Lewati ke konten
Lewati ke artikel

Salamandra salamandra

Salamandra salamandra

Belum ada nama umum tercatat

LCRisiko Rendah
Seekor salamander bertubuh gelap dengan pola warna mencolok yang berfungsi sebagai peringatan bagi predator, terlihat di antara dedaunan lembap di lantai hutan.Foto: via iNaturalist, licensed under CC0 1.0., CC0

Pengukuran

Berat
0,019–0,019 kg
Umur hidup
≤ 24 tahun
Klasifikasi
Filum
Chordata
Kelas
Amphibia
Ordo
Caudata
Famili
Salamandridae
Genus
Salamandra
Spesies
Salamandra salamandra

Salamandra salamandra adalah salah satu spesies amfibi paling mudah dikenali di Eropa, anggota famili Salamandridae dalam ordo Caudata, kelompok amfibi berekor yang mencakup seluruh salamander sejati. Spesies ini tersebar luas di kawasan hutan beriklim sedang di Eropa selatan dan tengah, dan berdasarkan penilaian global, statusnya dicatat sebagai Risiko Rendah.

Di balik penampilan yang tampak sederhana, hewan ini memiliki sejumlah adaptasi bertahan hidup yang khas, mulai dari pertahanan kimiawi hingga pola migrasi musiman yang tersusun rapi, yang diuraikan lebih lanjut di bagian-bagian berikut.

Identifikasi dan Penampilan

Data ukuran tubuh yang tercatat untuk Salamandra salamandra terbatas pada bobot, yakni sekitar 19 gram untuk individu dewasa, menjadikannya salamander bertubuh relatif kecil dan ringan dibandingkan banyak kerabatnya dalam famili Salamandridae.

Distribusi dan Habitat

Sebaran alami Salamandra salamandra mencakup sebagian besar Eropa selatan dan tengah, dengan populasi paling padat ditemukan pada ketinggian antara 250 dan 1.000 meter di atas permukaan laut. Di beberapa wilayah seperti Semenanjung Balkan dan Spanyol, spesies ini juga umum dijumpai pada ketinggian yang lebih tinggi, sementara di Jerman utara populasi kecil bahkan tercatat turun hingga ketinggian 25 meter.

Habitat pilihannya adalah kawasan hutan yang teduh dengan akses ke kolam atau aliran sungai untuk berkembang biak. Sebagian besar waktunya dihabiskan bersembunyi di bawah batu, kayu lapuk, atau celah-celah lembap yang menjaga kulitnya tetap basah sekaligus terlindung dari predator maupun kekeringan.

Data pengamatan bulanan dari GBIF menunjukkan lonjakan jumlah pengamatan pada bulan April dan Mei, dengan puncak tertinggi di bulan Mei, serta kenaikan sekunder pada bulan Oktober. Pola ini kemungkinan mencerminkan musim ketika salamander lebih sering terlihat aktif di permukaan tanah, bukan indikasi jumlah populasi sebenarnya—data kehadiran semacam ini hanya menggambarkan frekuensi pengamatan, bukan kelimpahan atau batas wilayah sebaran yang lengkap.

Peta catatan keberadaan Salamandra salamandra
Lokasi tercatat · GBIF
40.129
JanFebMarAprMeiJunJulAguSepOktNovDes
Jumlah kejadian bulanan · GBIF

Perilaku dan Gaya Hidup

Salamandra salamandra adalah hewan pemalu yang menghabiskan sebagian besar waktunya bersembunyi di celah-celah teduh, di bawah kayu lapuk, atau di tempat lembap lain yang memberi perlindungan. Aktivitasnya terutama terjadi pada malam-malam yang sejuk namun tidak ekstrem; ia tidak aktif selama musim dingin di wilayah Eropa dan selama musim panas kering di wilayah Timur Tengah tempat populasi lain spesies ini hidup.

Individu spesies ini menunjukkan kesetiaan tinggi terhadap wilayah jelajahnya selama bertahun-tahun dan secara konsisten kembali ke lokasi hibernasi yang sama setiap tahun—satu penelitian mencatat individu yang kembali ke gua yang sama untuk berhibernasi selama 20 tahun berturut-turut. Untuk menemukan jalan pulang, mereka tampaknya mengikuti jalur dengan penanda tertentu sebagai acuan orientasi, dan beberapa bukti menunjukkan isyarat visual mungkin lebih berperan daripada penciuman dalam proses ini.

Pertahanan utamanya terhadap predator bukan berupa kecepatan lari, melainkan racun. Kelenjar paratoid besar di belakang mata serta deretan kelenjar racun di sepanjang tubuhnya menghasilkan neurotoksin yang dapat disemprotkan secara aktif ke arah penyerang, alih-alih hanya mengandalkan pelarian setelah predator menyadari mangsanya tidak enak dimakan. Warna tubuhnya yang mencolok berfungsi sebagai peringatan aposematik bagi calon predator.

Berburu dan Makanan

Salamandra salamandra menyesuaikan strategi berburunya dengan kondisi cahaya. Saat sedikit cahaya tersedia, ia mengandalkan gerakan mangsa sebagai isyarat utama dan mengabaikan mangsa yang diam. Namun dalam kegelapan total, ketika penglihatan tidak banyak membantu, ia beralih mengandalkan penciuman sebagai indra utama dan tetap menyerang mangsa yang diam selama aromanya masih dapat terdeteksi.

Menu utamanya berupa invertebrata yang paling melimpah di habitatnya, mulai dari mangsa bertubuh lunak seperti cacing tanah dan siput tanpa cangkang, hingga mangsa bertubuh keras seperti lalat, kaki seribu, lipan, dan kumbang. Komposisi mangsanya sangat bergantung pada ketersediaan lokal, bukan preferensi tetap terhadap satu jenis makanan.

Individu muda tampaknya mengalami pencetakan (imprinting) terhadap jenis mangsa tertentu segera setelah bermetamorfosis dari tahap larva menjadi bentuk dewasa, yang dapat memengaruhi preferensi makan mereka di kemudian hari.

Reproduksi dan Siklus Hidup

Perkawinan Salamandra salamandra berlangsung di darat melalui rangkaian perilaku yang khas. Setelah menyadari keberadaan betina, jantan akan menghadang jalannya, menggosokkan dagu ke tubuhnya sebagai tanda ketertarikan, lalu merangkak ke bawah tubuh betina dan menggenggam kaki depannya dalam posisi amplexus. Jantan kemudian meletakkan spermatofor—paket sperma bertangkai—di tanah dan berusaha mengarahkan kloaka betina agar bersentuhan dengannya sehingga sperma dapat terserap dan pembuahan terjadi secara internal.

Betina dapat menyimpan sperma untuk sementara waktu sebelum ovulasi dan pembuahan benar-benar terjadi, sebuah mekanisme yang menjelaskan jeda panjang antara puncak musim kawin di musim panas dan kelahiran larva pada musim semi berikutnya, setelah masa hibernasi musim dingin. Pada populasi di Timur Tengah yang beriklim lebih hangat, pola ini bergeser: perkawinan terjadi antara Oktober hingga Januari, dan larva lahir pada November-Desember tahun berikutnya, setelah periode tidak aktif akibat musim panas yang kering.

Spesies ini bersifat vivipar: telur yang telah dibuahi tetap berada di dalam tubuh betina dan embrio memperoleh nutrisi dari kuning telurnya sendiri. Betina kemudian melepaskan larva ke badan air tepat saat menetas, dan pada tahap ini larva umumnya sudah cukup berkembang; beberapa populasi bahkan melahirkan anak yang sudah bermetamorfosis sepenuhnya, melewati tahap larva akuatik.

Perkawinan terjadi sekali per tahun, namun karena individu dapat hidup lebih dari 24 tahun, betina memiliki banyak kesempatan untuk berkembang biak sepanjang hidupnya.

Konservasi dan Ancaman

Secara global, Salamandra salamandra masih tercatat berstatus Risiko Rendah dalam Daftar Merah IUCN. Namun demikian, sejumlah populasi regional mengalami penurunan tajam sehingga pada 2023 penilaian IUCN untuk spesies ini diperbarui menjadi Rentan, mencerminkan tren penurunan yang telah terjadi maupun yang diproyeksikan ke depan.

Ancaman paling serius saat ini adalah jamur chytrid Batrachochytrium salamandrivorans (Bsal), yang pertama kali teridentifikasi di Belanda pada 2013 setelah menyebabkan kematian massal sejak 2008. Salah satu populasi di Belanda anjlok drastis dari 241 individu menjadi hanya empat pada 2011—penurunan hingga 96 persen—dan penyakit ini sejak itu menyebar ke Belgia, Jerman barat, serta satu lokasi terisolasi di Spanyol yang memengaruhi subspesies S. s. hispanica. Beberapa lokasi di Pegunungan Eifel bahkan sudah tidak lagi menemukan spesies ini sama sekali, menandakan penurunan berskala luas yang mungkin sudah terjadi sebelum penyakit ini teridentifikasi secara ilmiah.

Selain penyakit, fragmentasi habitat menjadi ancaman tersendiri karena spesies ini sangat setia pada wilayah jelajah dan lokasi hibernasinya, sehingga sulit beradaptasi ketika habitat terputus. Pencemaran lingkungan juga berdampak besar mengingat kulitnya yang permeabel, sementara penangkapan liar untuk perdagangan hewan peliharaan dan penelitian—meski kini berkurang berkat regulasi yang lebih ketat—masih menjadi faktor historis yang perlu diawasi.

Status konservasi

  1. LC
  2. NT
  3. VU
  4. EN
  5. CR

Risiko Rendah

Signifikansi Budaya

Mitos salamander yang mampu bertahan hidup di dalam api—bahkan memadamkannya—sudah dikenal sejak abad ke-4 SM, dituliskan oleh Aristoteles dan muridnya Theophrastus. Sebagian besar mitos populer tentang salamander api ini diyakini berasal dari pengamatan terhadap Salamandra salamandra, yang kerap ditemukan bersembunyi di dalam kayu lapuk berongga saat berhibernasi, sehingga ketika kayu tersebut dibakar, hewan ini tampak muncul dari dalam api.

Dalam tradisi alkimia dan folklor Eropa, salamander dianggap sebagai salah satu dari empat makhluk elemental, dan secara khusus dikaitkan dengan unsur api meskipun kenyataannya hewan ini hidup di lingkungan lembap dan berkulit basah.

Di luar dunia mitos, spesies ini populer dalam perdagangan hewan peliharaan dan telah digunakan sebagai model dalam penelitian ilmiah. Sekresi kulitnya mengandung alkaloid seperti samandarin dan samandaron yang bersifat racun saraf, dapat menyebabkan kejang otot dan hipertensi pada vertebrata serta berpotensi berbahaya bagi manusia, namun senyawa yang sama juga diketahui memiliki sifat antibakteri dan antijamur.

Fakta Menarik

  1. Mitos tentang salamander yang tahan api sudah dituliskan Aristoteles dan Theophrastus sejak abad ke-4 SM, menjadikan Salamandra salamandra salah satu asal-usul legenda tersebut.
  2. Meski hidup di lingkungan lembap dan bersembunyi di kayu lapuk basah, spesies ini justru dikaitkan dengan unsur api dalam folklor Eropa sebagai salah satu dari empat makhluk elemental.
  3. Individu dapat hidup lebih dari dua dekade, dengan catatan umur mencapai 24 tahun.
  4. Di penangkaran, betina dapat menyimpan sperma dalam jangka panjang dan menggunakannya kembali untuk membuahi kelompok telur berikutnya tanpa perlu kawin ulang, meski perilaku ini belum pernah teramati di alam liar.
  5. Beberapa populasi melahirkan anak yang sudah sepenuhnya bermetamorfosis, sehingga sama sekali melewati tahap larva akuatik yang biasa dialami salamander lain.

Ekologi

Diet

  • Karnivora

Perilaku

  • Nokturnal
  • Predator
  • Soliter
  • Hibernasi

Habitat

  • Hutan
  • Kawasan Berhutan
  • Air Tawar

Foto

15 foto
1 / 15
Seekor salamander bertubuh gelap dengan pola warna mencolok yang berfungsi sebagai peringatan bagi predator, terlihat di antara dedaunan lembap di lantai hutan.Foto: via iNaturalist, licensed under CC0 1.0., CC0

SumberGBIFiNaturalistWikidataWikipediaAnimal Diversity WebAnAge