Lewati ke konten
Lewati ke artikel

Jamur chanterelle

Cantharellus cibarius

Jamur berwarna kuning keemasan dengan tudung berbentuk corong bergelombang dan bagian bawah yang berkerut, tumbuh di antara serasah daun hutanFoto: via iNaturalist, licensed under CC0 1.0., CC0

Sekilas

Dikenal karena
HutanKawasan Berhutan
Klasifikasi
Filum
Basidiomycota
Kelas
Agaricomycetes
Ordo
Cantharellales
Famili
Hydnaceae
Genus
Cantharellus
Spesies
Cantharellus cibarius

Jamur chanterelle emas dikenal sebagai spesies tipe dari seluruh genus Cantharellus, menjadikannya acuan utama bagi semua kerabatnya di dunia. Di Prancis jamur ini akrab disebut girolle, sementara di banyak wilayah Eropa lain namanya diwariskan turun-temurun dalam tradisi mencari jamur liar.

Cantharellus cibarius adalah fungi dari famili Hydnaceae, ordo Cantharellales, yang termasuk dalam kerajaan Fungi. Jamur ini tumbuh liar di hutan-hutan Eropa dan dikenal luas sebagai salah satu jamur pangan paling dicari di benua tersebut.

Keunikan jamur ini bukan hanya pada rasa dan aromanya yang khas, tetapi juga pada perannya sebagai patokan taksonomi bagi seluruh genus Cantharellus, sesuatu yang jarang dimiliki spesies jamur lain.

Tubuh Buah dan Identifikasi

Ciri paling mudah dikenali dari jamur chanterelle emas adalah munculnya bercak merah pada permukaan tudung saat jamur ini rusak atau tertekan, sebuah reaksi yang jarang ditemui pada jamur lain berwarna kuning serupa. Tubuh buahnya berukuran sedang, dengan lebar 3 hingga 15 sentimeter dan tinggi 5 hingga 10 sentimeter, berwarna kuning hingga kuning tua yang mencolok di antara serasah hutan.

Aroma jamur ini samar namun khas, menyerupai bau dan rasa buah aprikot, sebuah petunjuk sensorik yang sering disebut dalam deskripsi lapangan. Jejak spora yang dihasilkan berwarna kekuningan, melengkapi rangkaian ciri yang membantu membedakannya dari jamur serupa.

Meski relatif mudah dikenali di alam, Cantharellus cibarius dapat tertukar dengan dua jenis jamur lain yang tampilannya mirip: Omphalotus illudens (jack-o'-lantern timur) yang beracun berbahaya, dan Hygrophoropsis aurantiaca atau chanterelle palsu.

Distribusi dan Habitat

Jamur chanterelle emas tersebar luas di Eropa, membentang dari Skandinavia di utara hingga kawasan Laut Tengah di selatan. Habitat utamanya adalah hutan gugur dan hutan konifer, dengan musim kemunculan yang umumnya berlangsung dari Juni hingga Desember.

Salah satu catatan lapangan menyebutkan bahwa di sebagian wilayah, jamur ini hanya pernah dikumpulkan dari hutan yang didominasi pohon ek, menunjukkan bahwa preferensi habitatnya bisa sangat spesifik secara lokal meski secara umum ia mampu tumbuh di berbagai jenis hutan.

Data observasi bulanan dari GBIF menunjukkan lonjakan tajam jumlah pengamatan pada bulan Agustus dan September, dengan angka masing-masing mencapai 18.940 dan 19.001 catatan, jauh melampaui bulan-bulan awal tahun yang hanya mencatat puluhan hingga ratusan pengamatan. Pola ini sejalan dengan musim berbuah yang dilaporkan, meski perlu diingat bahwa angka tersebut hanya mencerminkan keberadaan yang tercatat, bukan ukuran populasi atau kelimpahan sesungguhnya di alam.

Peta catatan keberadaan Cantharellus cibarius
Lokasi tercatat · GBIF
19.001
JanFebMarAprMeiJunJulAguSepOktNovDes
Jumlah kejadian bulanan · GBIF

Kegunaan dan Sejarah Budaya

Jamur chanterelle emas termasuk jamur pangan yang digemari dan umum dipanen, terutama pada rentang akhir musim panas hingga akhir musim gugur di kawasan distribusinya di Eropa. Jamur ini menjadi bahan berbagai hidangan kuliner, meski spesimen yang basah lebih mudah membusuk sehingga perlu penanganan cepat setelah dipanen.

Untuk pengawetan, jamur ini biasa dikeringkan atau dibekukan. Pengeringan menggunakan oven tidak disarankan karena dapat membuat rasa jamur menjadi pahit, sehingga metode pengeringan tradisional lebih diutamakan.

Di negara-negara dengan tradisi mencari jamur liar yang kuat, seperti Polandia, Latvia, dan Finlandia, jamur chanterelle emas memiliki nilai budaya yang tinggi. Keterampilan mengenali jamur ini diwariskan antar generasi dalam keluarga, dan jamur ini menjadi bagian dari resep-resep tradisional yang diturunkan selama puluhan tahun.

Fakta Menarik

  1. Nama Cantharellus berasal dari bahasa Latin cantharellus, bentuk kecil dari cantharus yang diambil dari kata Yunani kuno kantharos berarti cangkir atau piala minum, merujuk pada bentuk tudungnya yang seperti corong atau cawan.
  2. Nama spesies cibarius berasal dari kata Latin cibus yang berarti makanan, menegaskan pengakuan lama atas jamur ini sebagai bahan pangan.
  3. Nama ilmiah ini pertama kali ditetapkan oleh mikolog Swedia Elias Magnus Fries dalam karyanya tahun 1821, Systema Mycologicum, berdasarkan spesimen dari Eropa.
  4. Cantharellus cibarius ditetapkan sebagai spesies tipe bagi seluruh genus Cantharellus, menjadikannya acuan utama dalam klasifikasi kerabat-kerabatnya.
  5. Jamur ini menjalin hubungan mikoriza yang kuat dengan pohon berdaun lebar maupun pohon konifer, hidup berdampingan dengan akar pepohonan di hutan tempat ia tumbuh.
  6. Nama umum jamur ini berbeda-beda menurut wilayah dan bahasa, mencerminkan penghargaan budaya yang luas terhadapnya di berbagai negara Eropa.

Ekologi

Habitat

  • Hutan
  • Kawasan Berhutan

Foto

20 foto
1 / 20
Jamur berwarna kuning keemasan dengan tudung berbentuk corong bergelombang dan bagian bawah yang berkerut, tumbuh di antara serasah daun hutanFoto: via iNaturalist, licensed under CC0 1.0., CC0

SumberGBIFiNaturalistWikidataWikipediaEncyclopedia of Life