Lewati ke konten
Lewati ke artikel

Physalia physalis

Belum ada nama umum tercatat

Physalia physalis, atau ubur-ubur api Portugis, sebenarnya bukanlah satu individu melainkan koloni dari banyak organisme kecil yang hidup dan bekerja sebagai satu kesatuan.

Hewan ini termasuk dalam kelas Hydrozoa dan filum Cnidaria, dan dapat ditemukan mengapung di permukaan perairan tropis dan subtropis di Samudra Atlantik, Hindia, dan Pasifik. Meski umumnya dianggap satu-satunya spesies dalam genus Physalia dan famili Physaliidae, bukti genetik menunjukkan kemungkinan adanya lebih dari satu spesies dalam kelompok ini.

Keunikan struktur tubuhnya yang kolonial, ditambah sengatan tentakelnya yang menyakitkan, membuat spesies ini menjadi salah satu makhluk laut permukaan yang paling dikenal sekaligus paling ditakuti oleh para pengunjung pantai.

Identifikasi dan Penampilan

Ciri paling mencolok dari Physalia physalis adalah kantung mengapung berisi gas yang disebut pneumatofor, yang berfungsi sekaligus sebagai pelampung dan layar. Struktur ini bisa mencapai panjang lebih dari 30 sentimeter, lebar 13 sentimeter, dan tinggi hampir 6 sentimeter, serta terisi gas yang sebagian besar berupa udara namun juga mengandung karbon monoksida hingga 13 persen yang diproduksi sendiri oleh hewan ini.

Sebagai organisme kolonial, tubuhnya tersusun dari tujuh jenis zooid yang saling bergantung untuk bertahan hidup: ada yang bertugas mencerna makanan (gastrozooid), berburu (dactylozooid), dan bereproduksi (gonozooid). Seluruh zooid ini berkembang dari satu sel telur yang telah dibuahi, sehingga secara genetik identik meski berfungsi seperti organ-organ yang berbeda.

Tentakelnya biasanya sepanjang sekitar 10 meter, tetapi bisa mencapai lebih dari 30 meter. Setiap tentakel dipenuhi struktur seperti benang kecil yang menggulung disebut nematosista, yang akan memicu dan menyuntikkan racun saat bersentuhan dengan mangsa atau apa pun yang menyentuhnya.

Ketika terancam dari permukaan, hewan ini dapat mengempiskan pneumatofornya untuk sementara menyelam dan menghindari bahaya.

Distribusi dan Habitat

Physalia physalis hidup mengapung di permukaan perairan laut tropis dan subtropis, termasuk sepanjang Florida Keys, pesisir Atlantik, Arus Teluk, Teluk Meksiko, Samudra Hindia, Laut Karibia, dan wilayah hangat lainnya di Samudra Atlantik serta Pasifik. Spesies ini sangat umum dijumpai di perairan hangat Laut Sargasso.

Sebagai anggota komunitas neuston, organisme yang hidup di permukaan air, hewan ini menghadapi kondisi lingkungan yang keras seperti paparan sinar ultraviolet berkepanjangan, risiko kekeringan, dan gelombang laut yang kasar. Hanya pneumatofornya yang tetap berada di permukaan, sementara bagian tubuh lainnya terendam di bawah air.

Karena tidak memiliki alat gerak sendiri, pergerakannya sepenuhnya pasif, mengikuti arah angin, arus, dan pasang surut. Angin dapat mendorongnya masuk ke teluk atau bahkan terdampar di pantai, yang kadang memaksa penutupan pantai karena sengatannya masih berbahaya meski sudah terdampar.

Data pengamatan bulanan menunjukkan pola kemunculan yang bervariasi sepanjang tahun, dengan kecenderungan lebih sering teramati pada bulan-bulan tertentu, meski data semacam ini hanya menunjukkan keberadaan, bukan jumlah populasi sesungguhnya.

Peta catatan keberadaan Physalia physalis
Lokasi tercatat · GBIF
2.005
JanFebMarAprMeiJunJulAguSepOktNovDes
Jumlah kejadian bulanan · GBIF

Perilaku dan Gaya Hidup

Pergerakan Physalia physalis bersifat pasif sepenuhnya, mengandalkan angin dan arus karena koloni ini tidak dapat berenang. Pneumatofornya berfungsi seperti layar yang menangkap angin, mendorong hewan ini melintasi permukaan laut.

Uniknya, terdapat dua bentuk individu: yang "bersisi kiri" akan melaju pada sudut 45 derajat ke kanan dari arah datangnya angin, sementara yang "bersisi kanan" melaju ke arah sebaliknya. Perbedaan ini penting karena membantu menyebarkan populasi mereka secara lebih merata di seluruh lautan hangat dunia, mencegah seluruh koloni terdampar di lokasi yang sama akibat arah angin yang seragam.

Berburu dan Makanan

Physalia physalis berburu dengan cara menjebak mangsa menggunakan tentakel panjangnya yang disebut dactylozooid, yang berfungsi sekaligus sebagai alat berburu dan pertahanan diri. Nematosista pada tentakel akan menyengat dan melumpuhkan mangsa begitu tersentuh.

Sebagian besar mangsanya, sekitar 70 hingga 90 persen, adalah ikan, terutama larva dan ikan kecil dewasa, di samping udang, krustasea lain, dan hewan plankton kecil lainnya. Sesekali, hewan ini bahkan berhasil menjebak ikan yang lebih besar seperti ikan terbang dan tenggiri, meskipun ikan-ikan berukuran ini umumnya masih bisa lolos dari tentakelnya.

Setelah mangsa terperangkap, makanan dicerna dalam gastrozooid berbentuk kantung yang terletak di sisi bawah pneumatofor. Zooid ini mengeluarkan enzim yang memecah protein, karbohidrat, dan lemak, dan setiap koloni memiliki banyak gastrozooid dengan mulut masing-masing. Sisa makanan yang tak tercerna dikeluarkan kembali melalui mulut yang sama, sementara nutrisi hasil pencernaan diserap dan disalurkan ke seluruh zooid dalam koloni.

Kelompok besar Physalia physalis, yang kadang berjumlah lebih dari 1.000 individu, dapat menekan populasi ikan di suatu wilayah perikanan.

Reproduksi dan Siklus Hidup

Physalia physalis bersifat dioecious, artinya setiap koloni memiliki jenis kelamin terpisah, jantan atau betina, yang ditentukan oleh gonozooid khusus berisi ovarium atau testis. Pembuahan diperkirakan terjadi di air terbuka dekat permukaan, setelah gonozooid melepaskan gamet atau bahkan terlepas seluruhnya dari koloni induk.

Pelepasan gonozooid ini mungkin dipicu oleh respons kimiawi yang muncul ketika banyak individu berkumpul dalam satu lokasi, sehingga dibutuhkan kepadatan populasi tertentu agar pembuahan berhasil terjadi.

Sebagian besar reproduksi terjadi pada musim gugur, yang menghasilkan banyak individu muda yang mengapung pada musim dingin dan musim semi berikutnya. Belum diketahui secara pasti apa yang memicu siklus pemijahan ini, namun diduga dimulai di Samudra Atlantik.

Setelah pembuahan, larva berkembang dengan cepat menjadi bentuk mengapung kecil. Spesies ini bersifat ovipar dan tidak menunjukkan keterlibatan induk dalam merawat keturunannya.

Populasi dan Peran Ekologis

Physalia physalis sering dijumpai bersama berbagai jenis ikan laut lain, termasuk ikan yellow jack, yang memanfaatkan perlindungan dari tentakel penyengatnya untuk berlindung dari predator, sementara kehadiran ikan-ikan tersebut bisa menarik ikan lain untuk mendekat dan menjadi mangsa.

Beberapa hewan justru kebal terhadap racunnya. Gurita selimut diketahui membawa potongan tentakel yang telah putus untuk digunakan sebagai senjata serang maupun pertahanan. Sementara itu, ikan man-of-war dapat hidup di antara tentakelnya karena memiliki antigen terhadap toksinnya, dan bahkan memakan tentakel serta gonad koloni ini, sebuah hubungan yang mungkin bersifat mutualistik karena kehadiran ikan tersebut turut menarik mangsa lain mendekat.

Cnidaria, termasuk spesies ini, dapat mengalami lonjakan populasi besar yang disebut "jellyfish bloom". Ketika terjadi dalam jumlah besar, koloni ini dapat mengganggu ketersediaan mangsa bagi ikan lain, termasuk larva ikan kecil, sehingga merusak rantai makanan di sekitarnya. Komunitas pesisir juga terdampak akibat penurunan hasil tangkapan ikan dan kerusakan peralatan penangkapan ikan, dan fenomena bloom semacam ini diperkirakan akan semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.

Konservasi dan Ancaman

Physalia physalis belum dievaluasi oleh IUCN Red List, dan spesies ini tidak dianggap memerlukan upaya konservasi khusus saat ini karena populasinya tidak tergolong jarang. Spesies ini juga tidak memiliki status khusus dalam daftar federal Amerika Serikat maupun dalam CITES.

Signifikansi Budaya

Physalia physalis memiliki nilai bagi manusia terutama melalui perannya dalam rantai makanan laut: beberapa ikan dan krustasea, seperti kepiting pasir, memakan hewan ini, dan spesies pemangsa tersebut bisa memiliki nilai komersial bagi manusia.

Fakta Menarik

  1. Meski tampak seperti satu hewan, Physalia physalis sebenarnya adalah koloni dari tujuh jenis zooid berbeda yang saling bergantung satu sama lain untuk bertahan hidup.
  2. Gas di dalam pneumatofornya mengandung hingga 13 persen karbon monoksida yang diproduksi sendiri oleh hewan ini, bukan hanya udara yang berdifusi dari atmosfer.
  3. Terdapat dua bentuk tubuh, "bersisi kiri" dan "bersisi kanan", yang membuat koloni-koloni ini melaju ke arah berlawanan meski tertiup angin yang sama.

Foto

Foto dari via iNaturalist, licensed under CC0 1.0., by franciscodocampo via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by euqirneto via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Ryan F. Mandelbaum via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Crap Fou via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Jennifer Woollin via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Sylvain Montagner via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by fbalboa via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by James Tatlow via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., dan by Amaia via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., dengan kredit pada setiap foto.

Ekologi dan klasifikasi

Perilaku

  • Predator
  • Akuatik
  • Berbisa

Diet

  • Pemakan ikan (piscivora)

Klasifikasi

Filum
Cnidaria
Kelas
Hydrozoa
Ordo
Siphonophorae
Famili
Physaliidae
Genus
Physalia
Spesies
Physalia physalis

Sumber

  1. GBIF Species names and classification
  2. iNaturalist Photos
  3. Wikidata Common names and conservation status
  4. Wikipedia Summary extract
  5. Animal Diversity Web Animal habitat, behavior and diet