anak yang baru lahir bersifat altricial: mata tertutup, hampir tidak bisa bergerak, dan baru membuka mata setelah 4–11 hari, dengan berat lahir 250–300 gram di alam liar.
Induk menyembunyikan anaknya di vegetasi lebat, rawa, atau singkapan batu selama sekitar delapan minggu, memindahkannya setiap lima hingga enam hari, dan tetap berburu sendirian untuk memberi makan mereka. Anak mulai disapih antara usia 3 dan 6 bulan dan baru benar-benar mandiri pada usia 15–17 bulan. Kematian akibat predator adalah penyebab utama kematian anak, mencapai 58,3% di Serengeti dan 88,9% di Taman Nasional Lintas Batas Kgalagadi. Untuk melatih kemampuan berburu, induk menangkap dan melepaskan kembali mangsa hidup di depan anak-anaknya.
Populasi dan Peran Ekologis
Peran ekologis citah dalam ekosistemnya belum banyak diketahui secara pasti. Catatan yang tersedia hanya menyebutkan bahwa fungsi spesies ini dalam jaring makanan Afrika relatif belum dipahami secara mendalam dibanding predator besar lain seperti singa atau macan tutul.
Konservasi dan Ancaman
Citah berstatus Rentan (Vulnerable) menurut IUCN Red List, dan telah masuk daftar spesies Endangered (Terancam Punah) di seluruh wilayah jelajahnya menurut US Fish and Wildlife Service sejak 2 Juni 1970. Spesies ini juga masuk Appendix I CITES. Meski demikian, kuota buru tahunan tetap diizinkan di Zimbabwe (50 ekor), Namibia (150 ekor), dan Botswana (5 ekor).
Ancaman terbesar bagi citah adalah kehilangan dan fragmentasi habitat, terutama akibat perluasan lahan pertanian dan industri serta invasi tumbuhan berkayu di Afrika selatan. Berkurangnya mangsa dan konflik dengan manusia menjadi ancaman besar berikutnya: sekitar 76% wilayah jelajah citah berada di lahan tak terlindungi, membuatnya sering diburu peternak di Namibia yang ingin melindungi ternak. Perdagangan satwa liar ilegal juga menjadi masalah di beberapa negara seperti Etiopia, sementara kematian akibat tertabrak kendaraan tercatat di kawasan Kalmand, Touran, dan Bafq di Iran. Keragaman genetik yang rendah akibat peristiwa bottleneck evolusioner membuat citah lebih rentan terhadap penyakit, meski risiko ini dianggap relatif kecil karena kepadatan populasinya yang rendah mengurangi peluang penularan.
Sejak awal 1970-an, sejumlah program konservasi telah dibentuk untuk melindungi citah, seperti De Wildt Cheetah and Wildlife Centre di Afrika Selatan (1971) dan Cheetah Conservation Fund di Namibia (1990) yang mengoperasikan laboratorium genetika citah satu-satunya di dunia di Otjiwarongo, serta program restorasi habitat Bushblok. Di tingkat internasional, Range Wide Conservation Program for Cheetah and African Wild Dogs dimulai pada 2007, dan citah berhasil direintroduksi ke Malawi pada 2017. Di Iran, Conservation of Asiatic Cheetah Project dimulai pada 2001, dan pemerintah menetapkan 31 Agustus sebagai Hari Citah Nasional pada 2006.
Status konservasi
- LC
- NT
- VU
- EN
- CR
Rentan
Signifikansi Budaya
Citah telah dijinakkan secara individual untuk berburu sejak zaman Mesir Kuno, Sumeria, dan Asiria, praktik yang berlanjut selama sekitar 4.300 tahun tanpa pernah menjadikannya hewan peliharaan turun-temurun. Julukan 'macan tutul pemburu' (hunting leopard) muncul karena kebiasaan ini; bangsawan Eropa dan India kemudian juga menggunakan citah untuk berburu, membawanya dalam keadaan berkerudung seperti elang sebelum dilepas saat buruan terlihat. Kaisar Mughal Akbar (1556–1605) dikabarkan memelihara hingga 1.000 citah kekaisaran.
Penggambaran citah muncul dalam seni dari berbagai zaman dan wilayah: lukisan gua Chauvet di Prancis (32.000–26.000 SM), ukiran batu di Twyfelfontein, Namibia, relief kuil Deir el-Bahari terkait ekspedisi ke Punt pada masa Ratu Hatshepsut, mosaik Romawi di Lod, Israel, hingga lukisan dari Dinasti Tang dan figur makam dari era Kubilai Khan di Tiongkok. Di Mesir Kuno, dewi Mafdet kadang digambarkan sebagai citah.
Di Iran, citah asiatik (Acinonyx jubatus venaticus) dikenal dengan nama Yuz dalam bahasa Persia dan menjadi motif berulang dalam budaya, mitologi, dan puisi setempat.
Fakta Menarik
- Nama genus Acinonyx diperkirakan berasal dari kata Yunani akaina ("duri") dan onyx ("cakar").
- Meski dijinakkan secara individual sejak zaman kuno untuk berburu, citah tidak pernah benar-benar didomestikasi menjadi hewan peliharaan turun-temurun.
- Citah memiliki sinus frontal terbesar di antara semua kucing, yang diduga membantu mendinginkan udara yang dihirup saat berlari kencang.
- Individu melanistik pernah terlihat di Zambia dan Zimbabwe, dan seekor citah bermotif tabby tercatat difoto di Kenya pada 2012.
- Otot paha belakang citah 50% lebih berat dari perkiraan untuk mamalia berkaki empat seukurannya, jauh melebihi proporsi pada singa atau harimau.
- Citah kurang efisien menggunakan oksigen dibanding mamalia lain; volume mitokondria pada serat ototnya hanya 3,7%, dibanding 6,5–10,7% pada anjing dan kuda poni.
- Kelompok ahli klasifikasi kucing IUCN mengakui empat kemungkinan subspesies citah setelah menggabungkan A. j. raineyi dan A. j. jubatus menjadi satu subspesies.
Ekologi
Diet
- Karnivora
Perilaku
- Predator
- Soliter
- Teritorial
- Diurnal
Habitat
- Gunung
- Padang Rumput
- Sabana
- Gurun
Foto
SumberGBIFiNaturalistWikidataWikipediaEncyclopedia of LifeAnimal Diversity WebAnAge


