Nama julukannya, "telinga Yudas", berasal dari legenda bahwa Yudas Iskariot menggantung diri di sebatang pohon elder, tempat jamur ini kerap tumbuh subur di kulit kayunya yang mati.
Auricularia auricula-judae adalah spesies jamur bertubuh gelatin dari ordo Auriculariales. Tubuh buahnya berwarna coklat, bertekstur kenyal seperti agar-agar, dan berbentuk menyerupai daun telinga manusia. Jamur ini tumbuh di kayu pohon berdaun lebar, terutama elder (Sambucus nigra), dan ditemukan secara luas di Eropa.
Di balik nama yang kelam itu, jamur ini menyimpan sejarah budaya panjang di Eropa, mulai dari catatan herbalis abad ke-16 hingga referensi dalam karya sastra klasik, menjadikannya salah satu jamur liar dengan jejak sejarah manusia paling kaya.
Tubuh Buah dan Identifikasi
Ciri paling khas dari Auricularia auricula-judae adalah bentuknya yang menyerupai daun telinga yang lembek, meski kadang juga berbentuk seperti cawan. Tubuh buahnya berukuran hingga 9 cm lebarnya dan hanya sekitar 3 mm tebalnya, menempel pada substrat kayu secara lateral atau dengan tangkai yang sangat pendek. Saat masih segar, teksturnya kenyal dan elastis seperti agar-agar, tetapi begitu kering, jamur ini menjadi keras dan rapuh.
Permukaan atasnya berwarna coklat kemerahan dengan semburat keunguan, ditutupi bulu-bulu halus berwarna abu-abu (disebut pilose). Spesimen muda cenderung memiliki permukaan yang licin, sementara yang lebih tua bergelombang dengan lipatan dan kerutan, serta warnanya menjadi lebih gelap seiring bertambahnya usia. Permukaan bawahnya lebih terang, berwarna abu-abu kecoklatan, halus, dan kadang berlipat atau berurat sehingga makin memperkuat kesan bentuk telinga.
Secara mikroskopis, spora jamur ini berbentuk sosis (allantoid) dengan ukuran 15–22 x 5–7 mikrometer, sedangkan basidianya silindris berukuran 65–85 x 4–5,5 mikrometer dengan tiga sekat melintang. Bulu-bulu halus di permukaan atas berukuran 100–150 mikrometer panjangnya. Bentuk tanpa pigmen yang seluruhnya putih kadang ditemukan dan pernah diberi nama Auricularia lactea, tetapi bentuk ini hanyalah varian tanpa warna dari spesies yang sama.
Di Eropa, spesies yang menyerupainya adalah Auricularia cerrina yang tumbuh di pohon ek dan dapat dibedakan dari warnanya yang abu-abu gelap hingga hampir hitam. Di Asia, Auricularia heimuer sangat mirip dan telah lama tertukar identitasnya dengan A. auricula-judae, hanya dapat dipisahkan secara mikroskopis melalui basidia dan sporanya yang lebih pendek (11–13 x 4–5 mikrometer). Spesies Amerika, Auricularia angiospermarum, juga serupa dengan basidia dan spora yang sedikit lebih pendek (13–15 x 4,8–5,5 mikrometer).
Distribusi dan Habitat
Auricularia auricula-judae tumbuh di kayu pohon dan semak berdaun lebar, dengan preferensi kuat pada elder (Sambucus nigra). Jamur ini juga umum dijumpai pada sycamore (Acer pseudoplatanus), beech (Fagus sylvatica), ash (Fraxinus excelsior), dan spindle (Euonymus europaeus), serta sangat jarang ditemukan pada pohon konifer. Ia menyukai cabang-cabang tua, hidup sebagai saprotrof pada kayu mati atau parasit lemah pada kayu hidup, dan menyebabkan pembusukan putih pada kayu inangnya.
Jamur ini biasanya tumbuh sendiri-sendiri, tetapi juga bisa ditemukan berkelompok atau bergerombol rapat dalam satu rumpun. Dari sisi bawah tubuh buahnya, spora dilepaskan dalam jumlah sangat besar, bisa mencapai beberapa ratus ribu per jam, dan pelepasan ini tetap berlangsung meski tubuh buah sudah kehilangan hingga 90% bobotnya karena mengering.
Secara geografis, spesies ini tersebar luas di seluruh Eropa namun tidak diketahui terjadi di wilayah lain. Dahulu dianggap sebagai spesies yang sangat bervariasi dengan penyebaran global, tetapi penelitian molekuler berbasis analisis DNA menunjukkan bahwa populasi di luar Eropa sebenarnya spesies yang berbeda: yang dibudidayakan di Tiongkok dan Asia Timur adalah Auricularia heimuer (dan sebagian A. villosula), sementara populasi Amerika Utara pada pohon berdaun lebar adalah Auricularia angiospermarum, dan pada konifer adalah Auricularia americana.
Data pengamatan bulanan menunjukkan jamur ini dapat dijumpai sepanjang tahun, namun jumlah pengamatan cenderung memuncak pada bulan-bulan musim gugur dan musim dingin—tertinggi pada Oktober dan menurun tajam pada Juli hingga Agustus. Perlu diingat, data ini hanya mencerminkan catatan kemunculan, bukan gambaran kelimpahan populasi atau batas persebaran yang lengkap.

Kegunaan dan Sejarah Budaya
Meski dapat dimakan, Auricularia auricula-judae tidak dianggap istimewa dari segi kuliner. Teksturnya yang kenyal pernah digambarkan seperti "memakan karet penghapus yang berisi tulang", dan pada abad ke-19 di Britania, jamur ini bahkan "tidak pernah dianggap sebagai jamur yang layak dimakan". Namun di Polandia, jamur ini dikatakan biasa dikonsumsi masyarakat setempat. Kerabatnya, Auricularia heimuer, jauh lebih populer dalam masakan Asia Timur dan kerap disalahartikan sebagai A. auricula-judae.
Rasa jamur ini tergolong hambar dan ringan. Setelah dikeringkan, jamur ini dapat direhidrasi dan mengembang hingga 3–4 kali ukuran aslinya, namun harus dimasak matang karena tidak layak dimakan mentah. Dalam setiap 100 gram jamur kering, terkandung energi 1.500 kilojoule (370 kilokalori), protein 10,6 gram, lemak 0,2 gram, karbohidrat 65 gram, serta abu 5,8 gram. Jamur segar mengandung sekitar 90% air, sementara bentuk keringnya sering digiling menjadi bubuk untuk menyerap kelebihan cairan dalam sup dan semur.
Selama berabad-abad, jamur ini juga digunakan sebagai obat tradisional di Eropa. Herbalis abad ke-16 John Gerard (1597) merekomendasikannya untuk mengobati radang tenggorokan, direbus dalam susu atau direndam dalam bir lalu diminum perlahan. Carolus Clusius (1601) menyarankan penggunaannya sebagai obat kumur, sementara John Parkinson (1640) dan John Pechey (1694) mencatat cara serupa: direbus dalam susu atau direndam cuka untuk meredakan radang mulut dan tenggorokan, bahkan digunakan sebagai obat mata. Penggunaan medisinal ini tercatat berlanjut hingga sekitar 1860, ketika jamur ini masih dijual di pasar Covent Garden London meski saat itu belum dianggap layak konsumsi. Di Skotlandia jamur ini dipakai sebagai obat kumur untuk radang tenggorokan, sedangkan di Irlandia direbus dalam susu sebagai obat penyakit kuning. Jamur ini juga muncul dalam sastra: disebut dalam lakon The Jew of Malta karya Christopher Marlowe, dan diyakini menginspirasi puisi Emily Dickinson yang menggambarkan jamur sebagai "sang pengkhianat ultimat".
Fakta Menarik
- Auricularia auricula-judae termasuk salah satu jamur pertama yang dibudidayakan manusia secara sengaja, dengan catatan budidaya di Tiongkok yang sudah ada sejak abad ke-7 Masehi.
- Spesies yang tampak sangat serupa di Asia Timur dan Amerika Utara, yang lama dikira sama dengan A. auricula-judae, ternyata terbukti secara genetik berbeda—masing-masing dikenal sebagai Auricularia heimuer dan Auricularia angiospermarum.
- Jamur ini bahkan pernah tumbuh di tempat yang tidak terduga: tercatat muncul pada papan pengering kayu sycamore sebuah tempat cuci piring tua di kawasan Hatton Garden, London.
Ekologi
Habitat
- Hutan
- Kawasan Berhutan



