Lewati ke konten
Lewati ke artikel

Serigala

Canis lupus

LCRisiko Rendah
Seekor serigala dewasa dengan bulu abu-abu kecokelatan berdiri di padang terbuka, bermoncong panjang, bertelinga kecil segitiga, dan berekor tebal menjuntai.Foto: via iNaturalist, licensed under CC0 1.0., CC0

Pengukuran

Berat
26,625–26,625 kg
Umur hidup
≤ 20,6 tahun
Klasifikasi
Filum
Chordata
Kelas
Mammalia
Ordo
Carnivora
Famili
Canidae
Genus
Canis
Spesies
Canis lupus

Canis lupus, atau serigala, adalah anggota terbesar yang masih hidup di antara seluruh keluarga Canidae. Hewan ini begitu dekat kekerabatannya dengan spesies Canis yang lebih kecil, seperti coyote dan serigala emas, sehingga mampu menghasilkan keturunan subur jika dikawinkan dengan mereka.

Serigala liar tersebar di Eurasia dan Amerika Utara, menghuni tundra, hutan, padang rumput, hingga lanskap kering. Berdasarkan status IUCN, spesies ini dinilai Risiko Rendah (Least Concern) karena wilayah jelajahnya yang luas dan populasinya yang relatif stabil. Di balik reputasinya yang sering digambarkan menakutkan dalam cerita rakyat, serigala sesungguhnya adalah hewan sosial yang cerdas dengan struktur kelompok yang rumit dan kemampuan berburu yang sangat terkoordinasi.

Identifikasi dan Penampilan

Ciri paling mudah untuk mengenali serigala adalah moncongnya yang lebih lebar dan tumpul dibandingkan coyote atau serigala emas, dipadukan dengan telinga yang relatif kecil dan segitiga serta ekor yang lebih panjang. Tubuhnya ramping namun berotot kuat, dengan tulang rusuk yang dalam, punggung sedikit melandai, dan leher yang berotot tebal.

Serigala dewasa berukuran panjang tubuh 105–160 cm dengan tinggi bahu 80–85 cm, sementara ekornya sendiri mencapai 29–50 cm. Berat rata-rata sekitar 40 kg, meski rentangnya bisa dari 12 kg pada individu terkecil hingga 79,4 kg pada individu terbesar yang pernah tercatat; menurut hukum Bergmann, serigala di lintang yang lebih tinggi cenderung berukuran lebih besar. Serigala di Rusia tengah bahkan bisa mencapai 69–79 kg, sedangkan populasi di India dan Jazirah Arab umumnya hanya sekitar 25 kg.

Tengkorak serigala berukuran 230–280 mm dengan gigi yang besar dan kokoh, cukup kuat untuk menghancurkan tulang meski tidak sekhusus gigi hiena. Bulu musim dinginnya sangat tebal dan berlapis, dengan bulu penutup panjang di bahu dan leher yang hampir membentuk jambul, serta lapisan bawah yang gugur dan tumbuh kembali setiap tahun. Warna bulunya berkisar dari campuran putih, cokelat, abu-abu, hingga hitam, sedangkan subspesies di kawasan Arktik bisa hampir seluruhnya putih.

Betina umumnya memiliki moncong dan dahi yang lebih sempit, leher lebih tipis, kaki sedikit lebih pendek, dan bahu yang tidak seberotot pejantan. Serigala tua cenderung memiliki lebih banyak rambut putih di ujung ekor, hidung, dan dahi, sementara betina yang menyusui mempertahankan bulu musim dinginnya paling lama, meski ada kerontokan di sekitar puting.

Distribusi dan Habitat

Serigala menempati wilayah yang sangat luas, membentang di Eurasia dan Amerika Utara, dari permukaan laut hingga ketinggian 3.000 meter. Habitatnya sangat beragam, meliputi hutan, lahan basah pedalaman, semak belukar, padang rumput termasuk tundra Arktik, padang penggembalaan, gurun, hingga puncak berbatu di pegunungan.

Penggunaan habitat oleh serigala sangat bergantung pada ketersediaan mangsa, kondisi salju, kepadatan ternak, kepadatan jalan, keberadaan manusia, dan topografi setempat. Sayangnya, perburuan yang disengaja oleh manusia—didorong oleh kekhawatiran atas predasi ternak dan ketakutan akan serangan pada manusia—telah menyusutkan wilayah jelajah serigala hingga hanya sekitar sepertiga dari luas historisnya. Spesies ini telah punah secara lokal di sebagian besar Eropa Barat, Amerika Serikat, dan Meksiko, serta punah total di Kepulauan Britania dan Jepang.

Di masa modern, serigala kini terutama ditemukan di kawasan liar dan terpencil yang jauh dari permukiman padat. Data kemunculan bulanan dari pengamatan global menunjukkan jumlah tertinggi pada bulan Juni dan Agustus, sedikit lebih rendah pada awal musim dingin, meski data ini hanya mencatat keberadaan yang teramati dan bukan gambaran kepadatan populasi atau wilayah jelajah yang lengkap.

Peta catatan keberadaan Canis lupus
Lokasi tercatat · GBIF
21.960
JanFebMarAprMeiJunJulAguSepOktNovDes
Jumlah kejadian bulanan · GBIF

Perilaku dan Gaya Hidup

Serigala adalah hewan sosial yang hidup dalam kelompok atau kadang menyendiri sementara waktu saat berpisah dari kelompok asal. Satu kelompok biasanya beranggotakan 5 hingga 9 individu, meski bisa berkisar dari 2 hingga 36 ekor tergantung habitat dan kelimpahan mangsa; kelompok luar biasa besar dengan hingga 42 ekor pernah tercatat. Inti sosialnya adalah sepasang alfa—jantan dan betina dominan—beserta keturunan mereka dari berbagai tahun, dan kadang individu pendatang yang tidak berkerabat.

Hierarki dominasi di dalam kelompok sangat kuat dan ditunjukkan lewat bahasa tubuh, seperti merendahkan badan, menyentuh dagu, atau berguling menunjukkan perut. Peringkat ini menentukan siapa yang kawin dan siapa yang makan lebih dulu. Sepanjang tahun, kelompok serigala mengalami fase menetap saat musim semi dan panas ketika anak-anak dibesarkan, lalu fase nomaden saat musim gugur dan dingin. Mereka bergerak terutama pada malam hari, mampu menempuh jarak hingga 200 km sehari dengan kecepatan jelajah sekitar 8 km/jam, dan dapat berlari hingga 55–70 km/jam saat mengejar mangsa.

Wilayah teritorial satu kelompok berkisar dari 130 hingga 13.000 km persegi dan dipertahankan dengan agresif dari kelompok lain; perkelahian antarteritori bahkan menjadi salah satu penyebab utama kematian serigala di beberapa populasi. Anak-anak biasanya tinggal di kelompok asal selama 10 hingga 54 bulan sebelum berpisah, dengan beberapa individu tercatat menempuh jarak dispersal hingga 670 km dari kelompok kelahirannya untuk mendirikan kelompok baru.

Sebuah laporan lapangan tahun 2025 mendokumentasikan seekor serigala menarik pelampung dan tali perangkap kepiting untuk membawa perangkap yang tenggelam ke tepi agar dapat mengakses umpan di dalamnya—perilaku yang oleh para penulisnya digambarkan sebagai kemungkinan penggunaan alat dan pemahaman bertahap terhadap hubungan antara pelampung dan umpan yang tersembunyi.

Komunikasi

Serigala berkomunikasi melalui vokalisasi, bahasa tubuh, aroma, sentuhan, dan rasa. Lolongan digunakan untuk mengumpulkan kelompok sebelum dan sesudah berburu, menyebarkan peringatan terutama di sekitar sarang, saling menemukan lokasi saat badai atau ketika melintasi wilayah asing, serta menandai batas teritori kepada kelompok lain; dalam kondisi tertentu, lolongan bisa terdengar hingga area seluas 130 km persegi. Bertentangan dengan kepercayaan populer, fase bulan tidak memengaruhi kebiasaan melolong serigala, dan mereka sesungguhnya tidak melolong pada bulan itu sendiri.

Selain melolong, serigala juga menggeram, menggonggong beberapa kali sebelum mundur dari ancaman, dan berdesis lembut. Postur tubuh menyampaikan status sosial: individu yang agresif bergerak lambat dan tegas dengan tubuh tinggi serta bulu tengkuk berdiri, sementara individu yang tunduk merendahkan badan, meratakan bulu, dan menurunkan telinga serta ekor.

Penandaan aroma dilakukan lewat urine, feses, serta sekresi kelenjar preputial dan anal, dan terbukti lebih efektif mengiklankan batas teritori dibanding lolongan. Serigala meningkatkan frekuensi penandaan ketika menemukan jejak dari kelompok lain, dan pasangan yang baru terbentuk menandai paling sering, sedangkan serigala tunggal jarang melakukannya. Tanda-tanda ini biasanya diletakkan setiap 240 meter di jalur dan persimpangan wilayah, dapat bertahan dua hingga tiga minggu, dan urine yang dikencingkan dengan kaki terangkat menyumbang 60–80% dari seluruh tanda aroma yang tercatat.

Berburu dan Makanan

Serigala berburu dengan mengandalkan kebetulan atau penciuman untuk melacak mangsa, lalu mengejarnya sendirian atau bersama kelompok tergantung ukuran target. Untuk mangsa besar seperti moose, elk, bison, muskox, dan rusa kutub, mereka berburu berkelompok dan menyerang bagian pantat, pinggang, serta bahu hewan buruannya begitu berhasil menjatuhkannya.

Jenis mangsa yang dimakan sangat bervariasi menurut geografi dan ketersediaan hewan buruan di suatu wilayah. Serigala tunggal lebih sering memburu mangsa kecil seperti berang-berang dan kelinci, yang juga menjadi bagian penting dari pola makan mereka secara keseluruhan. Dalam satu kali makan, seekor serigala bisa menghabiskan hingga 9 kg daging, dan mereka umumnya memanfaatkan hampir seluruh bangkai, termasuk sebagian bulu dan tulangnya.

Selain berburu langsung, serigala juga mencuri hasil buruan predator lain dan memakan bangkai (karnivora oportunistik). Ketika berburu hewan besar, mereka cenderung menyasar individu yang lemah, tua, atau belum dewasa, sehingga secara tidak langsung membantu mengendalikan kualitas populasi mangsanya. Ketika kesempatan tersedia, serigala juga tidak segan memangsa ternak atau mencari makanan dari sampah manusia.

Reproduksi dan Membesarkan Anak

Hanya sepasang individu dominan dalam satu kelompok—si alfa jantan dan betina—yang berkembang biak, dan pasangan ini bersifat monogami serta cenderung bertahan seumur hidup. Jika salah satu pasangan mati, penggantinya biasanya ditemukan dengan cepat. Musim kawin berlangsung antara Januari dan April, dengan populasi di wilayah utara berkembang biak lebih lambat dibanding populasi selatan; betina memasuki masa estrus sekali setahun yang berlangsung 5 hingga 14 hari.

Setelah kawin, betina menggali atau memanfaatkan sarang alami seperti celah batu, tebing sungai, liang bekas rubah atau marmut, biasanya tidak lebih dari 500 meter dari sumber air dan menghadap ke selatan agar cepat hangat oleh sinar matahari. Masa kebuntingan berlangsung sekitar 60–63 hari, kadang tercatat hingga 75 hari, dengan ukuran anak sekelahiran berkisar 1 hingga 14 ekor dan rata-rata 6–7 ekor; betina muda umumnya melahirkan lebih sedikit anak dibanding betina yang lebih tua.

Anak serigala lahir buta dan tuli dengan berat hanya 300–500 gram, ditutupi bulu lembut abu-abu kecokelatan yang membuatnya menyerupai anak anjing Gembala Jerman. Mata mereka mulai terbuka pada usia 9–15 hari, gigi taring susu tumbuh setelah satu bulan, dan mereka mulai berjalan serta bersuara tak lama setelahnya. Hingga usia 45 hari, seluruh anggota kelompok memberi makan anak-anak dengan makanan yang dimuntahkan kembali, setelah itu mereka mulai diberi daging langsung.

Anak-anak mulai meninggalkan sarang pertama kali pada usia sekitar tiga minggu, bermain berkelahi untuk membentuk hierarki sosial pada usia lima hingga delapan minggu, dan mulai ikut berburu bersama kelompok pada usia sekitar sepuluh bulan agar siap menghadapi musim dingin. Betina mencapai kematangan reproduksi pada usia dua tahun, sementara jantan baru matang penuh pada usia tiga tahun, dan kebanyakan anak muda berpisah dari kelompok asalnya antara usia satu hingga tiga tahun.

Populasi dan Peran Ekologis

Perkiraan populasi serigala liar global pada tahun 2003 mencapai sekitar 300.000 ekor, dengan tren penurunan yang mulai tertahan sejak tahun 1970-an berkat perlindungan hukum, perubahan pemanfaatan lahan, dan pergeseran penduduk pedesaan ke kota. Sebagai predator puncak di banyak ekosistem, serigala berperan penting mengendalikan populasi mangsanya dengan menyasar individu yang lemah, tua, atau sakit.

Di antara sesama karnivora, serigala umumnya mendominasi spesies anjing liar lain di wilayah yang sama; mereka kerap membunuh coyote, terutama pada musim dingin, dan menyerang sarang anak coyote meski jarang memakannya. Interaksi dengan beruang cokelat bersifat dua arah—beruang biasanya mengalahkan serigala dalam perebutan bangkai, tetapi kelompok serigala lebih sering menang saat mempertahankan sarang, dan kedua spesies saling membunuh anak lawannya. Serigala juga mendominasi dan kadang membunuh wolverine, serta berinteraksi kompleks dengan felid besar seperti macan tutul salju dan harimau Siberia, yang di wilayah Timur Jauh Rusia diketahui dapat menekan populasi serigala hingga punah secara lokal.

Serigala juga membawa berbagai penyakit yang memengaruhi dinamika populasinya, termasuk rabies, distemper anjing, parvovirus anjing, serta penyakit bakteri seperti brucellosis dan penyakit Lyme; masa inkubasi rabies pada serigala berlangsung 8–21 hari dan dapat mendorong individu yang terinfeksi menjelajah hingga 80 km sehari, meningkatkan risiko penularan ke serigala lain.

Domestikasi dan Sejarah Manusia

Anjing peliharaan modern merupakan salah satu dari lebih tiga puluh subspesies yang diakui dalam Canis lupus, menjadikan hubungan antara serigala dan manusia jauh lebih dalam daripada sekadar predator dan mangsa ternak. Secara historis, bulu serigala liar dimanfaatkan manusia sebagai bahan penghangat.

Di luar hubungannya dengan anjing peliharaan, serigala liar tetap memiliki nilai ekonomi tersendiri bagi manusia modern melalui ekowisata, yang menjadi sumber pendapatan penting bagi taman nasional dan kawasan konservasi tempat mereka diamati di alam. Berbagai produk bertema serigala—poster, buku, dan kaos—juga populer di pasaran, mencerminkan bagaimana banyak orang memandang serigala sebagai simbol jiwa alam liar.

Sebagai predator puncak, keberadaan serigala liar juga memberi manfaat ekologis tidak langsung bagi manusia dengan membantu mengendalikan populasi hewan mangsanya di ekosistem tempat mereka hidup.

Konservasi dan Ancaman

Serigala saat ini digolongkan Risiko Rendah (Least Concern) oleh IUCN karena wilayah jelajahnya yang masih luas dan populasi globalnya yang relatif stabil. Namun status ini menutupi sejarah panjang penurunan drastis: perluasan pertanian, hilangnya mangsa utama seperti bison Amerika, serta kampanye pemusnahan langsung oleh manusia pernah membuat serigala hampir tersapu habis dari 48 negara bagian daratan Amerika Serikat, dan menyebabkannya punah total di Kepulauan Britania sejak 1684, Irlandia sejak 1770, Eropa Tengah sejak 1899, Prancis pada 1930-an, dan sebagian besar Skandinavia pada awal 1970-an.

Ancaman utama yang masih berlanjut hingga kini adalah konflik dengan manusia terkait persaingan atas ternak dan hewan buruan, kekhawatiran akan bahaya serigala bagi manusia, serta fragmentasi habitat. Sejak akhir 1970-an, tren populasi mulai membaik lewat perlindungan hukum dan reintroduksi di berbagai wilayah: populasi di daratan Amerika Serikat kini sekitar 2.600 ekor (hampir 2.000 di Minnesota saja), kawasan Great Lakes memiliki lebih dari 4.000 ekor per 2018, dan program reintroduksi serigala Meksiko yang dimulai lewat kerja sama Meksiko-AS sejak 1977–1980 kini telah membangun kembali populasi liar lebih dari 300 ekor.

Di kawasan lain, Kanada menampung 50.000–60.000 ekor di 80% wilayah historisnya, Alaska sekitar 7.000–11.000 ekor, sementara Uni Eropa mencatat 20.300 ekor dengan kelompok berkembang biak di 23 negara, termasuk sekitar 4.000 di Balkan dan 3.460–3.849 di Pegunungan Carpathia. Serigala dilindungi lewat Konvensi Berne 1979 dan Arahan Habitat Uni Eropa 1992, serta terdaftar dalam Appendix II CITES (kecuali populasi di Bhutan, India, Nepal, dan Pakistan yang masuk Appendix I dengan larangan perdagangan komersial spesimen liar).

Status konservasi

  1. LC
  2. NT
  3. VU
  4. EN
  5. CR

Risiko Rendah

Signifikansi Budaya

Serigala menjadi motif berulang dalam mitologi hampir setiap peradaban yang pernah berbagi wilayah dengannya. Bangsa Yunani Kuno mengaitkan serigala dengan Apollo, dewa cahaya dan tatanan, sementara Romawi Kuno menghubungkannya dengan Mars, dewa perang dan pertanian, serta memercayai bahwa Romulus dan Remus—pendiri Roma—disusui oleh induk serigala. Dalam mitologi Nordik, serigala raksasa Fenrir ditakuti sebagai kekuatan destruktif, sedangkan Geri dan Freki digambarkan sebagai serigala peliharaan setia dewa Odin. Di astronomi Cina, serigala melambangkan bintang Sirius sebagai penjaga gerbang langit, tetapi dalam budaya Cina tradisional serigala justru dikaitkan dengan keserakahan dan kekejaman lewat ungkapan-ungkapan seperti "hati serigala".

Bagi bangsa Pawnee, serigala adalah hewan pertama yang dibawa ke Bumi menurut mitos penciptaan mereka, dan bintang Sirius disebut "bintang serigala" yang kemunculan serta lenyapnya menandai perjalanan serigala ke dan dari dunia arwah; baik Pawnee maupun Blackfoot menyebut Bima Sakti sebagai "jalur serigala". Bagi klan Kwakwaka'wakw di pesisir barat laut Amerika Utara, serigala menjadi simbol lambang penting, sementara suku Dena'ina meyakini serigala dahulu adalah manusia dan memandangnya sebagai saudara—berbeda dengan kepercayaan Navajo yang mengaitkan serigala dengan penyihir yang mengenakan kulitnya untuk membunuh dan merampok kuburan.

Dalam sastra Barat, dongeng Aesop seperti asal ungkapan "berteriak serigala" (cry wolf) serta karakter Isengrim dalam Siklus Reynard turut membentuk citra serigala sebagai sosok licik dan berbahaya, citra yang diperkuat lagi oleh Si Kerudung Merah karya Charles Perrault (1697) dengan tokoh Serigala Jahat yang mampu menyamar sebagai manusia. Di sisi lain, dalam mitologi Jepang, serigala justru berperan sebaliknya sebagai pelindung dan pemandu spiritual, sementara Alkitab menggunakan citra serigala berbaring bersama anak domba sebagai simbol visi masa depan yang utopis.

Fakta Menarik

  1. Sebuah laporan lapangan tahun 2025 mendokumentasikan seekor serigala menarik pelampung perangkap kepiting untuk mengakses umpan di dalamnya, perilaku yang oleh penelitinya dianggap sebagai kemungkinan penggunaan alat.
  2. Lolongan serigala dalam kondisi tertentu dapat terdengar hingga area seluas 130 km persegi.
  3. Meski tergolong spesies tersendiri, serigala cukup dekat kekerabatannya dengan coyote dan serigala emas sehingga mampu menghasilkan keturunan subur jika dikawinkan.
  4. Tingkat hormon kortisol pada serigala meningkat signifikan ketika salah satu anggota kelompoknya mati, menunjukkan mereka mengalami stres akibat kehilangan.
  5. Anak serigala yang baru lahir sangat menyerupai anak anjing ras Gembala Jerman, dengan bulu lembut abu-abu kecokelatan dan berat hanya 300–500 gram.
  6. Kelompok serigala terbesar yang pernah tercatat beranggotakan hingga 42 ekor, jauh di atas rata-rata kelompok yang biasanya hanya 5–9 ekor.

Ekologi

Diet

  • Karnivora

Perilaku

  • Nokturnal
  • Predator
  • Teritorial
  • Sosial

Habitat

  • Hutan
  • Gunung
  • Padang Rumput
  • Tundra

Foto

20 foto
1 / 20
Seekor serigala dewasa dengan bulu abu-abu kecokelatan berdiri di padang terbuka, bermoncong panjang, bertelinga kecil segitiga, dan berekor tebal menjuntai.Foto: via iNaturalist, licensed under CC0 1.0., CC0

SumberGBIFiNaturalistWikidataWikipediaAnimal Diversity WebAnAge