Paphiopedilum rothschildianum mekar dengan tangkai bunga tinggi yang dapat menghasilkan hingga enam bunga besar, masing-masing berukuran antara 13 hingga 33 sentimeter. Spesies ini juga dikenal sebagai anggrek Emas Kinabalu, dan menjadi satu-satunya anggota kelompok Corypetalum yang menahan kelopaknya hampir mendatar, memberikan penampilan yang sangat khas dibandingkan anggrek sepatu lainnya.
Tumbuhan ini termasuk dalam famili Orchidaceae dan berstatus Kritis menurut IUCN. Musim mekar utamanya berlangsung antara bulan April dan Mei. Kelangkaannya, dipadukan dengan bentuk bunga yang unik, membuat spesies ini menjadi salah satu anggrek yang paling dicari oleh kolektor di seluruh dunia.
Identifikasi dan Penampilan
Ciri paling mencolok dari Paphiopedilum rothschildianum adalah kelopak bunganya yang panjang dan hampir mendatar, berbeda dari pola menggantung yang lazim pada anggrek sepatu lain. Daunnya berwarna hijau bersih dan tidak berbintik, tumbuh memanjang dan tegak dari pangkal tanaman.
Bunga tumbuh pada tangkai yang menjulang tinggi, dengan setiap tangkai mampu menghasilkan hingga enam kembang sekaligus. Ukuran satu bunga bisa mencapai 13 hingga 33 sentimeter, menjadikannya salah satu bunga anggrek terbesar dalam genusnya.
Distribusi dan Habitat
Paphiopedilum rothschildianum hanya ditemukan di hutan hujan sekitar Gunung Kinabalu di Kalimantan Utara, pada ketinggian antara 500 dan 1.200 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini umumnya tumbuh sebagai tumbuhan terestrial di tanah ultramafik, tetapi juga dapat dijumpai sebagai litofit yang tumbuh di serasah daun pada tebing ultramafik, biasanya di dekat aliran sungai.
Spesies ini merupakan bagian dari kelompok besar anggrek endemik Pulau Kalimantan, khususnya di kawasan Taman Kinabalu, yang dicirikan oleh tanah ultramafik kaya unsur seperti kromium, kobalt, dan nikel. Kondisi tanah khusus ini mendorong evolusi banyak tumbuhan endemik lain di kawasan tersebut, meski Paphiopedilum rothschildianum sendiri tidak sepenuhnya terbatas pada tanah jenis ini.
Pola pengamatan menunjukkan kemunculan yang lebih sering pada bulan-bulan awal hingga pertengahan tahun, sejalan dengan musim mekar utamanya, meski data pengamatan semacam ini hanya menunjukkan keberadaan, bukan jumlah populasi sesungguhnya.

Pertumbuhan dan Bentuk
Paphiopedilum rothschildianum tumbuh sebagai tumbuhan terestrial, dan terkadang sebagai litofit, di lingkungan yang hangat hingga sejuk. Tanaman ini tergolong relatif mudah dibudidayakan, tetapi membutuhkan waktu sekitar 4 hingga 5 tahun untuk berbunga, dan periode ini bisa lebih lama jika ditanam di tempat yang terlalu ternaung.
Pada musim panas, suhu optimal bagi pertumbuhannya berkisar antara 28 dan 29 derajat Celsius pada siang hari, serta 16 hingga 17 derajat Celsius pada malam hari. Di musim dingin, kisaran suhu optimalnya sedikit lebih rendah, yaitu 26 hingga 27 derajat Celsius pada siang hari dan 15 hingga 17 derajat Celsius pada malam hari.
Fluktuasi suhu yang signifikan antara siang dan malam justru menguntungkan bagi tanaman ini, karena mencerminkan kondisi alami di kawasan Gunung Kinabalu tempat spesies ini beradaptasi. Karena sering tumbuh sekitar 6 hingga 12 meter di atas aliran sungai, kelembapan udara yang tinggi juga menjadi kebutuhan penting bagi pertumbuhannya di luar habitat aslinya.
Reproduksi dan Siklus Hidup
Bunga Paphiopedilum rothschildianum memiliki kelopak berwarna hijau dengan bintik-bintik merah yang menyerupai kutu daun. Pola ini menarik lalat parasit yang biasanya bertelur pada kutu daun tersebut, sehingga tertipu untuk mendekati bunga.
Saat lalat menyentuh putik, serbuk sari yang sebelumnya menempel di tubuhnya akan tergosok dan berpindah, sementara serbuk sari baru dari kepala sari menempel padanya. Proses ini memungkinkan penyerbukan terjadi melalui peniruan visual, bukan melalui aroma atau nektar sebagai umpan.
Fakta Menarik
- Dalam sebagian tradisi masyarakat Semenanjung Malaysia, keberadaan anggrek langka seperti Paphiopedilum rothschildianum dikaitkan dengan kehadiran roh pelindung hutan, sehingga sebagian warga setempat memperlakukannya dengan penuh penghormatan.
- Perbanyakan Paphiopedilum rothschildianum melalui kultur in vitro pernah diteliti sebagai upaya untuk mendukung kelestarian spesies langka dan terancam ini.
Foto
Foto dari by Gold eagle Kroll via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Dr. Alexey Yakovlev via iNaturalist, licensed under CC BY 4.0., by Ong Jyh Seng via iNaturalist, licensed under CC BY-SA 4.0., by Felix González via Wikimedia Commons, licensed under CC0 1.0., by Dick Culbert from Gibsons, B.C., Canada via Wikimedia Commons, licensed under CC BY 4.0., by sunoochi from Sapporo, Hokkaido, Japan via Wikimedia Commons, licensed under CC BY 4.0., by Motohiro Sunouchi via Wikimedia Commons, licensed under CC BY 4.0., by No machine-readable author provided. Gaurav1146 assumed (based on copyright claims). via Wikimedia Commons, licensed under CC BY-SA 4.0., by Orchi via Wikimedia Commons, licensed under CC BY-SA 4.0., by Silk666 via Wikimedia Commons, licensed under CC BY-SA 4.0., by Bernard DUPONT from FRANCE via Wikimedia Commons, licensed under CC BY-SA 4.0., by Naoki Takebayashi from Fairbanks, AK, USA via Wikimedia Commons, licensed under CC BY-SA 4.0., by 阿橋 HQ via Wikimedia Commons, licensed under CC BY-SA 4.0., by Krzysztof Ziarnek, Kenraiz via Wikimedia Commons, licensed under CC BY-SA 4.0., dan by Sdkb via Wikimedia Commons, licensed under CC BY-SA 4.0., dengan kredit pada setiap foto.
Ekologi dan klasifikasi
Klasifikasi
- Filum
- Tracheophyta
- Kelas
- Liliopsida
- Ordo
- Asparagales
- Famili
- Orchidaceae
- Genus
- Paphiopedilum
- Spesies
- Paphiopedilum rothschildianum
Sumber
- GBIF Species names and classification
- iNaturalist Photos
- Wikidata Common names and conservation status
- Wikipedia Summary extract
- Wikimedia Commons Photos



