Lewati ke konten
Lewati ke artikel

Calocybe gambosa

Calocybe gambosa

Belum ada nama umum tercatat

LCRisiko Rendah
Sekelompok jamur Calocybe gambosa berwarna putih krem tumbuh di rerumputan, dengan tudung tebal dan bilah rapat berwarna putihFoto: via iNaturalist, licensed under CC0 1.0., CC0

Sekilas

Dikenal karena
Padang Rumput
Klasifikasi
Filum
Basidiomycota
Kelas
Agaricomycetes
Ordo
Agaricales
Famili
Lyophyllaceae
Genus
Calocybe
Spesies
Calocybe gambosa

Di South Downs, Inggris selatan, Calocybe gambosa membentuk lingkaran peri (fairy ring) raksasa yang diperkirakan berusia beberapa ratus tahun, bukti bahwa satu koloni jamur ini bisa bertahan hidup jauh lebih lama daripada tubuh buahnya yang hanya tampak semusim.

Spesies ini adalah jamur dari famili Lyophyllaceae, sebelumnya dimasukkan ke dalam genus besar Tricholoma. Ia tersebar luas di padang rumput Eropa dan berstatus konservasi Risiko Rendah (Least Concern) menurut IUCN. Nama umumnya dalam bahasa Inggris, St. George's Mushroom, berasal dari Hari Santo George, sekitar waktu jamur ini mulai muncul di Inggris Raya.

Kemunculannya yang khas di awal musim semi, jauh sebelum jamur-jamur lain bermunculan, menjadikannya penanda musiman yang dikenal luas di berbagai budaya Eropa sekaligus buruan kuliner yang dicari dengan penuh kehati-hatian.

Tubuh Buah dan Identifikasi

Ciri paling mudah dikenali dari Calocybe gambosa adalah tudungnya yang berdiameter 5–15 cm, bertekstur halus namun berkerut-kerut, dengan warna putih hingga krem yang juga mewarnai bilah dan dagingnya. Bilah (gigi jamur) berbentuk sinuat, berwarna putih, dan tersusun rapat. Tangkainya pendek dan gempal dengan pangkal yang membesar, sedangkan dagingnya padat dan lunak dengan aroma khas seperti tepung atau mentimun. Spora yang dihasilkan berwarna putih.

Ciri-ciri ini berubah relatif sedikit seiring usia tubuh buah, sehingga bentuk keseluruhan tudung tebal, bilah rapat, dan tangkai gempal tetap menjadi acuan identifikasi utama sepanjang musim munculnya.

Distribusi dan Habitat

Calocybe gambosa umum dijumpai di padang rumput Eropa, terutama di kawasan yang kaya kapur (limestone). Jamur ini tercatat melimpah di pulau-pulau Swedia, Öland dan Gotland, yang terletak di Laut Baltik, serta membentuk lingkaran peri raksasa di South Downs, Inggris selatan, yang diperkirakan berusia ratusan tahun.

Waktu kemunculannya mengikuti pola musiman yang jelas: di Inggris Raya jamur ini muncul antara April dan Juni, lebih awal di negara-negara beriklim hangat dan lebih lambat di negara beriklim dingin. Di Italia, misalnya, ia sudah muncul pada bulan Maret sehingga mendapat nama lokal marzolino atau prugnolo.

Data pengamatan bulanan menunjukkan lonjakan tajam jumlah catatan pada April dan Mei, jauh melampaui bulan-bulan lain sepanjang tahun. Pola ini sejalan dengan musim fruktifikasi yang dilaporkan, meski catatan pengamatan semacam ini hanya mencerminkan keberadaan jamur pada suatu waktu dan tempat, bukan ukuran kelimpahan populasi atau gambaran lengkap wilayah sebarannya.

Peta catatan keberadaan Calocybe gambosa
Lokasi tercatat · GBIF
9.367
JanFebMarAprMeiJunJulAguSepOktNovDes
Jumlah kejadian bulanan · GBIF

Kegunaan dan Sejarah Budaya

Calocybe gambosa paling baik dipetik saat cuaca kering, dan meski penampilannya mirip beberapa jenis beracun, jamur ini diketahui dikonsumsi setelah dimasak, diasinkan, bahkan mentah. Dalam jumlah komersial, jamur ini diimpor dari Rumania, Hungaria, dan Turki untuk memenuhi permintaan pasar Eropa.

Jamur ini memiliki sejarah kuliner panjang di Italia. Pada 1569, Costanzo Felici mencatatnya sebagai jamur termahal dan paling dihormati di kawasan Umbria dan Marche pada masa Italia abad pertengahan. Lebih dari dua abad kemudian, pada 1777, Giovanni Targioni Tozzetti mencatat kedudukan tinggi serupa di wilayah Pegunungan Apennine, meliputi Liguria, Toskana, dan Emilia-Romagna. Hingga kini, jamur ini masih dikonsumsi secara lokal di Emilia-Romagna dan Toskana.

Di Negara Basque, Spanyol utara, Calocybe gambosa sangat dihargai dan dijual dengan harga tinggi. Di Álava, jamur ini secara tradisional disantap bersama siput pada perayaan Santo Prudentius tanggal 28 April. Jamur ini juga menjadi bahan penting dalam kuliner Bilbao, biasanya diolah menjadi telur dadar (omelet). Permintaan di kawasan Basque begitu tinggi sehingga jamur ini pun harus diimpor dari Eropa Timur.

Fakta Menarik

  1. Nama genus Calocybe berasal dari bahasa Yunani Kuno kalos ("indah") dan kybos ("kepala"), merujuk pada tudung jamur dalam genus ini yang menarik secara visual.
  2. Julukan spesies gambosa berasal dari kata Latin gambosus, yang berarti "berkaki gempal", mengacu pada tangkai jamur yang cenderung tebal dan tidak beraturan bentuknya.
  3. Selain dikenal sebagai St. George's Mushroom di Inggris, jamur ini juga memiliki nama rakyat lain di Eropa, seperti Marzolino di Italia dan Maipilz di Jerman.
  4. Jamur ini bersifat mikoriza dan kadang saprofitik, artinya ia bisa hidup bersimbiosis dengan akar tanaman sekaligus menguraikan bahan organik mati.
  5. Lingkaran peri yang dibentuknya di South Downs, Inggris, diperkirakan telah tumbuh selama beberapa ratus tahun, menjadikannya salah satu koloni jamur tertua yang tercatat di kawasan tersebut.

Status konservasi

  1. LC
  2. NT
  3. VU
  4. EN
  5. CR

Risiko Rendah

Ekologi

Habitat

  • Padang Rumput

Foto

20 foto
1 / 20
Sekelompok jamur Calocybe gambosa berwarna putih krem tumbuh di rerumputan, dengan tudung tebal dan bilah rapat berwarna putihFoto: via iNaturalist, licensed under CC0 1.0., CC0

SumberGBIFiNaturalistWikidataWikipedia