Lewati ke konten
Lewati ke artikel

Singa

Panthera leo

Rentan

Singa jantan dewasa bisa dikenali dari surai tebal yang menutupi kepala, leher, hingga dada, sebuah ciri yang tidak dimiliki kucing besar lain. Panthera leo adalah anggota keluarga Felidae yang kini hanya ditemukan di Afrika sub-Sahara dan satu populasi kecil di India, dengan status konservasi Rentan menurut IUCN.

Sebagai satu-satunya kucing besar yang hidup berkelompok, singa memiliki struktur sosial yang kompleks dan cara hidup yang membedakannya dari kerabatnya, harimau. Perilaku sosial dan sejarahnya yang panjang bersama manusia menjadikannya salah satu hewan paling dikenal di dunia.

Identifikasi dan Penampilan

Ciri paling mencolok pada singa jantan dewasa adalah surainya yang tumbuh ke bawah dan ke belakang, menutupi kepala, leher, bahu, hingga dada, biasanya berwarna coklat kecoklatan dengan semburat kuning, karat, atau hitam. Surai ini mulai tumbuh saat memasuki masa remaja dan mencapai ukuran penuh sekitar usia empat tahun; singa Asia umumnya memiliki surai yang lebih jarang dibanding singa Afrika.

Tubuh singa berotot dan berdada lebar, dengan kepala pendek dan bulat serta telinga bundar; singa jantan memiliki kepala yang lebih lebar dibanding betina. Bulunya bervariasi dari krem terang, abu-abu keperakan, kuning kemerahan, hingga coklat gelap, dengan bagian bawah tubuh yang cenderung lebih terang. Anak singa yang baru lahir memiliki bintik-bintik gelap yang memudar saat dewasa, meski jejaknya kadang masih terlihat di kaki dan perut.

Ekor singa berakhir dengan jambul rambut gelap yang menyembunyikan semacam "taji" keras sepanjang sekitar 5 milimeter; jambul ini baru berkembang pada usia sekitar 5,5 bulan dan mudah dikenali pada usia 7 bulan. Berat rata-rata singa tercatat sekitar 98 kg, dan di antara kucing besar, singa hanya kalah ukuran dari harimau. Struktur rahang bawah menjadi penanda paling andal untuk membedakan tengkorak singa dari harimau, karena tumpang tindih ukuran tengkorak antara kedua spesies ini cukup besar.

Distribusi dan Habitat

Singa memiliki toleransi habitat yang luas, dari padang rumput savana Afrika Timur hingga hamparan pasir Gurun Kalahari, meski semak tebal, belukar, dan rerumputan tinggi menjadi habitat optimal karena menyediakan perlindungan untuk berburu dan bersarang. Populasi liar tercatat hingga ketinggian 4.240 meter di Pegunungan Bale, Ethiopia, jauh lebih tinggi dari kesan umum bahwa singa hanya penghuni dataran rendah.

Di Afrika, singa kini tersebar dalam populasi-populasi yang terpisah di sabana dengan curah hujan tahunan 300 hingga 1.500 mm, wilayah yang diperkirakan mencakup hingga 3.390.821 km² pada masa lampau. Singa jarang memasuki hutan tertutup, meski populasi sisa masih ditemukan di hutan tropis lembab Afrika Barat dan hutan pegunungan Afrika Timur. Singa punah dari Afrika Utara pada tahun 1960-an, kecuali di bagian selatan Sudan.

Satu-satunya populasi singa Asia yang bertahan kini hanya ada di dan sekitar Taman Nasional Gir di Gujarat, India, dengan habitat berupa hutan sabana kering dan hutan belukar gugur yang sangat kering. Secara historis, singa pernah menghuni wilayah yang jauh lebih luas, dari Kaukasus, Levant, hingga Asia Barat Daya, sebelum punah secara bertahap sejak abad ke-10 hingga pertengahan abad ke-20.

Peta catatan keberadaan Panthera leo
Lokasi tercatat · GBIF
2.176
JanFebMarAprMeiJunJulAguSepOktNovDes
Jumlah kejadian bulanan · GBIF

Perilaku dan Gaya Hidup

Singa adalah kucing liar paling sosial, hidup dalam kelompok yang disebut pride dengan struktur fission-fusion, artinya anggota pride sering datang dan pergi dan jarang berkumpul semua sekaligus. Ukuran pride bisa berkisar 2 hingga 40 ekor, dengan rata-rata sekitar 13 hingga 15 ekor di Taman Nasional Kruger dan Serengeti, terdiri dari beberapa betina dewasa, hingga empat jantan, dan anak-anak mereka.

Betina umumnya tinggal seumur hidup di wilayah kelahirannya dan tidak menunjukkan perilaku dominasi terhadap sesama betina, sementara jantan justru sangat agresif terhadap sesama anggota pride, terutama saat makan. Jantan remaja meninggalkan pride kelahirannya sekitar usia 2,5 tahun, menjalani kehidupan nomaden selama dua hingga tiga tahun sebelum membentuk koalisi, biasanya dengan saudara kandung, untuk merebut kendali pride lain.

Singa menghabiskan sekitar dua puluh jam sehari untuk beristirahat, dengan aktivitas memuncak setelah senja untuk bersosialisasi, dan berburu paling sering terjadi pada malam hingga dini hari. Wilayah jelajah berkisar 20 hingga 400 km², tergantung kepadatan mangsa yang tersedia.

Komunikasi

Singa menggunakan kombinasi sinyal visual, suara, sentuhan, dan aroma untuk berkomunikasi. Auman menjadi bentuk komunikasi akustik utama, dapat terdengar hingga jarak 8 km dan digunakan untuk menandai wilayah, berkomunikasi dengan anggota pride, serta menunjukkan agresi terhadap singa musuh; singa jantan mulai mengaum pada usia 1 tahun dengan suara yang lebih dalam dan lebih keras dibanding betina.

Secara visual, surai membantu memberi sinyal jenis kelamin dan kebugaran individu dari jarah jauh, sementara ekspresi wajah seperti "flehmen response", mulut terbuka dengan gigi terlihat dan hidung berkerut, digunakan saat mengendus sinyal kimiawi. Singa jantan dan kadang betina menandai wilayah dengan menyemprotkan urine dan menggaruk tanah atau benda, sebuah bentuk komunikasi kimiawi dan visual sekaligus.

Dalam interaksi damai, singa saling menggosokkan kepala dan menjilat satu sama lain sebagai bentuk sapaan setelah berpisah atau setelah konflik, sementara anak singa berkomunikasi dengan suara mengeong dan merengek.

Berburu dan Makanan

Singa berburu dalam kelompok, namun pembunuhan mangsa biasanya dilakukan oleh satu individu saja. Betina melakukan sebagian besar perburuan karena jantan yang lebih mencolok karena surainya lebih sulit mendekati mangsa tanpa terdeteksi, meski jantan tetap lebih agresif saat makan walau jarang membunuh mangsanya sendiri. Perburuan berkelompok meningkatkan keberhasilan secara nyata: penelitian di Serengeti menunjukkan singa yang berburu sendirian berhasil 17% dari usahanya, sementara perburuan kelompok berhasil 30% dari usahanya.

Mangsa utama singa Afrika adalah ungulata besar yang paling umum di suatu wilayah, seperti gazelle Thomson, zebra, impala, dan wildebeest, dengan beberapa pride mengincar mangsa yang lebih besar seperti kerbau Cape dan jerapah. Di Serengeti, tujuh spesies, zebra, wildebeest, gazelle Thomson, kerbau, babi hutan, hartebeest, dan topi, menyumbang 90% dari makanan singa setempat.

Singa yang tidak mampu menangkap mangsa besar akan memakan burung, hewan pengerat, ikan, telur burung unta, amfibi, dan reptil. Mereka juga aktif menjadi pemakan bangkai, mengambil petunjuk dari hyena dan burung nasar untuk menemukan sisa bangkai.

Reproduksi dan Membesarkan Anak

Singa kawin sepanjang tahun dan bersifat poligini, dengan puncak perkawinan pada musim hujan. Jantan pertama dari pride yang mencapai betina yang sedang estrus mendapatkan keutamaan kawin; perkawinan berlangsung sangat intensif, sekitar 2,2 kali per jam selama periode estrus empat hari, meski hanya satu dari lima siklus estrus yang menghasilkan anak.

Setelah masa kebuntingan sekitar 3,5 bulan atau 110 hari, betina melahirkan satu hingga enam anak, dengan rata-rata tiga ekor, di tempat tersembunyi seperti semak lebat atau gua, jauh dari pride. Anak yang baru lahir memiliki berat 1 hingga 2 kg, matanya terbuka sekitar hari ke-11, mulai berjalan pada usia 15 hari, dan mampu berlari pada usia satu bulan. Induk memindahkan anaknya ke sarang baru beberapa kali sebulan untuk menghindari penumpukan aroma yang bisa menarik predator.

Anak baru diperkenalkan kembali ke pride sekitar usia 6 hingga 8 minggu, dan disapih antara usia 7 hingga 10 bulan, meski tetap bergantung pada anggota pride dewasa setidaknya hingga usia 16 bulan. Betina dalam pride yang sama sering menyerentakkan siklus reproduksinya dan menyusui anak satu sama lain tanpa membeda-bedakan, sebuah strategi yang menurunkan angka kematian anak.

Pengambilalihan pride oleh koalisi jantan baru sering berujung pembunuhan anak-anak yang masih menyusu dari jantan sebelumnya, karena betina baru menjadi subur kembali begitu anaknya mati atau dewasa. Betina kadang berhasil melindungi anaknya jika beberapa induk dalam pride bersatu melawan jantan penyerbu.

Populasi dan Peran Ekologis

Singa berperan sebagai predator puncak di wilayah jelajahnya, meski sejauh mana mereka mengatur populasi mangsanya masih belum jelas; beberapa penelitian menunjukkan ketersediaan pakan berperan lebih besar dalam mengatur populasi mangsa dibanding pemangsaan oleh singa itu sendiri.

Perburuan singa oleh manusia sudah berlangsung sejak zaman kuno, sering menjadi tradisi kerajaan untuk menunjukkan kekuasaan raja atas alam, seperti yang tercatat pada prasasti Mesir kuno sekitar 1380 SM yang menyebut Firaun Amenhotep III membunuh 102 singa dalam sepuluh tahun. Pada abad ke-19, perburuan singa didorong karena dianggap hama, dengan kulitnya dijual demi keuntungan, sebuah pola yang berlanjut hingga kontroversi perburuan trofi modern.

Konservasi dan Ancaman

Singa berstatus Rentan pada Daftar Merah IUCN, dengan populasi Afrika turun 30 hingga 50 persen pada paruh kedua abad ke-20 akibat penyakit dan gangguan manusia; pada tahun 1975 diperkirakan jumlahnya telah berkurang separuh menjadi 200.000 ekor atau kurang, dan perkiraan tahun 2002-2004 menunjukkan populasi liar antara 16.500 hingga 47.000 ekor.

Populasi singa Afrika Barat kini terisolasi dari populasi Afrika Tengah dan berstatus Kritis, dengan sekitar 400 individu pada 2015, kurang dari 250 di antaranya dewasa, bertahan terutama di kompleks kawasan lindung W-A-P yang dibagi antara Benin, Burkina Faso, dan Niger. Singa Asia, yang hanya bertahan di Taman Nasional Gir dan sekitarnya di India, berstatus Terancam sejak 2008, dengan populasi yang tumbuh dari sekitar 180 ekor pada 1974 menjadi sekitar 650 ekor pada sensus 2017, meski isolasi geografisnya berisiko menurunkan keragaman genetik.

Ancaman utama meliputi konflik dengan manusia akibat pemangsaan ternak, hilangnya koridor penghubung antar kawasan lindung yang mengancam keberlanjutan genetik, serta degradasi habitat. Strategi Konservasi Singa yang disusun pada 2005 untuk Afrika Barat-Tengah dan Timur-Selatan berupaya menjaga habitat, memastikan basis mangsa yang cukup, serta mengurangi fragmentasi populasi.

Rentan

Signifikansi Budaya

Singa telah lama menjadi simbol kekuatan dan kerajaan di berbagai budaya dunia, tampil menonjol sebagai simbol dan dewa dalam agama-agama kuno. Beberapa pemimpin bahkan menyandang nama "singa", seperti Sundiata Keita dari Kerajaan Mali yang dijuluki "Singa Mali", dan Richard si Hati Singa dari Inggris.

Dalam budaya Afrika sub-Sahara, singa sering muncul dalam cerita, peribahasa, dan tarian, meski jarang digambarkan dalam seni visual; dalam bahasa Swahili, singa disebut simba, yang juga berarti "agresif", "raja", dan "kuat". Di sebagian Afrika Barat dan Timur, singa dikaitkan dengan penyembuhan, dianggap sebagai penghubung antara peramal dan dunia gaib.

Reputasi singa sebagai pelindung juga merambah budaya populer, tampil sebagai simbol perlindungan dalam bentuk patung di pintu masuk bangunan atau maskot tim olahraga, sementara surai jantan yang mencolok menjadikannya lebih sering direpresentasikan dibanding betina, meski betina juga penting sebagai simbol penjaga.

Fakta Menarik

  1. Diperkirakan singa harus kawin sekitar 3.000 kali untuk setiap anak yang berhasil bertahan hidup lebih dari satu tahun.
  2. Ekor singa menyembunyikan sebuah "taji" keras kecil sepanjang sekitar 5 milimeter yang fungsinya masih belum diketahui.
  3. Singa memiliki otot rangka yang membentuk 58,8% dari berat tubuhnya, persentase tertinggi di antara mamalia.
  4. Di Taman Nasional Pendjari, hampir semua singa jantan tidak memiliki surai atau hanya memiliki surai yang sangat pendek.
  5. Sebuah studi tahun 2025 mengidentifikasi empat tahap dalam rangkaian auman singa: mengerang, auman penuh, auman antara yang lebih pendek dan dalam, serta dengusan.

Foto

Foto dari by Luciano Massa via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., via iNaturalist, licensed under CC0 1.0., by Kimberly via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Cael Marquard via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by jk6000 via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., dan by Patrick Jackson via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., dengan kredit pada setiap foto.

Ekologi dan klasifikasi

Diet

  • Karnivora

Perilaku

  • Nokturnal
  • Predator
  • Teritorial
  • Sosial

Klasifikasi

Filum
Chordata
Kelas
Mammalia
Ordo
Carnivora
Famili
Felidae
Genus
Panthera
Spesies
Panthera leo

Sumber

  1. GBIF Species names and classification
  2. iNaturalist Photos
  3. Wikidata Common names and conservation status
  4. Wikipedia Summary extract
  5. Encyclopedia of Life Habitat, diet and behavior traits
  6. Animal Diversity Web Animal habitat, behavior and diet
  7. AnAge Longevity