Lewati ke konten
Lewati ke artikel

Jamur kancing

Agaricus bisporus

Jamur berwarna putih hingga cokelat pucat dengan tudung bulat, insang cokelat tua, dan batang pendek berdiri di atas tanah gemburFoto: via iNaturalist, licensed under CC0 1.0., CC0

Sekilas

Dikenal karena
Kawasan BerhutanPadang RumputTanah Terganggu
Klasifikasi
Filum
Basidiomycota
Kelas
Agaricomycetes
Ordo
Agaricales
Famili
Agaricaceae
Genus
Agaricus
Spesies
Agaricus bisporus

Agaricus bisporus, atau jamur kancing, adalah jamur yang paling banyak dan paling luas dikonsumsi di seluruh dunia, dibudidayakan secara komersial di lebih dari 70 negara. Satu spesies ini justru menyandang banyak nama dan wujud berbeda: versi putih dan cokelat saat muda dikenal sebagai jamur kancing atau cremini, sementara bentuk dewasanya yang lebih besar dikenal sebagai portobello atau champignon de Paris.

Secara alami, jamur ini adalah basidiomycetes yang berasal dari padang rumput di Eurasia dan Amerika Utara. Popularitasnya yang mendunia membuatnya menjadi salah satu jamur paling dikenal dalam industri pangan, sekaligus salah satu contoh paling nyata bagaimana satu spesies liar dapat diubah menjadi komoditas pangan global melalui budidaya.

Tubuh Buah dan Identifikasi

Ciri paling khas dari Agaricus bisporus liar adalah tudung berwarna abu-abu kecokelatan pucat dengan sisik-sisik lebar dan pipih di atas dasar yang lebih terang, memudar ke arah tepinya. Tudung ini awalnya berbentuk setengah bola sebelum mendatar seiring pertumbuhannya, dengan diameter khas 5–10 sentimeter.

Insang jamur ini rapat, sempit, dan bebas dari batang, mulanya berwarna merah jambu, kemudian berubah menjadi merah kecokelatan, dan akhirnya menggelap menjadi cokelat tua dengan tepi keputihan akibat struktur mikroskopis bernama cheilocystidia. Batangnya berbentuk silinder, tingginya hingga 6 sentimeter dengan lebar 1–2 sentimeter, dan membawa cincin tebal namun sempit yang bagian atasnya kadang bergaris. Daging jamur ini berwarna putih dan kokoh, tetapi akan menampakkan bercak merah muda pucat ketika memar. Jejak sporanya berwarna cokelat tua, dengan spora berbentuk oval hingga bundar berukuran sekitar 4,5–5,5 x 5–7,5 mikrometer; basidiumnya umumnya menghasilkan dua spora, meski varietas berspora empat pernah dilaporkan dari Gurun Mojave dan kawasan Mediterania.

Distribusi dan Habitat

Agaricus bisporus tersebar luas di seluruh dunia dan tumbuh terutama pada musim gugur hingga musim dingin. Jamur ini sering ditemukan berasosiasi dengan pohon cemara (cypress), serta tumbuh baik pada tanah yang kaya nutrisi, kompos, dan pupuk kandang.

Data jumlah pengamatan bulanan menunjukkan pola yang menarik: jumlah pengamatan relatif rendah pada awal tahun, lalu meningkat tajam dan mencapai puncaknya pada bulan kesembilan dengan 450 pengamatan, sebelum menurun kembali menjelang akhir tahun. Pola ini konsisten dengan kecenderungan jamur ini untuk berbuah pada musim gugur.

Perlu dicatat bahwa data pengamatan semacam ini hanya mencatat keberadaan jamur di suatu lokasi dan waktu tertentu, bukan ukuran kelimpahan populasi atau gambaran lengkap wilayah persebaran aslinya.

Peta catatan keberadaan Agaricus bisporus
Lokasi tercatat · GBIF
450
JanFebMarAprMeiJunJulAguSepOktNovDes
Jumlah kejadian bulanan · GBIF

Kegunaan dan Sejarah Budaya

Agaricus bisporus memiliki peran ganda yang menonjol: sebagai bahan pangan yang dikonsumsi secara luas dan sebagai organisme yang efektif mengurangi kontaminan dalam air limbah melalui proses penguraiannya. Jamur ini juga dikenal memiliki sifat antimikroba dan antioksidan yang menjadikannya bahan penelitian di bidang kesehatan.

Secara ekonomi, jamur ini memiliki nilai yang sangat besar. Pada tahun 2022, produksi jamur dunia (termasuk truffle) mencapai 48 juta ton, dengan Tiongkok menyumbang 94 persen dari total tersebut, diikuti oleh Jepang dan Amerika Serikat sebagai produsen sekunder. Budidaya komersialnya pertama kali dijelaskan secara ilmiah oleh ahli botani Prancis Joseph Pitton de Tournefort pada tahun 1707, dan agrikulturis Prancis Olivier de Serres mencatat bahwa memindahkan miselium jamur dapat memperbanyak hasil panen. Pada masa awal, budidaya sangat tidak stabil karena petani jamur harus mengamati pertumbuhan alami di ladang sebelum menggali dan memindahkan miseliumnya ke bedengan kompos pupuk kandang, sebuah metode yang sering membawa patogen dan menyebabkan gagal panen. Baru pada tahun 1893, Institut Pasteur di Paris berhasil menemukan dan memproduksi bibit jamur steril atau kultur murni untuk dibudidayakan pada pupuk kuda yang dikomposkan.

Varietas komersial modern dari jamur ini awalnya berwarna cokelat terang. Jamur putih baru ditemukan pada tahun 1925 tumbuh di antara bedengan jamur cokelat di Keystone Mushroom Farm, Coatesville, Pennsylvania. Louis Ferdinand Lambert, pemilik ladang tersebut yang juga seorang mikolog, membawa jamur putih ini ke laboratoriumnya dan mengembangkannya lebih lanjut. Karena dianggap lebih menarik sebagai bahan pangan, jamur putih ini kemudian dibudidayakan dan didistribusikan secara luas; hampir semua jamur berwarna krem yang dijual di toko saat ini merupakan keturunan dari mutasi alami tahun 1925 tersebut. Kini, Agaricus bisporus dibudidayakan di setidaknya tujuh puluh negara di dunia.

Fakta Menarik

  1. Jamur kancing, cremini, dan portobello yang tampak seperti produk berbeda di pasar sebenarnya adalah tahap pertumbuhan atau varian warna dari spesies yang sama, Agaricus bisporus.
  2. Selain sebagai bahan pangan, jamur ini juga dapat membantu mengurai kontaminan dalam air limbah melalui proses penguraiannya secara alami.
  3. Jamur ini dianggap memiliki sifat antimikroba dan antioksidan, menjadikannya subjek penelitian medis di luar perannya sebagai makanan.
  4. Warna krem yang umum dijumpai pada jamur kancing komersial berasal dari satu mutasi alami tunggal yang ditemukan di sebuah ladang jamur di Pennsylvania pada tahun 1925.

Ekologi

Habitat

  • Kawasan Berhutan
  • Padang Rumput
  • Tanah Terganggu

Foto

15 foto
1 / 15
Jamur berwarna putih hingga cokelat pucat dengan tudung bulat, insang cokelat tua, dan batang pendek berdiri di atas tanah gemburFoto: via iNaturalist, licensed under CC0 1.0., CC0

SumberGBIFiNaturalistWikidataWikipedia