Coprinus comatus memiliki sifat yang jarang ditemui pada jamur lain: begitu dipetik atau setelah melepaskan spora, tubuhnya berubah hitam dan melebur menjadi cairan seperti tinta hanya dalam beberapa jam. Proses pembusukan diri ini, yang disebut deliquescence, membuatnya sulit disimpan lama dan menjadi ciri paling mencolok dari spesies ini.
Di Indonesia dikenal dengan nama Jamur Janggel, spesies dari keluarga Agaricomycetes ini tergolong dalam status konservasi Least Concern atau berisiko rendah menurut IUCN, menandakan populasinya masih luas dan stabil. Tubuh buah mudanya muncul sebagai silinder putih dari tanah sebelum tudungnya membuka seperti lonceng, dengan insang di bawahnya yang berubah warna secara dramatis dari putih ke merah muda lalu hitam.
Keunikan siklus hidupnya yang serba cepat, dari muncul hingga melebur dalam waktu singkat, menjadikan jamur ini objek pengamatan yang menarik bagi siapa pun yang tertarik pada dinamika alam yang berlangsung nyaris di depan mata.
Tubuh Buah dan Identifikasi
Ciri paling mudah dikenali dari Coprinus comatus adalah tudungnya yang hampir berbentuk silinder dan awalnya menutupi sebagian besar batangnya. Tudung ini berukuran lebar 4–8 cm dan tinggi 6–20 cm, berwarna putih dengan sisik-sisik berbulu yang cenderung lebih cokelat pucat di bagian puncaknya.
Insang di bawah tudung bersifat bebas (tidak menyatu dengan batang) dan berubah warna dengan cepat, dari putih menjadi merah muda, sebelum akhirnya melebur (deliquesce) menjadi cairan hitam yang dipenuhi spora, asal nama "ink cap" atau jamur tinta. Batangnya berwarna putih dan cukup tebal, berukuran 6–40 cm tinggi dengan diameter 1–2,5 cm, dan memiliki cincin longgar di bagian bawah. Secara mikroskopis, jamur ini tidak memiliki pleurocystidia, spora berwarna cokelat kehitaman berukuran 10–13 kali 6,5–8 mikrometer, dan dagingnya berwarna putih dengan rasa yang tawar.
Distribusi dan Habitat
Coprinus comatus tumbuh langsung di atas tanah, di rerumputan, di pinggir jalan atau jalur setapak, serta di tanah yang terganggu oleh aktivitas manusia. Spesies ini tumbuh berkelompok di padang rumput dan lahan berumput di Amerika Utara dan Eropa, dengan musim kemunculan dari Juni hingga November di Inggris Raya.
Selain wilayah asalnya, jamur ini juga tercatat telah diperkenalkan ke Australia, Selandia Baru, dan Islandia, menunjukkan kemampuannya beradaptasi di lingkungan baru yang menyerupai habitat aslinya.
Data jumlah pengamatan bulanan dari GBIF menunjukkan lonjakan tajam pada bulan September hingga November, dengan puncak tertinggi pada Oktober (77.349 pengamatan) dibandingkan hanya ratusan hingga ribuan pengamatan pada bulan-bulan awal tahun. Angka ini hanya mencerminkan pola pengamatan yang tercatat, bukan kepadatan populasi atau sebaran lengkap spesies, namun secara kasar mengisyaratkan bahwa kemunculan jamur ini lebih sering teramati pada musim gugur di belahan bumi utara.

Ekologi dan Hubungan
Coprinus comatus tumbuh langsung di atas tanah, terutama di rerumputan, pinggir jalan, dan area tanah yang terganggu, tempat ia mendapatkan bahan organik untuk pertumbuhannya. Habitat semacam ini umum dijumpai di padang rumput dan lahan terbuka di Amerika Utara dan Eropa.
Yang menarik, spesies ini bersifat nematofagus, artinya mampu membunuh dan mencerna nematoda, termasuk spesies Panagrellus redivivus dan Meloidogyne arenaria. Kemampuan ini menunjukkan bahwa jamur tinta tidak hanya bergantung pada bahan organik di tanah, tetapi juga berperan sebagai predator mikroskopis terhadap organisme kecil di sekitarnya.
Kegunaan dan Sejarah Budaya
Popularitas Coprinus comatus di Australia cukup tinggi sehingga jamur ini pernah diabadikan dalam sebuah prangko yang diterbitkan oleh Australia Post pada tahun 1981, menandakan pengenalan luas masyarakat terhadap spesies ini sebagai bagian dari kekayaan alam setempat.
Fakta Menarik
- Di banyak budaya, kemunculan Coprinus comatus yang mendadak setelah hujan membuatnya dipandang sebagai entitas magis yang tumbuh dalam semalam.
- Cairan hitam hasil peluruhan Coprinus comatus dikabarkan pernah digunakan sebagai tinta tulis pada zaman George Washington.
- Tubuh buah muda jamur ini muncul dari tanah dalam bentuk silinder putih sebelum tudungnya membuka menjadi bentuk lonceng bersisik, sebuah proses yang berlangsung sangat cepat.
Status konservasi
- LC
- NT
- VU
- EN
- CR
Risiko Rendah
Ekologi
Perilaku
- Predator
Habitat
- Padang Rumput
- Perkotaan
- Tanah Terganggu



