Beberapa individu Emys orbicularis diketahui dapat hidup hingga 120 tahun, menjadikannya salah satu kura-kura berumur paling panjang di dunia.
Spesies ini adalah kura-kura air tawar dari famili Emydidae yang hanya ditemukan secara alami di kawasan Palearktik Barat, membentang dari Eropa selatan hingga Asia Barat. Berdasarkan penilaian IUCN, statusnya adalah Nyaris Terancam (Near Threatened), mencerminkan tekanan yang terus meningkat terhadap habitat perairan tawar di seluruh jangkauannya.
Kisah Emys orbicularis menarik karena sejarah geografisnya yang berubah drastis: dahulu tersebar hingga Inggris dan Swedia selatan pada masa pascaglasial, kini populasinya menyusut dan bergantung pada upaya reintroduksi di beberapa negara.
Identifikasi dan Penampilan
Ciri paling mudah dikenali dari Emys orbicularis adalah kombinasi karapas gelap berbintik dengan kepala dan kaki yang dihiasi totol-totol kuning cerah, kontras dengan plastron berwarna kekuningan.
Ukuran panjang karapas lurusnya sangat bervariasi antarpopulasi, berkisar dari 12 hingga 38 sentimeter, tergantung wilayah geografis tempat mereka hidup. Karapasnya berwarna cokelat tua hingga kehitaman dengan semburat kehijauan, sementara plastron di bagian bawah tubuh cenderung polos kekuningan.
Terdapat dimorfisme seksual yang jelas: jantan dewasa selalu berukuran lebih kecil dibanding betina. Plastron jantan yang lebih kecil memberi mereka mobilitas lebih besar, sedangkan betina menunjukkan variasi morfologi tengkorak dan kepala yang diduga berkaitan dengan perbedaan kebiasaan mencari makan.
Suhu lingkungan selama masa pertumbuhan turut memengaruhi laju pertumbuhan, ukuran tubuh akhir, dan bahkan ukuran kopling telur, sehingga populasi dari wilayah yang berbeda bisa tampak cukup berbeda satu sama lain meski berasal dari spesies yang sama.
Distribusi dan Habitat
Emys orbicularis tersebar di Eropa selatan, tengah, dan timur, sebagian Asia Barat, serta beberapa area Mediterania di Afrika Utara. Di Prancis, hanya tersisa enam populasi berukuran signifikan dan jumlahnya terus menurun, menjadikan spesies ini reptil paling terancam di negara tersebut. Di Swiss, spesies ini sempat punah pada awal abad ke-20 sebelum direintroduksi pada tahun 2010. Pada periode pascaglasial awal, jangkauannya jauh lebih luas, mencapai Swedia selatan dan Britania Raya; upaya reintroduksi percobaan kini sedang dilakukan di kawasan East Anglian Fens, Brecks, dan Broads di Inggris. Populasi juga tercatat di kawasan Setomaa, Estonia, pada tahun 2004, sementara di Sardinia bukti fosil dari zaman Pleistosen menunjukkan kehadiran spesies ini, meski bukti molekuler menunjukkan populasi modern di pulau tersebut sebenarnya diperkenalkan manusia pada masa yang lebih baru.
Habitat utamanya adalah berbagai badan air tawar seperti kolam, danau, sungai berarus lambat, dan kanal drainase, beberapa di antaranya bisa mengering total selama musim panas. Kura-kura ini paling menyukai perairan luas yang bergerak lambat dengan dasar lunak berupa lumpur atau pasir, dikelilingi vegetasi lebat, serta area berpasir di sekitarnya untuk bersarang. Individu muda lebih menyukai perairan dangkal dengan kedalaman hingga 50 sentimeter. Spesies ini bersifat semi-akuatik dan hanya keluar dari air untuk berjemur atau bersarang, meski perjalanan daratnya bisa mencapai 1 kilometer, bahkan sesekali hingga 4 kilometer dari sumber air.
Data jumlah pengamatan bulanan menunjukkan lonjakan tajam pada Mei dan Juni, dengan angka tertinggi di bulan Juni. Pola ini kemungkinan menandakan periode aktivitas permukaan yang lebih tinggi pada musim semi hingga awal musim panas, namun angka pengamatan semata-mata mencerminkan keberadaan yang tercatat, bukan ukuran populasi maupun kelimpahan sesungguhnya.

Perilaku dan Gaya Hidup
Aktivitas hariannya berpusat pada kebiasaan berjemur: kura-kura ini bisa berbaring diam dengan tubuh terentang di atas batu atau tepian sungai untuk waktu yang lama. Saat berada di dalam air, mereka mengintai mangsa hanya dengan mengangkat hidung dan mata ke permukaan, atau bersembunyi di antara vegetasi air yang mengapung.
Ketika suhu turun pada musim dingin, Emys orbicularis menghibernasi dengan mengubur diri dalam lumpur dan tidak muncul kembali hingga akhir musim semi. Pola makan mereka pun menurun seiring turunnya suhu, dan spesies ini diketahui melakukan migrasi regional serta pergerakan aktif mencari makan sesuai perubahan musim.
Secara sosial, jantan menunjukkan hierarki dominasi yang jelas, terutama selama musim kawin, disertai perilaku teritorial dan agonistik ketika bersaing mendapatkan makanan. Perilaku ini melibatkan gerakan seperti menjulurkan kepala, mengangguk-angguk, dan menggigit, serta postur dominan maupun submisif. Meski begitu, orang dewasa juga membentuk ikatan pasangan dan hidup dalam kelompok kecil.
Di alam liar, spesies ini sangat pemalu dan berhati-hati terhadap keberadaan manusia, sangat berbeda dengan sifatnya di penangkaran, di mana ia bisa menjadi sangat jinak.
Komunikasi
Selama musim kawin, Emys orbicularis mengeluarkan suara siulan pendek yang khas. Suara lain yang tercatat meliputi siulan panjang, kicauan, dan erangan, yang biasanya muncul dalam situasi penuh tekanan.
Selain suara, gerakan kepala juga digunakan sebagai sinyal komunikasi visual, kemungkinan berperan dalam ritual kawin maupun interaksi sosial lainnya.
Secara keseluruhan, spesies ini mengandalkan kombinasi sinyal visual, sentuhan, suara, dan kemungkinan juga penciuman kimiawi untuk berinteraksi dengan sesamanya.
Berburu dan Makanan
Emys orbicularis berburu dengan cara menyergap dari dalam air: ia menyerang mangsa dengan gigitan cepat menyamping menggunakan kepalanya, lalu mencabik-cabik tubuh mangsa dengan cakar tajam di kaki depannya. Mangsa umumnya harus bergerak agar berhasil ditangkap, sehingga perburuannya sangat bergantung pada gerakan aktif korban di dalam air.
Sebagai karnivora generalis, menu utamanya terdiri dari cacing, serangga, katak, dan ikan, dengan kebiasaan makan yang terutama berlangsung di dalam air. Pola makannya berubah seiring pertumbuhan tubuh: individu yang lebih besar mampu menangkap dan memakan mangsa yang berukuran lebih besar pula.
Di penangkaran, kura-kura ini terkadang beralih memakan buah dan sayuran, sebuah perilaku yang jarang terjadi pada populasi liarnya yang tetap bergantung pada mangsa hewani bergerak.
Bersarang dan Berkembang Biak
Setelah ikatan pasangan terbentuk, proses percumbuan dan perkawinan berlangsung di area berpasir atau tersembunyi di antara dedaunan. Betina mencapai kematangan seksual pada usia 5 hingga 6 tahun, dan setelahnya mampu kawin serta bertelur berulang kali sepanjang musim kawin yang berlangsung dari musim semi hingga awal musim panas.
Untuk bersarang, betina memilih lokasi dengan tanah keras yang bebas dari rerumputan dan vegetasi lebat, lalu membasahi tanah tersebut sebelum menggunakan ekornya yang kaku untuk mengebor lubang sedalam sekitar 12 sentimeter. Kaki belakangnya digunakan untuk menggali lubang lebih lanjut, dan sekitar delapan hingga sepuluh butir telur berbentuk memanjang, keras, dan berwarna putih, dengan panjang 15 hingga 25 milimeter, diletakkan dalam satu lapisan di dasar lubang. Setelah itu, betina menutup lubang dengan tanah yang sama, memadatkannya, lalu meninggalkan sarangnya begitu saja tanpa penjagaan lebih lanjut. Betina dapat menghasilkan beberapa kelompok telur dalam satu musim.
Masa inkubasi berlangsung sekitar 90 hingga 100 hari, dengan waktu penetasan yang bervariasi menurut lokasi dan kondisi musiman. Beberapa embrio bahkan menghabiskan musim dingin di dalam telurnya dan baru menetas pada musim semi berikutnya ketika kondisi lebih mendukung.
Menariknya, betina Emys orbicularis menunjukkan kesetiaan terhadap lokasi sarang tertentu dan akan kembali ke tempat yang sama selama lingkungannya tidak berubah. Jika kondisi di sekitar sarang berubah, misalnya karena vegetasi lebat yang menghalangi sinar matahari, suhu inkubasi yang lebih dingin dan gelap dapat menghasilkan lebih banyak keturunan jantan, karena jenis kelamin tukik ditentukan oleh suhu selama inkubasi, bukan oleh kromosom.
Populasi dan Peran Ekologis
Emys orbicularis memegang peran penting dalam jaring makanan ekosistem air tawar. Sebagai pemangsa cacing, serangga, katak, dan ikan, ia sekaligus menjadi mangsa bagi reptil lain, ikan, burung pemangsa, dan mamalia besar, menempatkannya di posisi tengah dalam rantai makanan perairan.
Spesies ini juga menjadi inang bagi beberapa jenis parasit, termasuk protozoa darah Haemogregarina stepanovi, cacing monogenea dari genus Polystomoides, cacing trematoda vaskular dari genus Spirhapalum, serta berbagai spesies nematoda, yang menunjukkan keterkaitannya dengan jaringan parasit khas habitat air tawar Eurasia.
Konservasi dan Ancaman
Status Nyaris Terancam yang diberikan IUCN menandakan bahwa Emys orbicularis belum masuk kategori terancam penuh, namun berada dalam kondisi rentan yang perlu diwaspadai akibat penurunan populasi berkelanjutan selama satu abad terakhir. Jangkauan geografisnya sudah menyusut dan diperkirakan akan terus berkurang seiring rusaknya habitat.
Ancaman utama meliputi kerusakan habitat, perburuan untuk konsumsi dan pengambilan telur, pencemaran air, serta sedimentasi (siltasi) yang mengubah kualitas perairan tempat mereka hidup. Meski demikian, spesies ini tidak memiliki status khusus dalam daftar Federal Amerika Serikat maupun dalam CITES.
Upaya penyelamatan yang diusulkan meliputi regulasi terhadap pemburu kura-kura dan pengumpul telur, perlindungan habitat alami, serta pengurangan faktor-faktor perusak seperti pencemaran dan sedimentasi. Program reintroduksi, seperti yang telah dilakukan di Swiss dan diusulkan di Inggris, menjadi salah satu langkah nyata untuk mengembalikan populasi ke kawasan yang pernah dihuninya.
Status konservasi
- LC
- NT
- VU
- EN
- CR
Hampir Terancam
Signifikansi Budaya
Kura-kura air tawar seperti Emys orbicularis telah lama diburu manusia sebagai sumber pangan dan digunakan dalam pengobatan tradisional di berbagai wilayah jangkauannya.
Selain itu, spesies ini juga populer dalam perdagangan hewan peliharaan serta dimanfaatkan untuk keperluan penelitian dan pendidikan. Di sisi lain, kehadirannya di alam turut membantu mengendalikan populasi hama air tawar seperti serangga dan invertebrata kecil lainnya.
Fakta Menarik
- Beberapa individu Emys orbicularis diketahui dapat hidup hingga 120 tahun, menjadikannya salah satu kura-kura berumur paling panjang yang tercatat.
- Beberapa subspesies dinamai untuk menghormati para herpetolog: eiselti mengambil nama dari Josef Eiselt dari Wina, fritzjuergenobsti dari herpetolog Jerman Fritz Jürgen Obst, dan lanzai dari herpetolog Italia Benedetto Lanza.
- Spesies ini juga dikenal dengan nama umum lain seperti kura-kura kolam Eropa atau kura-kura terapin Eropa.
- Meski sangat pemalu dan waspada di alam liar, Emys orbicularis bisa menjadi sangat jinak ketika dipelihara di penangkaran.
- Populasi di Sardinia yang tampak berasal dari zaman Pleistosen berdasarkan fosil, ternyata menurut bukti molekuler justru diperkenalkan manusia pada masa yang jauh lebih modern.
Ekologi
Habitat
- Lahan basah
- Kawasan Berhutan
- Air Tawar
Diet
- Karnivora
Perilaku
- Predator
- Teritorial
- Sosial
- Diurnal
Foto
SumberGBIFiNaturalistWikidataWikipediaEncyclopedia of LifeAnimal Diversity WebAnAge


