Lewati ke konten
Lewati ke artikel

Paus sperma

Physeter macrocephalus

Rentan

Paus sperma adalah paus bergigi terbesar di dunia dan sekaligus predator bergigi terbesar yang pernah ada. Ia merupakan satu-satunya anggota hidup dari genus Physeter, dan salah satu dari tiga spesies yang masih ada dalam superfamili paus sperma (Physeteroidea), bersama paus sperma kerdil dan paus sperma pigmi dari genus Kogia.

Spesies ini termasuk mamalia dari ordo Cetacea dan tersebar luas di lautan dunia, dari perairan tropis hingga subpolar. Status konservasinya menurut IUCN adalah Rentan (Vulnerable). Ukurannya yang luar biasa, cara berburunya di kedalaman laut yang gelap, serta kehidupan sosialnya yang kompleks membuat spesies ini menjadi salah satu makhluk laut paling menarik untuk dipelajari.

Identifikasi dan Penampilan

Ciri paling khas paus sperma adalah kepalanya yang sangat besar dan berbentuk kotak, yang bisa mencapai seperempat hingga sepertiga dari panjang tubuhnya. Bentuk tubuh ini membuatnya hampir tidak mungkin tertukar dengan spesies lain. Lubang napasnya yang berbentuk huruf S terletak dekat ujung depan kepala dan bergeser ke sisi kiri, menghasilkan semburan air yang khas: miring dan menyerupai semak ke arah depan.

Spesies ini menunjukkan dimorfisme seksual yang sangat mencolok. Anak paus yang baru lahir biasanya berukuran 3,5 hingga 4,5 meter. Betina dewasa secara seksual pada panjang 8 hingga 9 meter, sedangkan jantan pada 11 hingga 12 meter. Betina dewasa penuh umumnya tidak melebihi 12 meter dan dapat memiliki bobot sekitar 17 sampai 24 ton, sementara jantan dewasa penuh bisa mencapai 15 hingga 19 meter dengan bobot yang bisa melampaui 57 ton pada individu sepanjang 18 meter—tiga kali lebih berat dari betina meski keduanya lahir dengan ukuran yang hampir sama.

Terdapat catatan sejarah tentang individu yang diklaim jauh lebih besar, termasuk paus yang menenggelamkan kapal Essex yang disebut mencapai 25,9 meter, meski keakuratan klaim semacam ini masih diperdebatkan. Salah satu ukuran yang dianggap paling akurat tercatat pada individu sepanjang 20,7 meter dari armada penangkap paus Soviet dekat Kepulauan Kuril pada 1950. Meski demikian, ukuran sebesar ini sangat jarang; sekitar 95% paus sperma yang tercatat memiliki panjang di bawah 15,85 meter.

Ekor (flukes) paus sperma berbentuk segitiga, sangat tebal, dan proporsinya lebih besar dibandingkan cetacea lain mana pun. Paus ini akan mengangkat ekornya tinggi ke luar air saat memulai penyelaman untuk mencari makan, sebuah tanda visual yang mudah dikenali di lapangan.

Distribusi dan Habitat

Paus sperma adalah salah satu spesies paling kosmopolitan di dunia, ditemukan di hampir semua samudra dari kutub hingga khatulistiwa. Mereka menghuni Laut Mediterania, tetapi tidak Laut Hitam, sementara keberadaannya di Laut Merah masih belum pasti—kemungkinan karena pintu masuk yang dangkal ke kedua laut tersebut menghalangi migrasi mereka.

Spesies ini menyukai perairan bebas es dengan kedalaman lebih dari 1.000 meter, meski dapat terlihat lebih dekat ke daratan bila kedalaman air melampaui 200 meter. Populasi lebih padat di sekitar tepi paparan benua dan ngarai laut. Kedua jenis kelamin menjelajahi lautan tropis dan temperate, namun hanya jantan dewasa yang menjelajah hingga lintang yang lebih tinggi. Di beberapa wilayah, seperti perairan pesisir Australia Selatan, paus sperma dianggap sudah punah secara lokal.

Kawasan pesisir dengan populasi paus sperma yang signifikan meliputi Azores dan Dominika, serta beberapa lokasi di Asia Timur seperti Kepulauan Commander dan Kuril, Semenanjung Shiretoko, dan perairan sekitar Kepulauan Izu hingga Ryukyu. Analisis genetik menunjukkan bahwa populasi dunia berasal dari populasi sekitar 10.000 individu di Samudra Pasifik sekitar 100.000 tahun lalu, ketika perluasan lapisan es memutus akses mereka ke laut lain.

Data jumlah pengamatan bulanan menunjukkan puncak kehadiran pada pertengahan tahun, khususnya sekitar bulan Juli, yang bisa mengindikasikan kehadiran musiman di sejumlah wilayah pengamatan, meski data ini hanya mencatat kemunculan dan bukan kepadatan populasi sesungguhnya.

Peta catatan keberadaan Physeter macrocephalus
Lokasi tercatat · GBIF
16.836
JanFebMarAprMeiJunJulAguSepOktNovDes
Jumlah kejadian bulanan · GBIF

Perilaku dan Gaya Hidup

Seperti gajah, paus sperma betina dan anak-anaknya hidup dalam kelompok matriarkal yang disebut pod, sementara jantan dewasa hidup menyendiri atau membentuk kelompok bujangan yang longgar dengan jantan lain seusianya. Seiring bertambah tua, jantan biasanya menjadi soliter dan hanya kembali ke pod untuk bersosialisasi atau berkembang biak. Sebuah unit sosial biasanya beranggotakan enam hingga sembilan individu, meski bisa lebih dari dua puluh, dan individu jarang sekali keluar atau masuk dari unit tersebut sepanjang hidupnya.

Betina dan anak menghabiskan sekitar tiga perempat waktu mereka untuk mencari makan dan seperempat sisanya untuk bersosialisasi, biasanya pada sore hari. Saat bersosialisasi, mereka saling menggosokkan tubuh dan mengeluarkan pola klik kompleks yang disebut coda. Penelusuran penyelaman juga mengindikasikan bahwa kelompok ini bekerja sama menggiring mangsa, meski hal ini masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut.

Predator alami utama paus sperma adalah paus pembunuh (orca), yang biasanya menyasar kelompok betina beranak untuk membunuh anaknya. Untuk melindungi diri, betina membentuk formasi "marguerite", saling menghadap ke dalam dengan ekor menghadap keluar, atau formasi "heads-out" yang menghadap keluar. Jantan dewasa dianggap terlalu besar dan kuat untuk diserang orca, dan kadang membantu kelompok betina yang rentan di sekitarnya, meski kehadirannya tidak selalu berhasil menghentikan serangan.

Komunikasi

Paus sperma adalah hewan paling bising di dunia, mampu menghasilkan suara dengan tingkat sumber hingga 236 desibel. Suara ini dihasilkan melalui klik yang dipancarkan lewat sepasang "bibir monyet" di depan hidung, kemudian dipantulkan berulang kali di dalam organ spermaceti dan kantung frontal di tengkorak sebelum difokuskan oleh struktur lensa bernama melon.

Terdapat empat jenis vokalisasi berbasis klik: klik ekolokasi biasa untuk mencari mangsa, "creak" berupa rangkaian klik cepat bernada tinggi saat mendekati mangsa, klik lambat yang hanya terdengar di dekat jantan dan tampaknya merupakan sinyal kawin, serta coda—urutan klik pendek berirama yang digunakan dalam konteks sosial.

Coda merupakan hasil pembelajaran vokal dalam kelompok sosial yang stabil dan digunakan untuk mempertahankan ikatan sosial di antara penyelaman panjang mencari makan yang menyita lebih dari 70% waktu paus sperma. Beberapa pola coda bahkan menandai identitas klan tertentu, mencerminkan pola perjalanan, mencari makan, dan interaksi sosial yang berbeda antarklan.

Berburu dan Makanan

Paus sperma berburu melalui ekolokasi, menyelam antara 300 hingga 800 meter, kadang hingga 1-2 kilometer, dalam pencarian mangsa yang bisa berlangsung lebih dari satu jam. Klik ekolokasi mereka adalah salah satu suara paling kuat dalam dunia hewan, meski hipotesis bahwa klik ini dapat membuat mangsa pingsan belum terbukti dalam penelitian eksperimental.

Makanan utama mereka adalah cumi-cumi berukuran sedang, termasuk cumi-cumi raksasa dan cumi-cumi kolosal, selain gurita dan ikan seperti pari demersal dan hiu. Sebuah studi di sekitar Kepulauan Galápagos menemukan bahwa genus cumi-cumi Histioteuthis, Ancistrocheirus, dan Octopoteuthis adalah mangsa paling umum yang diambil. Studi lain di Selat Cook, Selandia Baru, menemukan rasio cumi-cumi terhadap ikan sebesar 1,69 berbanding 1 berdasarkan berat.

Paus sperma berburu dalam posisi terbalik di dasar penyelaman dalam mereka, kemungkinan untuk melihat siluet cumi-cumi di atas mereka dengan latar cahaya permukaan yang samar. Mereka juga memanfaatkan operasi pancing rawai di Teluk Alaska untuk mengambil ikan seperti sablefish langsung dari tali pancing, meski jumlah ini sangat kecil dibanding kebutuhan makan harian mereka. Paus sperma diperkirakan memakan sekitar 3% dari berat tubuhnya setiap hari.

Paruh tajam cumi-cumi yang tertelan dan tersangkut di usus paus dapat memicu produksi ambergris, akibat iritasi yang merangsang sekresi zat mirip pelumas tersebut.

Populasi dan Peran Ekologis

Jumlah total paus sperma di dunia tidak diketahui secara pasti, tetapi diperkirakan mencapai sekitar 360.000 ekor. Spesies ini turut berperan dalam menyuburkan permukaan laut melalui apa yang disebut "pompa paus": mereka mengonsumsi nutrisi di kedalaman laut lalu membawanya ke permukaan melalui kotoran, sehingga menyuburkan fitoplankton dan berkontribusi pada produktivitas laut serta penyerapan karbon atmosfer.

Paus sperma juga menjadi inang bagi berbagai parasit. Dari 35 paus sperma yang ditangkap selama musim perburuan Antarktika 1976–1977, seluruhnya terinfeksi cacing Anisakis physeteris di lambung dan Phyllobothrium delphini di lapisan lemaknya. Dua paus yang memiliki plasenta bahkan ditemukan terinfeksi Placentonema gigantissima, yang berpotensi menjadi cacing nematoda terbesar yang pernah dideskripsikan.

Konservasi dan Ancaman

Paus sperma berstatus Rentan (Vulnerable) menurut IUCN, dan juga terdaftar sebagai terancam punah (endangered) dalam Undang-Undang Spesies Terancam Punah Amerika Serikat. Perburuan komersial telah berhenti dan spesies ini kini dilindungi di hampir seluruh dunia, meski tercatat kapal Jepang masih menangkap 51 ekor paus sperma dalam periode 11 tahun sejak tahun 2000.

Sejak tahun 2000-an, ancaman terbesar bagi populasi paus sperma adalah keterjeratan dalam jaring ikan dan tabrakan dengan kapal. Ancaman lain meliputi tertelannya sampah laut, kebisingan bawah laut, dan pencemaran kimia. Nelayan umumnya tidak memburu paus sperma untuk dimakan, meski operasi pancing rawai di Teluk Alaska mengeluh bahwa paus ini kerap mengambil ikan langsung dari tali pancing mereka.

Spesies ini terdaftar dalam Lampiran I dan II Convention on the Conservation of Migratory Species of Wild Animals (CMS), serta Lampiran I CITES yang melarang perdagangan internasional komersial atas bagian tubuh maupun turunannya, dengan seluruh perdagangan internasional lain diatur ketat melalui sistem izin dan sertifikat.

Rentan

Signifikansi Budaya

Gigi paus sperma yang dirangkai menjadi kalung merupakan objek budaya penting di seluruh Pasifik. Di Selandia Baru, suku Māori menyebutnya "rei puta", benda langka karena paus sperma tidak diburu secara aktif dalam masyarakat Māori tradisional—gading dan tulangnya diambil dari paus yang terdampar. Di Fiji, gigi ini disebut tabua, secara tradisional diberikan sebagai hadiah permohonan maaf atau penghormatan dalam upacara sevusevu, dan memegang peran penting dalam negosiasi antarpemimpin suku hingga kini.

Novel Moby-Dick karya Herman Melville terinspirasi dari kisah nyata paus sperma yang menyerang dan menenggelamkan kapal pemburu paus Essex; Melville bahkan mengaitkan paus sperma dengan sosok Leviathan dalam Alkitab. Reputasi menakutkan ini bersumber dari kemampuan paus jantan mempertahankan diri dengan menghancurkan perahu para pemburu paus awal. Dalam novel Twenty Thousand Leagues Under the Seas karya Jules Verne, kapal selam Nautilus digambarkan bertarung melawan sekelompok "cachalot" untuk melindungi kelompok paus sikat selatan dari serangan mereka.

Paus sperma ditetapkan sebagai hewan resmi negara bagian Connecticut oleh Majelis Umum pada 1975, dipilih karena kontribusinya bagi sejarah negara bagian tersebut sekaligus statusnya yang kini terancam punah.

Fakta Menarik

  1. Dalam kepercayaan Yunani-Romawi kuno, terdapat monster laut bernama "physeter" yang digambarkan secara singkat oleh Pliny the Elder dalam Natural History dan kadang muncul dalam peta Eropa pada Abad Pertengahan Akhir.
  2. Rondelet menjelaskan bahwa physeter dinamai demikian karena semburannya yang begitu besar hingga dapat memenuhi dan membalikkan perahu-perahu kecil, digambarkan memiliki mulut raksasa, gigi tajam, lidah berdaging besar, dan saluran napas yang jauh lebih besar dari hewan lain.

Foto

Foto dari via iNaturalist, licensed under CC0 1.0., by Fred Derks via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Rui Ribeiro via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by John Powers via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Kyle Elshoff via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Cheryl Stinchcomb via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Amy Riordan via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Julien Savoie via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Patrick Lam via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., dan by Daniel K via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., dengan kredit pada setiap foto.

Ekologi dan klasifikasi

Diet

  • Karnivora

Perilaku

  • Predator
  • Soliter
  • Akuatik
  • Sosial

Klasifikasi

Filum
Chordata
Kelas
Mammalia
Ordo
Cetacea
Famili
Physeteridae
Genus
Physeter
Spesies
Physeter macrocephalus

Sumber

  1. GBIF Species names and classification
  2. iNaturalist Photos
  3. Wikidata Common names and conservation status
  4. Wikipedia Summary extract
  5. Encyclopedia of Life Habitat, diet and behavior traits
  6. AnAge Longevity